Relief Jaya Pangus di Goa Jepang Penelokan Tidak Berdasar Kajian Sejarah

Objek Goa Jepang Penelokan, Kintamani, Bangli yang sedang ditata oleh Pemerintah Kabupaten Bangli. (Balinesia.id/oka)

Bangli, Balinesia.id – Pemerintah Kabupaten Bangli melalui Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Perumahan dan Permukiman (PUPR Perkim) Bangli melakukan penataan objek wisata Penelokan, Kintamani, Bangli. Ada dua objek yang ditata dalam proyek tersebut, antara lain Anjungan Penelokan dan Goa Jepang yang akan dihias dengan relief cerita Jaya Pangus-Kang Cing Wie.

Namun, penataan relief Goa Jepang yang notebene menghadirkan tokoh sejarah itu tidak berdasarkan kajian sejarah. Kabid Ciptakarya Dinas PUPR Perkim Bangli, I Komang Putra Adnyana, Jumat, 4 November 2022 menerangkan relief tersebut bukan sebagai autentisitas sejarah, melainkan hanya ekspresi seni untuk memperindah kawasan tersebut. 

“Relief itu bukan autentisitas sejarah. Sebenarnya salah satu tujuan utama adalah menata kawasan Penelokan. Sebenarnya yang membidangi di sana adalah Dinas Pariwisata (dan Kebudayaan), namun kami di (Dinas) PU yang menangani infrastruktur, kami yang mengerjakan,” katanya.

Baca Juga:

Ia mengatakan proyek penataan objek wisata Penelokan terdiri dari dua jenis, yakni penataan anjungan di sebelah timur jalan dan bagian barat jalan terdiri dari penataan objek Goa Jepang. “Bagian Goa Jepang seperti kondisinya tempatnya strategis, namun sudah banyak longsor. Nah, sekalian penataan, satu kami perkuat, kedua kami coba tampilkan dengan seni di Bali. Begitulah. Artinya, isi ukiran, begitulah. Satu, pola ukiran di goa itu kami tidak ingin seperti (ukiran) yang di mana. (Relief) itu improvisasi seni,” kata dia.

Putra Adnyana menjelaskan, relief Jaya Pangus-Kang Cing Wie itu ditatah dalam lima panel yang disisipkan di antara goa tinggalan masa colonial itu. Kisahnya merujuk pada “romansa” Jaya Pangus-Kang Cing Wie yang diakhiri dengan “kutukan” Dewi Danuh terhadap keduanya menjadi barong landung.

Berdasarkan data sketsa yang diterima Balinesia.id, panel pertama menunjukkan episode Raja Jaya Pangus di singgasananya (blok pertama) dan gambaran kedatangan orang China dan melakukan interaksi dengan orang lokal (blok kedua). Panel kedua menunjukkan gambaran raja dengan permaisurinya yang dihadap oleh para abdi (blok pertama) dan raja yang dihadap oleh pendeta kerajaan yang tampaknya berupaya menggambarkan selisih paham Jaya Pangus dan Mpu Siwagandu (blok kedua).

Panel ketiga menunjukkan sosok raja dan putri China yang dihadap rakyat (blok pertama) dan adegan yang tampaknya menggambarkan pernikahan Jaya Pangus-Kang Cing Wie (blok kedua). Panel keempat tampak menggambarkan pertapaan Jaya Pangus (blok pertama) dan sepasang sosok berikonografi dewa menimang seorang anak yang tampaknya menggambarkan kelahiran Maya Danawa dari pernikahan Jaya Pangus dan Dewi Danuh (blok kedua).

Terakhir, panel kelima tampaknya menampilkan gambaran selisih paham sosok Jaya Pangus, Kang Cing Wie, dan Dewi Danuh (blok pertama) dan penampilan citra sepasang barong landung akibat kutukan Dewi Danuh (blok kedua).

“Dari bidang yang terbatas, apa sih yang akan kita pahat di sana, artinya supaya juga menggali potensi yang di sana. Kalau dibilang sebagai autentisitas sejarah, tidak, yang saya lihat adalah akulturasinya, uniknya, kan demikian ya. Artinya, seperti ada kelenteng di Pura Batur, juga tamu-tamu di sana juga banyak dari saudara-saudara kita dari China. Apa yang ada di sana adalah informasi yang ada kaitannya dengan akulturasi. Itu adanya di cerita Jaya Pangus,” katanya.

Baca Juga:

Meskipun mengangkat tokoh sejarah yang eksis dalam banyak prasasti tinggalan era Bali Kuno itu, Putra Adnyana menegaskan pihaknya tidak merunut data sejarah. Mereka memilih untuk lebih menekankan nilai akulturasi yang tergambar dalam kisah tersebut. Ke depan pihaknya juga akan menyiapkan barcode yang memuat narasi yang lebih lengkap dan autentik.

“Kami bukan mangautentisitaskan sejarah autentik, tapi paling tidak ada gambaran unik yang nantinya oleh para tour guide bisa diceritakan lebih jauh. Biar ada konten, sesuatu yang bisa diceritakan sebagai keunikan. Kalau Penyajian kontennya kami punya juru buat, dari segi pelaksanaan tetap meminta pandangan, bagaimana kira-kira. Tapi, kalau mengautentisitaskan cerita sesuai kajian sih tidak,” pungkasnya. 

 

Disparbud Sebut Tidak Ada Koordinasi Konten

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Bangli, I Wayan Sugiarta, mengatakan bahwa konten yang dipahat pada relief Goa Jepang Penelokan tidak melalui koordinasi dengan pihaknya. Sepengetahuannya, penataan Goa Jepang adalah proyek fisik yang ditangani penuh oleh Dinas PUPR Perkim Bangli.

“Kami terkait tentang pariwisata secara umum, tapi untuk teknis penataan anjungan dan Goa Jepang jadi kewenangan Dinas PUPR,” katanya.

Terkait dengan narasi relief yang dibuat pada objek tersebut, pihaknya berharap ke depan perlu ada sosialisasi dan penguatan referensi yang tegas. “Cerita kan banyak versi, semestinya pihak-pihak yang memahami itu, termasuk dari kebudayaan, diajak duduk bersama, sehingga menjadi sebuah relief bertutur. Saya tidak tahu narasi yang diangkat, yang saya tahu secara umum adalah penataan Goa Jepang dan anjungan. Perencanaan ada di dinas PUPR, tapi menurut saya referensi harus kuat, apa yang dibayangkan dan didengar dari orang tua, itu yang digunakan,” kata dia. jpd

Editor: E. Ariana

Related Stories