Baleganjur “WOS” PKB ke-44: Lahir dari Transformasi Gelombang Air

Penampilan garapan Baleganjur "WOS" Sanggar Chandra Nada, Yowana Desa Adat Padangtegal, Ubud pada PKB ke-44. (Balinesia.id/istimewa)

Denpasar, Balinesia.id – Sanggar Chandra Nada, Yowana Desa Adat Padangtegal, Ubud menyajikan garapan baleganjur berjudul “Wave of Springs (WOS)” dalam gelaran Wimbakara (Lomba) Baleganjur Remaja, Selasa, 14 Juni 2022. 

Duta Kabupaten Gianyar ini tampil langsung di Panggung Terbuka Ardha Candra Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, tapi penampilannya juga dapat disaksikan di kanal YouTube Disbud Prov. Bali, meski ada sejumlah kendala teknis akibat hujan.

Konseptor garapan, I Wayan Sudirana mengatakan garapan “Wave of Springs (WOS)” merupakan respons penyaji terhadap tema PKB ke-44 “Danu Kerthi: Huluning Amreta”. Inspirasinya pun tidak jauh-jauh dari bentang alam sekitar mereka, yakni Sungai Wos yang membentang mengaliri Ubud.

Baca Juga:

“Wos adalah salah satu sungai penting yang mengaliri Ubud, berhulu di Ranu Batur sarat dengan nilai-nilai filosofis dan piritual terkait dengan perjalanan Sang Maha Yogi Rsi Markandya. Dari kata Wos itu kemudian ditafsir dengan Wave of Springs,” katanya.

Secara literal, WOS mengacu pada pengolahan sumber gelombang air. Arah penciptaanya berpijak pada transformasi tematik tetesan, aliran, percikan, gelembung, dan gelombang air menjadi bunyi-bunyi teratur dalam bingkai komposisi dengan media gamelan baleganjur.

“Pemanfaatan media ungkap sebagai output utama pertunjukan dimaksimalkan dengan melepas beban-beban budaya yang melekat pada gamelan baleganjur untuk mencari jati diri baru dalam konteks kekinian. Kebiasaan fungsional instrumen yang secara konvensional pada jalurnya digarap berbeda dengan cara pandang dan teknik garap yang baru,” ucapnya.

Dikatakan, WOS menjadi pondasi dalam penggarapan baleganjur baru dengan menggunakan pendekatan musik tematis. Garapan ini menempatkan pengolahan bunyi absolut sebagai titik sentral kredo penciptaan. “Gelombang tematik air Wos digelorakan melalui sublimasi pengorganisasian musik terstruktur. WOS juga diangkat sebagai arah penciptaan berpijak pada transfromasi tematik gelombang WOS ke dalam bahasa dan gramatikal musik,” kata dia.

Formulasi penggarapannya merupakan interelasi antar instrumen dengan kinerja yang inkonvensional. Aplikasi sistem vertikal dan horizontal sebagai material komposisi serta kebebasan dalam bingkai, sehingga mengartikulasi sifat gelombang maupun air ke dalam sistem musikal.

Baca Juga:

“Dimensi metafora gelombang, siklus, campuhan dan deburan WOS menjadi ‘cawan’ terangkainya pola-pola, meter, koordinat, layer, dan level musikal secara terukur, terarah dan sistematis. Baleganjur WOS mempresentasikan secara total artifisial bunyi absolut melalui intepretasi tematik pemuliaan air,” ucapnya.

Baleganjur WOS hadir dengan visi inkonvensional dalam konteks teknik, artikulasi, pengolahan bunyi/timbre, strukur dan gramatikal musical. Misinya adalah untuk menghadirkan sesuatu yang baru adalah sebuah prinsip dalam memperkaya esensi komposisi baleganjur di masa depan.

“Prinsip ini dilandasi atas penggalian dan pengembangan kembali terhadap bentuk-bentuk gending baleganjur klasik seperti bebonangan, peponggangan dan bebatelan. Cara kerja gending klasik tersebut dipahami secara tuntas dari segi teknik dan khususnya sistem kerja komposisi, sehingga dalam konteks kreativitas hal itu digunakan sebagai bahan olahan menuju bentuk reintepretasi baru,” katanya.

Baca Juga:

Menghindar dari pola-pola baleganjur yang telah terpolarisasi dalam balutan popularistik menuju bentuk-bentuk yang belum terjemah sehingga esensi komposisi Baleganjur dapat bergerak seiring dengan perjalanan waktu.

Sudirana melanjutkan, aktualisasi segala proses penciptaan WOS disusun dengan memikirkan arah bunyi, makna, dan sasaran yang dituju. Karya ini merupakan ungkapan kreativitas dan gerakan pembaharuan dalam ranah baleganjur guna memproyeksikan musik masa depan baleganjur sekarang.

“Tetesan, gelombang, perputaran/siklus, campuhan, dan deburan menjadi bahan sintesa bunyi yang disusun secara terstruktur dengan memikirkan interelasi antar instrumen. Komposisi yang digarap mengaplikasikan sistem vertikal dan horizontal serta memberi cara pandang baru terhadap sistem orkestrasi baleganjur itu sendiri,” jelasnya.

Melalyi karya tersebut pihaknya juga mencoba menghadirkan warna suara yang berbeda dengan melakukan serangkaian proses eksplorasi terhadap teknik permainan, instrumentasi, dan teknik garap. “Dalam usaha memproyeksikan masa depan musik baleganjur, eksplorasi semacam ini  kiranya sangat perlu untuk di perjuangkan. Maka dari itu adanya teknik permainan yang unconventional (tidak biasa) seperti ini perlu mendapatkan perhatian lebih, dipahami, dan didalami secara intramusikal sebagai jalan menemukan esensi bunyi yang telah dirangkai secara serius,” kata dia. jpd

 

Editor: E. Ariana

Related Stories