Bank Indonesia Minta Pemda Waspadai Tekanan Inflasi Akibat Risiko Rendahnya Pasokan Komoditas Pangan di Bali

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho

Denpasar, Balinesia.id - Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho meminta pemerintah provinsi kabupaten dan kota mewaspadai tekanan inflasi di Provinsi Bali seiring risiko rendahnya pasokan komoditas pangan.

Memasuki bulan Januari 2023, sesuai pola historis, tekanan inflasi di Provinsi Bali perlu diwaspadai seiring risiko rendahnya pasokan komoditas pangan.

Menurut Trisno Nugroho, pasokan berbagai komoditas bisa terganggu akibat tingginya curah hujan dan gelombang laut yang masih tinggi.

"Di sisi lain kedatangan hari raya Galungan dan Kuningan pada Januari 2023 juga berpotensi menyebabkan kenaikan permintaan untuk komoditas canang sari, daging babi, daging ayam, dan buah-buahan," tuturya.

Untuk Inflasi volatile food atau kelompok pangan bergejolak di Provinsi Bali terutama disebabkan kenaikan harga beras, cabai rawit, tomat, dan telur ayam ras.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho mengungkapkan, kenaikan harga beras sesuai dengan pola musiman seiring dengan berakhirnya musim panen.

Kemudian, kenaikan harga cabai dan tomat disebabkan menurunnya produktivitas akibat tingginya curah hujan.

"Kenaikan harga telur ayam ras terjadi akibat peningkatan permintaan," tuturnya dar keteragnhan tertuls, Selasa (3/1/2023).

Selanjutnya, kelompok core inflation mengalami inflasi 0,18% ( mtm) melambat dibandingkan bulan November sebesar 0,42% (mtm).

Trisno Nugroho melanjutkan, tekanan inflasi pada kelompok core inflation terutama bersumber dari kenaikan harga emas seiring kenaikan harga emas dunia.

Untuk kenaikan harga canang sari seiring dengan kenaikan permintaan untuk upacara keagamaan, dan kenaikan harga nasi beserta lauk akibat kenaikan harga beras dan telur ayam.

Pemerintah Provinsi Bali diminta mewaspadai potensi terganggunya pasokan pasokan komoditas pangan akibat tingginya curah hujan dan gelombang laut yang masih tinggi.

Kemudian peningkatan cukai rokok sebesar 10% untuk tahun 2023 berpotensi ditransmisikan pada harga rokok. Mengacu rilis BPS Provinsi Bali pada Desember 2022, Provinsi Bali mengalami inflasi sebesar 0,48% (mtm) atau 6,20% (yoy).

Secara bulanan, inflasi Desember 2022 meningkat dibandingkan bulan sebelumnya (0,28%, mtm), namun lebih rendah dibandingkan rata-rata inflasi Desember selama 5 tahun terakhir (0,80%,
mtm).

Terkendalinya inflasi Desember 2022 tidak terlepas dari upaya Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam menjaga kecukupan pasokan dan stabilitas harga di Bali. ***
 

Editor: Rohmat

Related Stories