Wajah Baru Seni Lukis di Tibubeneng: Pameran yang Menggugah Nurani

(null)

Badung– Seni lukis kembali membuktikan perannya sebagai medium yang paling jujur dalam menyampaikan keresahan. Kini, giliran Wija Reksa Quoriena (WRQ) Art Hub & Residencydi Desa Tibubeneng, Badung, yang menjadi pusat perhatian para penikmat seni melalui pameran bertajuk "Tibubeneng Sustainable Art".

Resmi dibuka pada Sabtu (13/6), pameran ini menyuguhkan deretan karya lukis yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga mengajak pengunjung untuk merenung.

Fokus utama pameran ini adalah bagaimana seniman merespons isu lingkungan—mulai dari krisis sampah hingga pelestarian alam—melalui goresan kuas dan komposisi warna.

Kurator pameran, Yudha Bantono, sukses merajut lebih dari 20 karya dalam satu narasi yang kohesif. Pengunjung diajak menelusuri ruang galeri yang diisi oleh karya-karya dari 10 seniman lintas genre.

Nama-nama besar seperti mendiang Made Wianta, Made Bayak, dan Andry Boy Kurniawan hadir dengan karakter lukisan yang kuat. Mereka bereksperimen dengan teknik dan media untuk menonjolkan tekstur bumi yang terancam.

Tidak sekadar lukisan di atas kanvas konvensional, beberapa karya tampak berani memadukan elemen material pendukung yang mempertegas pesan keberlanjutan.

Kejutan manis datang dari area wantilan, di mana lukisan karya siswa SD se-Tibubeneng terpajang apik. Melalui pendampingan seniman Made Bayak dalam workshop plasticology, anak-anak ini membuktikan bahwa kreativitas tidak mengenal batas usia.

Lukisan-lukisan mereka yang menggunakan teknik daur ulang berhasil mencuri perhatian, membuktikan bahwa seni bisa menjadi cara yang sangat efektif untuk menanamkan kesadaran sejak dini.

Daniel Ginting, penggagas WRQ Art Hub, menegaskan bahwa pameran ini dirancang agar seni tidak sekadar menjadi artefak yang mati di dinding galeri.

"Seni harus hadir di tengah masyarakat, membuka percakapan, membangun empati, dan menggerakkan tindakan," jelasnya.

Selaras dengan hal tersebut, kolektor wastra nusantara, Quoriena Ginting, melihat pameran ini sebagai sebuah 'alarm 'visual.

Melalui deretan lukisan bertema lingkungan yang dipajang, pengunjung diharapkan tersadar akan urgensi tindakan nyata bagi masa depan bumi.

Pameran ini menjadi destinasi yang tepat bagi Anda yang ingin menikmati harmoni antara estetika seni lukis dan semangat pelestarian alam.

Keberagaman teknik—mulai dari lukisan kontemporer, kartun, hingga fotografi yang menyatu dalam pameran ini—membuat Tibubeneng Sustainable Art menjadi ajang pameran yang sangat dinamis.

Bagi masyarakat umum yang tertarik untuk melihat langsung keindahan karya-karya ini, pameran berlangsung hingga 30 Juni 2026 di WRQ Art Hub & Residency, Banjar Kulibul Kawan, Desa Tibubeneng.

Jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan bagaimana para seniman kita "melukiskan" solusi dan harapan bagi lingkungan melalui karya seni yang jujur dan menyentuh.***

 

 

Release pameran

Pameran Seni Tibubeneng Sustainable Art - Gerakan Seni Penyadaran dan Lingkungan yang Berkelanjutan

Pameran Seni Tibubeneng Sustainable Art membangun Kesadaran Untuk Berbuat yang Terbaik bagi Lingkungan.

Disamping Pesta Kesenian Bali Ada Pameran Seni Tibubeneng Sustainable Art yang membangun Kesadaran untuk Berbuat Terbaik bagi Lingkungan.

Persoalan Sampah di Bali Dibicarakan dalam Pameran Seni Tibubeneng Sustainable Art

Refleksi Persoalan Sampah adalah Masalah Bersama dalam Pameran Seni Tibubeneng Sustainable Art


Badung (15/6). Wija Reksa Quoriena  Art Hub & Residency secara resmi dibuka pada hari Minggu (13/6), dua hari yang lalu. Sebuah bangunan indah yang menyandang Art Hub dan Residency ini berada di salah satu pusat pariwisata Kabupeten Badung, yakni di Desa Tibubeneng.

Di tengah hiruk pikuk kehidupan malam dan kemeriahan pariwisata di Canggu area, kehadiran Wija Reksa Quoriena  Art Hub & Residency seperti memberikan angin segar bagi perkembangan dunia kreativitas di Bali, khususnya  seni dan budaya, serta  lingkungan.

Daniel Ginting beserta istrinya Quoriena Ginting yang menggagas berdirinya Wija Reksa Quoriena  Art Hub & Residency,  sedari awal memang ingin mendedikasikan ruang kreatif di Tibubeneng bagi para senimanan, budayawan, kaum intelektual dan masyarakat kreatif Bali, khususnya masyarakat Tibubeneng dan sekitarnya, sampai masyarakat dunia.

Dalam pernyataannya selaku founder of Ginting Institute dan kolektor seni, Daniel Ginting sangat percaya bahwa “seni itu tidak boleh berhenti di ruang pamer saja. Seni harus hadir di tengah masyarakat, membuka percakapan, membangun empati, dan menggerakkan tindakan”.

Hal senada juga didukung oleh pendapatistrinya  Quoriena Ginting yang juga sebagai salah satu kolektor penting wastra nusantara Indonesia. Perempuan yang akrab disapa Quorien ini mengatakan bahwa “seni yang berbicara tentang persoalan lingkungan sebenarnya bukan sekedar sebuah tampilan yang mengejar keindahan, tapi ada tanda atau alarm yang menuntut kita untuk bangun, sadar dan bertindak”.

Dalam kemeriahan pembukaan pameran Tibubeneng Sustainable Art, tampak hadir Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung Made Rai Warastuthi mewakili Bupati badung, Camat Kuta Utara I Putu Eka Parmana dan Perbekel Tibubeneng I Made Kamajaya beserta jajarannya.

Acara Pembukaan pameran seni Tibubeneng Sustainable Art sekaligus menandai grand opening WRQ Art Hub & Residency. Bertempat di wantilan WRQ, karya seniman cilik dari SD se-Tibubeneng benar-benar hadir menyihir pengunjung. Bagaimana tidak, banyak pengunjung tidak mengira bahwa kesemuanya itu adalah hasil kreasi anak SD.

“Memang sebelumnya, para siswa SD yang memiliki bakat melukis telah ikut workshop plasticology terlebih dahulu bersama seniman Made Bayak. Kesempatan dan pengalaman itulah yang menjadikan anak-anak memiliki kemampuan atau teknis melukis daur ulang plastik menjadi karya yang menghasilkan visual yang sangat bagus”, ujar Quorina Ginting.

Di tempat terpisah, yakni di ruang galeri WRQ setidaknya karya-karya dari ada 10 seniman lintas genre yang dipamerkan berkaitan dengan isu lingkungan. Para seniman yang terlibat dalam pameran Tibubeneng Sustainable Art dari perupa diantaranya Made Wianta (alm), Made Bayak, dan Andry Boy Kurniawan. Karya-karya dari para kartunis diantaranya Jango Pramartha, Ida Bagus Surya Dharma, Chuk Handono, Pinky Sinanta, dan Putu Dian Ujiana “Beluluk”. Sedangkan dari fotography menampilkan karya fotografer Andang Iskandar dan Tjandra Hutama.

Yudha Bantono selaku  kurator pameran mengatakan pameran Tibubeneng Sustainable Art adalah sebuah inisiatif kolaboratif yang menyatukan praktik seni kontemporer dengan gagasan pembangunan lingkungan berkelanjutan demi masa depan bumi yang terbaik.

Lebih lanjut menurut pria yang berpengalaman secara aktif mengikuti dan membuat event seni baik skala nasional dan internasional, pameran ini hadir sebagai ruang dialog kreatif antara anak-anak usia sekolah dasar, seniman, warga desa, dan pemangku kepentingan lingkungan untuk mendorong kesadaran, aksi, dan solusi nyata terhadap tantangan lingkungan saat ini dan di masa depan.

Konsep dan tujuan Tibubeneng Sustainable Art dirancang untuk menampilkan bagaimana seni dapat menjadi media transformasi sosial dan lingkungan. 

"Dengan menampilkan karya-karya yang menggunakan bahan ramah lingkungan, bahan daur ulang, dan teknik yang kesemuanya mampu memberikan penyadaran bagi masyarakat”, tambah Yudha.

Setelah melihat karya-karya yang dipamerkan, Kepala Desa Tibubeneng  I Made Kamajaya mengatakan, pameran seni Tibubeneng Sustainable Art adalah bagian dari bukti nyata adanya  kolaborasi pihak yang peduli dengan permasalahan lingkungan di desanya, khususnya sampah yang dalam hal ini Ginting Institute.  

Lebih lanjut menurut Kamajaya, melalui praktik kegiatan seni, budaya dan lingkungan dipastikan dapat memperkuat upaya Desa Tibubeneng dalam merealisasikan aksi penanganan persoalan sampah dan lingkungan secara berkelanjutan.

Pameran Tibubeneng Sustainable Art menampilkan lebih dari 20 karya seni. Baik lukisan, kartun, instalasi seni, dan fotografi akan berlangsung hingga 30 Juni 2026 mendatang. Pemaran seni terbuka untuk umum, untuk alamat Wija Reska Quoriena Art Hub & Residency berada di Banjar Kulibul Kawan, Desa Tibubeneng. ***

Editor: Rohmat

Related Stories