Siap Songsong Indonesia Emas, Bali Satu-satunya Provinsi dengan Prevalensi Stunting Satu Digit

Kepala Perwakilan BKKBN Bali, Ni Luh Gede Sukardiasih (kiri) dan Sekretaris Perwakilan BKKBN Bali, I Made Arnawa (kanan) merilis SSGI Provinsi Bali tahun 2022 di Denpasar, Kamis, 2 Februari 2023. (Balinesia.id/jpd)

Denpasar, Balinesia.id – Provinsi Bali siap menyongsong Indonesia Emas 2045 dengan sumber daya manusia berkualitas. Kesiapan ini setidaknya ditunjukkan dengan kembali berhasilnya Bali menurunkan prevalensi stunting sebesar 2,9 persen pada tahun 2022.

Sebagaimana telah diberitakan, Presiden Joko Widodo telah menarget penurunan angka prevalensi stunting nasional  ke angka 14 persen pada tahun akhir masa jabatannya di tahun 2024. Jika merujuk angka 14 persen itu, pada tahun 2021 Bali sesungguhnya sudah melampaui target Jokowi, di mana prevalensi Bali hanya 10,9 persen.

Namun, Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Bali bersama seluruh elemen pendukung penanggulangan stunting tampaknya tidak mau berpuas diri di angka 10,9 persen. Pada 2022 upaya pengentaskan stunting terus digenjot hingga akhinya berhasil turun ke 8,0 persen.

“Kita patut bersyukur dan mengucapkan terima kasih atas kerja keras semua elemen. Data SSGI 2022 mencatatkan bahwa secara nasional Indonesia berhasil menurunkan prevalensi stunting sebesar 2,8 persen dari 24,4 persen (2021) menjadi 21,6 persen (2022). Bali juga mengalami penurunan, tepatnya sebesar 2,9 persen dari 10,9 persen (2021) jadi 8,0 persen (2022),” kata Kepala Perwakilan BKKBN Bali, Ni Luh Gede Sukardiasih didampingi Sekretaris Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, I Made Arnawa di Kantor Perwakilan BKKBN Bali, Denpasar, 2 Februari 2022.

Baca Juga:

Ia menjelaskan, dengan prevalensi stunting 8,0 persen, maka prevalensi stunting Provinsi Bali adalah yang terendah di seluruh Indonesia serta menjadi satu-satunya yang berhasil mencapai satu digit. 

Sebagai perbandingan lima provinsi dengan angka stunting terendah, capaian Bali terbilang sangat baik. Menurut buku Status Gizi SSGI 2022 yang dikeluarkan bulan Desember 2022, DKI Jakarta yang merupakan provinsi dengan angka stunting terendah kedua baru berhasil membukukan prevalensi stunting sebesar 14,8 persen, disusul Lampung sebesar 15,2 persen,  Kepulauan Riau sebesar 15,4 persen, dan DI Yogyakarta sebesar 16,4.

Sementara itu, lima provinsi dengan prevalensi stunting tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur sebesar 35,3 persen, Sulawesi Barat sebesar 35,0 persen, Papua sebesar 34,6 persen, Nusa Tenggara Barat dengan 32,7 persen, dan Aceh dengan 31,2 persen.

“Meskipun kita mengalami penurunan, jadi 8 persen, tetapi masih ada disparitas. Masih ada perbedaan antara satu kabupaten/kota dengan yang kabupaten/kota lainnya. Dua kabupaten, yakni Jembrana dan Buleleng juga masih tinggi,” katanya.

Baca Juga:

Menurut data pihaknya, ada lima kabupaten di Bali yang memiliki prevalensi stunting di atas rata-rata Provinsi Bali yakni Jembrana (14,2 persen), Buleleng (11,0 persen), Karangasem (9,2 persen), Bangli (9,1 persen), dan Tabanan (8,2 persen). Sementara itu, Klungkung mencatat sebesar 7,7 persen, Badung sebesar 6,6 persen, Gianyar sebesar 6,3 persen, dan Kota Denpasar sebesar 5,5 persen.

“Secara umum tujuh kabupaten/kota di Bali mengalami penurunan, namun Buleleng dan Gianyar mengalami kenaikan, Buleleng naik 2,1 persen dari 8,9 persen pada 2021 sedangkan Gianyar naik 1,2 persen dari 5,1 persen pada 2021,” jelasnya.

Terkait dengan disparitas dan adanya kenaikan di dua kabupaten dimaksud, Luh De mengatakan pihaknya akan terus bergerak dan memaksimalkan audit untuk mengurai persoalan tersebut. “Kita akan terus bekerja hingga Bali bebas stunting seperti yang diharapkan oleh Bapak Gubernur (Bali), Wayan Koster,” terangnya. jpd

Editor: E. Ariana

Related Stories