Refleksi Hari Kemerdekaan: Meneladani Karakter Tokoh Gajah Mada

Relief Gajah Mada di Monumen Nasional, Jakarta. (Istimewa)

Denpasar, Balinesia.id – Bangsa ini barangkali tidak asing dengan tokoh sejarah, Patih Amangkubumi Gajah Mada. Namanya banyak diabadikan sebagai nama jalan, gedung, bahkan nama universitas ternama di negeri ini, Universitas Gadjah Mada.

Merujuk sejumlah data sejarah dan kajian para ahli, Gajah Mada tercatat sebagai mahapatih atau panglima besar Kerajaan Majapahit, sebuah kerajaan besar yang eksis pada kisaran abad ke-13 hingga abad ke-16. Karakternya terkenal sebagai melalui sumpah “Amukti Palapa” yang esensinya berupaya menyatukan seluruh Nusantara. Sumpah itu dikumandangkan saat penobatannya sebagai patih amangkubumi saat Majapahit dipimpin oleh Ratu Tribhuwana.

Sebagai seorang pejabat penting pada masanya, Gajah Mada tidak ditampik memiliki karakter yang patut diteladani di era ini. Lalu, apa saja karakter Gajah Mada yang bisa dijadikan pegangang mengisi kemerdekaan Republik Indonesia?

Dalam Rembug Sastra Sarasastra yang digelar daring oleh Yayasan Janahita Mandala Ubud, akhir pekan lalu, dua orang guru besar Universitas Udayana, yakni Prof. Dr. A.A. Bagus Wirawan, S.U. dan Prof. Dr. Drs. I Nyoman Suarka, M.Hum membeberkan sejumlah karakter yang dimiliki Gajah Mada, utamanya bagi para pemimpin negeri ini. Berikut karakter-karakternya:

      Baca Juga:

Toleran

Prof. Bagus Wirawan, mengatakan bahwa Gajah Mada merupakan tokoh sentral dalam sejarah Kerajaan Majapahit. Sosok ini sangat berjasa dalam mengembangkan Majapahit hingga mencapai puncak kejayaannya di masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. 

“Gajah Mada dari sisi politik ketatanegaraan telah berhasil menyatukan wilayah-wilayah di Nusantara, sedangkan dari sisi budaya politik keagamaan telah berhasil menanamkan keyakinan agama Hindu-Budha sebagaimana disebut Mpu Tantular yang menyebutkan bhineka tunggal ika, Siwa lan Budha,” katanya.

Dengan kata lain, pada titik ini, Gajah Mada mampu menyeimbangkan stabilitas politik dengan membumikan nilai-nilai toleransi. Masyarakat yang kala itu hidup dalam keberagaman bersama-sama diajak untuk membangun negara hingga tercapai jalan hidup berbangsa dan bernegara yang adil dan makmur.

      Baca Juga:

 

Mengamalkan Asta Brata

Selanjutnya, Wirawan mengatakan bahwa pencapaian Gajah Mada sebagai Patih Amangkubhumi Majapahit tidak terlepas dari karakter kepemimpinan yang mumpuni. Gajah Mada dianggap telah menanamkan nilai-nilai ideal bagi seorang pemimpin dalam memegang tampuk pemerintahan sejalan dengan konsep Asta Brata.

Asta Brata adalah konsep kepemimpinan yang dinyatakan Rama kepada Wibhisana sebagaimana yang tersurat dalam epos besar Ramayana. Asta Brata adalah sifat-sifat kepemimpinan yang menirukan sifat dari delapan dewa dalam ajaran Hindu.

Kakawin Ramayana Sargah XXIV menyebut kedelapan sifat itu adalah seperti Hyang Indra, Yama, Surya, Candra, Anila (Bayu), Kuwera, Baruna, dan Agni.

Indra Brata artinya seorang pemimpin hendaknya dapat berprilaku seperti Indra, sang dewa hujan yang berupaya menyejahterakan rakyat.

Yama Brata adalah sifat pemimpin yang hendaknya berprilaku seperti Yama, dewa keadilan, yang memberikan keadilan dengan seadil-adilnya tanpa pandang bulu. Menghukum yang jahat dan para pengacau negara tanpa pandang bulu.

Surya Brata adalah laku seorang pemimpin yang hendaknya seperti Dewa Surya atau dewa matahari. Pemimpin harus seperti matahari dalam menairk pajak. Pemimpin harus menarik pajak tidak tergesa-gesa, namun konsisten, seperti matahari yang menguapkan air secara perlahan, tapi konsisten.

Candra Brata adalah sifat pemimpin yang bagai dewa bulan, menyenangkan semua rakyat.

Bayu Brata adalah sifat pemimpin yang seperti Dewa Bayu atau dewa angin. Angi  selalu mengetahui pikiran dunia. Semua hal harus diketahui seorang pemimpin.

Kuwera Brata adalah sifat seorang pemimpin yang layaknya seorang Dewa Kuwera atau dewa kekayaan, mengelola kekayaan dengan baik.

Baruna Brata adalah sifat pemimpin yang seperti Dewa Baruna, sang penguasa samudera. Pemimpin harus memeng senjata dan kuat menjaga kedaulatan negara.

        Baca Juga:

Harmonisasi Pemerintahan Pusat-Daerah Berbasis Kebudayaan

Sifat ketiga yang patut diteladani dari Gajah Mada menurut Wirawan adalah mampu membangun harmonisasi antara pemerintahan pusat dan daerah. Salah satu caranya adalah dengan mengedepankan pendekatan humanis-kulturistik.

“Gajah Mada telah membentuk hubungan politik ketatanegaraan pusat-daerah yang berbasis kebudyaaan, yakni seni, sastra dan agama,” katanya.

 

Heroik

Sementara itu, bersaranakan Kakawin Gajah Mada, Guru Besar Sastra Jawa Kuno Universitas Udayana, Prof. Dr. I Nyoman Suarka menjelaskan bahwa Gajah Mada merupakan seorang pahlawan ideal. Sifat kepahlawan inilah yang kemungkinan menjadi dasar dari penulis kakawin ini, Ida Cokorda Ngurah, menyelesaikan tulisannya pada tanggal 10 November 1958.

Kakawin Gajah Mada selesai ditulis pada tanggal 10 November 1958, pemilihan tanggal ini mungkin memiliki maksud tertentu. Kita ketahui bahwa 10 November ditetapkan sebagai Hari Pahlawan, sehingga ada kemungkinan Ida Cokorda Ngurah sebagai pengarang Kakawin Gajah Mada bermaksud memberikan penghargaan kepada tokoh Gajah Mada sebagai Pahlawan Nusantara melalui karya kakawinnya,” kata Suarka.

       Baca Juga:

Setia

Menurut Suarka, Gajah Mada merupakan tokoh yang setia akan janji (satya samaya). Ingkar janji (nitya samaya) hanya dilakukan Gajah Mada sebagai siasat perang ataupun strategi mengalahkan musuh, sebagaimana dilakukannya kepada Patih Kebo Wanira (Kebo Iwa) yang dijanjikan akan dikawinkan dengan putri istana Majapahit.

“Gajah Mada juga beringkar janji ketika menangani perkara pendeta palsu guna menegakkan kebenaran dan membela pendeta asli. Ingkar janji yang dilakukan Gajah Mada adalah untuk menyelamatkan jiwa, baik jiwa sendiri maupun jiwa orang lain,” katanya.

Suarka menambahkan bahwa Kitab Ślokāntara memperbolehkan tindakan-tindakan berbohong jika untuk menyelamatkan jiwa (karaksahan ing hurip), menyelamatkan harta (karaksahan ing drewya), menyelamatkan anak dan istri (karaksahan ing anak rabi), situasi bercanda (mapaceh-pacehan), dan ketika memadu kasih (ri sedeng ing pasanggaman).

‘Semangat setia pada janji Gajah Mada dalam Kakawin Gajah Mada sangat penting diteladani saat ini guna menangkal ujaran kebencian serta kebohongan atau hoaks yang semakin masif mengancam dan memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

     Baca Juga:

Berbakti pada Guru

Sifat lain yang harus diteladani dari sifat Gajah Mada adalah berbakti pada Catur Guru. Catur Guru atau empat guru itu meliputi Guru Swadyaya (Tuhan dan manifestasi-Nya), guru wisesa (pemerintah), guru pangajian (guru pengetahuan), dan guru rupaka (orangtua dan leluhur).

“Semangat berbakti kepada Catur Guru membuat Gajah Mada memiliki keyakinan, kepatuhan, keteguhan, kesetiaan yang sangat kuat yang mengantarkannya menjadi pemimpin masa depan yang bijaksana, tegas, cerdas, teguh iman, berwibawa, dan pantang menyerah,” kata Suarka. jpd

Editor: E. Ariana

Related Stories