Disperindag Bali Akui Perangkat Daerah Berjalan Sendiri Kembangkan Komoditi Potensial

Disperindag Bali mencanangkan Bali Kerthi Creative Center (BKCC) sebagai upaya pengembangan industri kreatif dalam rangka meningkatkan daya saing produk industri kreatif lokal. (humaspemprovbali)

Denpasar, Balinesia.id - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bali mengungkapkan sektor Industri Kecil Menengah IKM menghadapi kendala karena masih masing-masing perangkat daerah cenderung berjalan sendiri-sendiri di dalam pengembangan komoditi potensial masing-masing. 

Untuk itu, Disperindag Bali mencanangkan Bali Kerthi Creative Center (BKCC) sebagai upaya pengembangan industri kreatif dalam rangka meningkatkan daya saing produk industri kreatif lokal.

Hal itu disampaikan Sekretaris Disperindag Bali, I Nyoman Putra Astawa menyampaikan itu di Kantor Disperindag Bali, Renon, Denpasar, Selasa 15 Agustus 2023.

Karenanya, Pemprov Bali menggelar Pameran IKM Bali Bangkit yang awalnya digagas sebagai salah satu upaya untuk menggerakan perekonomian Bali dan membantu para pengrajin tetap semangat berkarya di tengah pandemi COVID.

Diungkapkan kembali Putra Astawa, setelah berhasil melewati badai Pandemi Covid 19, sektor IKM masih dihadapkan pada kondisi saat ini dimana masing-masing perangkat daerah cenderung berjalan sendiri-sendiri di dalam pengembangan komoditi potensial masing-masing.

Misalnya sektor pertanian dan perikanan hanya fokus memproduksi hasil pertanian dan perikanan secara apa adanya tanpa ada upaya untuk memperbaiki mutu, desain, kemasan sehingga bisa menambah nilai jual produk tersebut.

"Demikian juga, UMKM dan IKM, produk yang mereka jual cenderung monoton dan pemasarannya masih dilakukan secara konvensional," katanya.

Untuk itu perlu dibentuk lembaga non organik sehingga dapat memperkuat sektor ini secara keseluruhan, memberikan dukungan bagi para profesional kreatif, memfasilitasi pertumbuhan dan kolaborasi, serta sistem kerja bisa berjalan dengan lebih efektif, efisien, yang pada akhirnya akan berdampak pada kesejahteraan petani, nelayan, UMKM dan IKM.

“Hadirnya BKCC, disamping sebagai pusat pengembangan industri kreatif, juga regulasi perlindungan daya saing produk industri kreatif lokal serta media pemasaran produk industri kreatif lokal,’ tuturnya.

Putra Astawa menyampaikan, sektor industri diharapkan dapat menjadi motor penggerak perekonomian nasional terutama sektor industri kecil dan menengah (IKM).

Penguatan daya saing industri kecil dan menengah (IKM) memiliki peran yang penting dalam pemulihan ekonomi suatu negara.

Kata dia, IKM biasanya merupakan tulang punggung perekonomian, terutama di negara-negara berkembang, dan menyumbang secara signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, serta pengurangan kemiskinan.

Diungkapkan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencatat, industri kreatif memberikan kontribusi sekitar Rp 989 triliun pada PDB nasional 2017 atau sekitar 7,28 persen. Kontribusi sektor ini sebenarnya terus meningkat dimana pada tahun 2017 tumbuh 5,07 persen.

Selain itu, industri kreatif menyediakan 17,7 juta lapangan kerja atau sekitar 14,61 persen dari angka penyerapan tenaga kerja nasional.

Untuk  Provinsi Bali hingga Tahun 2022 tercatat jumlah IKM sebanyak 16.650 IKM, dengan tenaga kerja sebanyak 138.110 orang dan nilai investasi sebesarRp.4.424.010.844.000,00. Hal ini merupakan potensi yang besar untuk pengembangan IKM Bali kedepan.

Hanya saja, sebagai dampak dari  pandemi pada tahun 2020 lalu, kegiatan ekspor Industri Kecil Menengah (IKM) pada industri kreatif khususnya subsektor kriya menurun antara 3% sampai 5%, selain pembatalan order, terjadi penangguhan pembelian hingga 70%.


Hadirnya Bali Kerthi Creative Center (BKCC)  yang merupakan kolaborasi antar perangkat daerah dan stakeholders eksternal dibawah naungan sekretariat bersama (UPTD Rumah Kreatif) sebagai leading sector.

Diharapkan dapat meningkatkan capaian indikator kinerja Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, untuk persentase kontribusi sektor perdagangan terhadap PDRB dari 9% menjadi 10%, persentase kontribusi sektor industri terhadap PDRB dari 6,04% menjadi 7 % dan persentase nilai ekspor bersih dari 3% menjadi 4%. ***


Related Stories