Luar Biasa, Kinerja BRI Di Tangan Duet Sunarso-Catur Catatkan Laba Bersih Rp51,4 Triliun

Bank BRI (TrenAsia.com)

Jakarta, Balinesia.id- Ekonom Konstitusi Defiyan Cori melontarkan ungkapan cukup fantastis dan luar biasa (atau kata sejenis lainnya), untuk menggambarkan kinerja salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor perbankan, yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI) di bawah duet Sunardso-Catur.

Mengacu pada laporan keuangan tahunan perseroan yang dipublikasikan, BRI berhasil mencatatkan laba bersih Rp51,4 triliun selama periode 2022, atau melesat 67,15 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Dengan beban penugasan dari pemerintah sesuai ketentuan Pasal 66 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN, maka capaian laba BRI ini tentu tak lepas dari perencanaan strategis yang telah disusun secara matang, komprehensif, terukur dan realistis dalam menghadapi tantangan perekonomian nasional, regional dan internasional.

Walaupun demikian, kata Defiyan Cori, betapapun bagus dan menariknya sebuah perencanaan stategis suatu korporasi tetap yang lebih memegang peranan penting adalah orang yang berada dibelakang senjatanya (the man behind the gun).

Kata dia, sosok Direktur Utama (Dirut) Sunarso dan Wakil Dirut Catur Budi Harto lah yang telah mangkus (efektif dan efisien) memimpin pengelolaan BRI tersebut.

Kinerja duet ini cukup mengejutkan publik dan kelihatan tanpa riak berarti dalam menjalankan manajemen strategi perusahaan perbankan yang dipimpin mereka jauh melampaui capaian kinerja kolega mereka BUMN perbankan lainnya, seperti BNI, Bank Mandiri dan BTN. 
 

Lantas, apa yang membuat duet ini berhasil melakukan berbagai perbaikan dan perubahan pada BRI yang berkantor di bilangan semanggi, Jakarta Pusat itu.?

Kekuatan Program Inklusi

BRI pertama kali tercatat sebagai emiten di BEI (berkode BBRI) pada 10 November 2003 melalui penawaran saham perdana yang dijual dengan harga Rp875/ lembar saham. Setelah itu, BRI juga pernah melakukan stock split sebanyak dua kali lagi, yaitu pada Januari 2011 dan November 2017, sehingga harga sahamnya saat ini telah meningkat lebih dari 54 kali jika dibandingkan dengan harga pada saat IPO.

Dijelaskan Defiyan, atas perkembangan IPO itu, ternyata BRI mampu memberikan kontribusi terbaiknya bagi Negara dibandingkan BUMN lain yang telah IPO tetapi justru berkinerja buruk.

Tidak dapat dipungkiri, diantara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor industri perbankan atau yang tergabung dalam Himpunan bank-bank milik Negara (Himbara), maka PT. Bank Rakyat Indonesia (BRI) adalah jawaranya.

Betapa tidak, kinerja BRI selama 7 (tujuh) tahun terakhir sangat positif sehingga mampu meningkatkan nilai sahamnya di pasar Bursa Efek Indonesia (BEI). Perolehan laba yang berhasil dibukukan oleh BRI tidak dapat ditandingi oleh kelompok Himbara lainnya.

Rata-rata perolehan laba yang berhasil dicapai oleh BRI selama enam tahun (sejak 2015) terakhir adalah Rp18-35 Triliun, dengan perolehan terendah pada Tahun 2020 sebesar Rp18,65 Triliun, sedang Bank Mandiri hanya mencatatkan laba sejumlah Rp17,1 Triliun.


Begitu pula halnya dengan kredit macet (Non Performing Loan/NPL) nya rata-rata sebesar 2 persen, berbanding BNI dan Bank Mandiri yang mencapai rata-rata 3 persen.

Sebelum duet Sunarso dan Catur menjabat, laba BRI berkisar rata-rata pada angka Rp15-30 triliun (tahun 2015-2018).

"Setelah keduanya resmi menjabat kursi Dirut dan Wadirut BRI pada September 2019 langsung menorehkan capaian laba tahunan sejumlah Rp34,41 triliun," sebutnya. Selain itu, BRI juga menempati urutan kedua setelah Bank Mandiri dalam kinerja jumlah alokasi dan pertumbuhan kredit.

Pada Tahun 2015 BRI hanya berhasil mencapai jumlah alokasi kredit sejumlah Rp558,4 Triliun, sementara Bank Mandiri mencapai  Rp595,5 Triliun, sedangkan Tahun 2016 Rp635,3 Triliun dan Rp662 Triliun.

Selanjutnya, pada tahun 2022 BUMN ini berhasil mencatat total kredit dan pembiayaan BRI Group sejumlah Rp1.139,08 triliun atau meningkat hampir 30% dibanding tahun 2019 yang hanya mencapai Rp908,88 triliun, pada saat duet pimpinan eksekutif bank rakyat Indonesia tersebut baru menerima amanah.

Kelompok (segmen) Usaha Menengah Kecil dan Mikro (UMKM) merupakan entitas dengan perolehan kredit terbesar, yaitu sejumlah Rp 965,30 triliun atau 84,74% dari portofolio kredit. Bahkan, saat duet ini pertama kali menerima tongkat estafet kepemimpinan BRI, NPL-nya masih diatas 2 persen, yaitu 2,8 persen. Dan, pada tahun 2022 NPL ini berhasil dikendalikan dengan baik sehingga hanya mencapai 2,67 persen saja.

Lalu, apa sebenarnya yang membuat kinerja korporasi BUMN milik rakyat ini begitu cemerlang, tidak lain adalah kemampuan duet Sunarso dan Catur mengkonsolidasikan beberapa program pro rakyat, khususnya usaha kecil dan mikro. BRI juga terus mendukung program inklusi keuangan secara konsisten, salah satunya dengan cara kemudahan akses layanan masyarakat melalui agen BRILink yang menjangkau sampai pelosok desa.

Lanjut Defiyan Cori, sampai dengan akhir Desember 2022, tercatat BRI memiliki 627 ribu Agen BRILink, dibandingkan pada tahun 2020 berjumlah 504.233 unit, sementara akhir Desember tahun 2021 lalu jumlah Agen BRILink tercatat sejumlah 540 ribu Agen.

"Artinya, tingkat peminat agen BRILink apabila di rata rata dalam setahun, per harinya terdapat 240 orang yang bergabung menjadi AgenBRILink," sebutn Defiyan Cori.

Dengan melihat data perkembangan ini, maka keberhasilan duet Sunarto-Catur ini setidaknya didukung oleh kesolidan kerja tim manajemen (team work) mereka dan dukungan penuh para staf.

Selain itu, konsistensi BRI dalam menjaga pangsa pasar tradisional perdesaan sehingga memacu pertumbuhan kredit dan menjaga NPL dibawah 3 persen. Ditambah lagi oleh ramuan program inklusi layanan yang dimulai sejak tahun 2014 semakin memperkokoh jati diri korporasi sebagai perbankan rakyat.

Oleh karena itulah, BRI mampu mengalahkan BCA sebagai bank swasta terbesar dengan total harta kekayaan (asset) yang tumbuh angka berganda (double digit) sebesar 11,18% menjadi Rp1.865,64 triliun pada tahun 2022 atau terdapat peningkatan sejumlah Rp448, 84 atau juga naik sebesar kurang lebih 30 persen.

Peningkatan ini dicapai setelah tiga (3) tahun keduanya ditunjuk oleh Menteri BUMN sebagai Dirut dan Wadirut yang saat itu jumlah harta kekayaan (asset) masih sejumlah Rp1.416,8 triliun.

"Last but not least, selamat atas keberhasilan pencapaian kinerja yang luar biasa ini Pak Dirut dan Wadirut, semoga menjadi duet yang menginspirasi dewan manajemen BUMN lainnya," ucap ekonom konstitusi alumnus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini.

Lebih dari itu, sebagai mandat konstitusi ekonomi Pasal 33 UUD 1945, masyarakat berharap BRI terus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran orang banyak. ***

Editor: Rohmat

Related Stories