Catatan Akademisi terhadap BBB V: Tantangan Aktualisasi Tema, Jangan Sampai Bahasa Bali Bunuh Diri

Salah satu penampilan peserta Musikalisasi Puisi Berbahasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali ke-5 tahun 2023. (Balinesia.id/IST)

Denpasar, Balinesia.id – Tinggal menghitung jam, Bulan Bahasa Bali (BBB) ke-5  “Segara Kerthi: Campuhan Urip Sarwa Prani” akan ditutup. Lalu, apa yang tersisa dari gelaran yang berlangsung selama sebulan itu? Bagiamana harapan masyarakat terhadap BBB tahun depan?

Akademisi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Dr. I Wayan Suardiana, menilai pergelaran BBB ke-5 sudah semakin semarak jika dibandingkan dengan pergelaran di tahun-tahun sebelumnya, meskipun demikian, ia mengatakan tantangannya justru terletak pada aktualisasi tema di masyarakat.

“Saya lihat sudah semakin semarak, dari pusat, baik dari provinsi sampai ke desa-desa dari, namun yang menjadi catatan adalah pentingnya implementasi tema BBB itu oleh penyelenggara di tingkat kabupaten bahkan sampai desa,” katanya kepada Balinesia.id pada Minggu, 26 Februari 2023.

Baca Juga:

Dalam pandangannya, pemaknaan tema BBB ke-5 secara mendasar kurang mendpaat perhatikan penyelenggara. Sebagai ontoh, implementasi Segara Kerthi dlm kontek teks dan konteks itu tdk banyak dijabarkan dalam setiap kegiatan. Misalnya, dalamm lomba menulis lontar dan mengetik aksara Bali di komputer, ia mempertanyakan soal relevansi naskah perlombaan yang terkait tentang segara atau laut.

“Demikian juga terjadi pada yang lainnya. Lantas, setelah lomba berlangsung ke depan, bagaimana anak-anak dan masyarakat akan terus menggali nilai-nilai yang berkaitan dengan segara serta berbuat demi terwujudnya kerthi di lingkungan segara?” tanyanya.

“Perlu ke depan ada pemantauan atau revieuw tentang hasil nyata dari kegiatan ini sesuai tema yang diusung untuk membumikan tema-tema yang telah digarap dalam BBB ke-5,” sambungnya.

Baca Juga:

Sementara itu, akademisi Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar, I G.A. Darma Putra, menilik persoalan tantangan kebahasabalian di masa depan. Menurutnya, BBB idealnya jadi momentum memikirkan kembali “tata cara” orang Bali memandang dan memperlakukan bahasanya.

“Jangan sampai perhelatan ini membuat bahasa Bali bunuh diri. Caranya, mungkin dengan memeriksa kembali beberapa dokumen tertulis berbahasa Bali dari periode sebelum Pasamuan Agung. Ini penting sebagai suplemen bagi kamus bahasa Bali sekarang. Lomba-lomba itu penting dilakukan untuk merangsang niat mempelajari bahasa Bali. Memang sulit, lelah, tetapi pasti ada satu di antara peserta yang jatuh cinta pada bahasa Bali,” kata dia.

Menurutnya, penting bagi pemegang kebijakan untuk memersiksa keberadaan kosakata bahasa Bali, misalnya dengan melihat kembali Perjanjian Kerajaan Bali dengan Pemerintah Belanda, beberapa pasobaya, seperti Pasobaya Astanagara maupun Pasobaya Trinagara.

Baca Juga:

Ia juga menyinggung keberadaan Pasamuhan Bahasa Bali yang justrau memiliki potensi “mengeroposkan” bahasa Bali dari dalam. Upaya melindungi bahasa Bali secara holistik, misalnya bahasa Bali Aga, juga diperlukan.

“Menurut saya pasamuhan itu menstandarisasi bahasa Bali. Tujuannya bagus untuk terciptanya kesepahaman bahasa, tetapi di lain pihak, ada bahasa-bahasa yang terpaksa lenyap, misalnya kebertahanan bahasa Bali Aga. Lebih-lebih saat ini gubernur dari Sembiran, yang adalah pewaris sah kebudayaan Bali Kuno, termasuk bahasanya. Tapi perhatiannya ke arah itu jauh panggang dari api,” katanya menyayangkan.

Baca Juga:

Darma Putra menawarkan solusi, ke depan Pemerintah Provinsi Bali dapat membentuk tim konservasi dan pengembangan bahasa Bali. Tim konservasi, kata dia, dapat ditugaskan mengumpulkan bahan-bahan kebahasaan dari masa lampau, kemudian mengarsipkannya dengan baik. 

“Masalah kita semua di Bali adalah pengarsipan yang kacau. Dari sumber-sumber itu, dikumpulkan kata-kata yang belum dimuat dalam kamus bahasa Bali, lalu kamus bahasa Bali online yang digagas oleh Balai Bahasa Provinsi Bali perlu ditambah lagi kosakata dan penjelasannya, sehingga lebih mudah diakses. Saat ini kita belum punya bank data untuk prasasti, dan tentu saja bahasa Bali Kuno,” tandasnya. jpd 

Editor: E. Ariana

Related Stories