Trader Sebut Ketidakpastian Makroekonomi Pengaruhi Trend Pasar Kripto di Indonesia

Ilustrasi Mata Uang Kripto / Pixabay.com

(Pixabay.com)

Jakarta, Balinesia.id -  Tren positif yang sedang berlangsung di pasar kripto saat ini belum bisa dipastikan apakah akan bertahan lama atau tidak karena dipengaruhi ketidakpastian makroekonomi.

"Pasar dan aktivitas para pelaku pasar masih dibayangi oleh ketidakpastian makroekonomi seperti tingkat inflasi, kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed), dan potensi resesi," ungkap Trader Tokocrypto Afid Sugiono, dalam keterangan Tokocrypto, Jumat, 20 Mei 2022.

Tren positif yang sedang berlangsung di pasar kripto saat ini belum bisa dipastikan apakah akan bertahan lama atau tidak. Pasalnya, masih ada beberapa kondisi yang menimbulkan ketidakpastian pada tren di pasar aset digital ini.

Afid Sugiono menilai, dampak dari tragedi dua kripto Terra (LUNA dan UST) memang akan memperlambat antusiasme terhadap kripto, tetap tidak dalam jangka panjang.

Diketahui, menjelang minggu terakhir di bulan Mei 2022, pasar kripto mulai mengalami pemulihan dan beberapa aset pun sudah memasuki zona hijau. Namun, apakah pemulihan ini akan bertahan lama atau hanya berlaku sementara?

Dari pantauan Coin Market Cap, Jumat, 20 Mei 2022 pukul 17.00 WIB, Bitcoin (BTC), aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar di seluruh dunia, mengalami kenaikan 4,45% dalam 24 jam terakhir dan saat ini menyentuh level harga US$30.275 atau setara dengan Rp443,86 juta dalam asumsi kurs Rp14.661 perdolar Amerika Serikat (AS).

Mayoritas aset kripto di jajaran 100 besar pun sudah terlihat berada di zona hijau. Bahkan, Terra (LUNA) yang beberapa waktu lalu sempat mengalami kemerosotan harga yang cukup tajam pun mengalami kenaikan 8,7%.

Dilihat dari sisi teknikal, saat ini para pelaku pasar tampak sedang kembali melancarkan aksi beli setelah sejumlah aset kripto mengalami oversold. Kondisi itu memperlihatkan potensi kenaikan untuk harga aset-aset kripto.

Ia memberi contoh pergerakan Bitcoin yang sudah oversold setelah mengalami pergerakan downtrend yang signifikan dan berlangsung selama berhari-hari.  Saat ini, level support Bitcoin berada di kisaran harga US$27,5 ribu (Rp403,17 juta) dan resistance-nya berada di area US$35 ribu (Rp513,13 juta) untuk bull run.

Meski sudah terlihat ada pergerakan positif di pasar kripto, namun Afid mengingatkan bahwa bukan berarti sentimen di pasar kripto sudah sepenuhnya stabil.

Investor khawatir pelemahan ekonomi global ke depan bisa berujung pada resesi. Dampaknya, daya beli masyarakat menurun.

"Bank sentral berbagai negara bakal mengerek suku bunga acuannya dengan agresif demi menangkal inflasi. Namun, jika itu terjadi, maka pertumbuhan konsumsi dan investasi bisa terhambat," paparnya/

Jika kondisi resesi dan inflasi menunjukkan situasi yang semakin parah, maka sentimen negatif pun akan mendorong para investor untuk mengalihkan uangnya dari pasar modal ke aset yang lebih aman.

"Dalam jangka panjang, permintaan kripto terutama stablecoin sebagai instrumen investasi dan lindung nilai terhadap inflasi fiat akan terus tumbuh," kata Afid Sugiono.*** 

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.com oleh Idham Nur Indrajaya pada 20 May 2022 


Related Stories