Makanan
Selasa, 17 Maret 2026 16:06 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA – Berakhirnya Ramadan kerap membuat pola makan berubah drastis, yang sering disebut sebagai momen “balas dendam” setelah sebulan berpuasa. Menanggapi hal ini, Guru Besar Ilmu Gizi IPB University, Prof. Hardinsyah, mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan pengalaman berpuasa sebagai langkah awal membangun gaya hidup sehat yang berkelanjutan, salah satunya melalui penerapan metode intermittent fasting.
Metode ini dilakukan dengan mengatur asupan makanan secara lebih terkontrol, baik dari jumlah, jenis, maupun waktu makan yang dibatasi dalam periode tertentu. Tujuannya adalah membantu menurunkan kadar lemak tubuh sekaligus mengurangi risiko penyakit metabolik, seperti diabetes, yang rentan meningkat akibat konsumsi gula berlebih saat Lebaran.
Menurut Prof. Hardinsyah, konsistensi adalah ujian sesungguhnya setelah bulan suci berakhir. Mempertahankan berat badan ideal memerlukan tekad kuat untuk mengubah pola pikir.
“Setelah bulan puasa, ujiannya akan lebih serius untuk mengubah mindset. Biasakan diri dengan intermittent fasting dan mempraktikkannya tanpa mengharapkan pahala (sebagai rutinitas kesehatan),” jelasnya.
Agar tubuh tidak kaget dan tetap bugar, berikut adalah beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan:
Sebagai alternatif sehat, mengonsumsi buah-buahan segar sangat disarankan untuk menekan keinginan mengonsumsi camilan tinggi gula dan lemak. Selain itu, pergeseran porsi makan dengan memperbanyak protein dibandingkan karbohidrat sangat direkomendasikan, terutama untuk menjaga massa otot.
“Kalau berat badan menurun menjadi normal, maka harus dipertahankan. Jika dalam dua minggu lingkar pinggang terasa bertambah, itu tanda pola makan harus segera disesuaikan kembali,” pungkas Prof. Hardinsyah.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Ananda Astri Dianka pada 16 Mar 2026