Demi Tutupi Tagihan, Mayoritas Gen Z Terpaksa Harus Ambil Pekerjaan Sampingan

50 Persen Gen Z Tetap Bekerja Freelance, Disamping Pekerjaan Utama Mereka (Start Up Nations)

JAKARTA - Apapun yang berhubungan dengan generasi Z tampaknya saat ini selalu jadi sorotan. Termasuk soal gaya mereka saat bekerja. Baru-baru ini, salah satu organisasi akuntan terbesar di dunia, Deloitte melakukan survei di mana berdasarkan laporan tersebut menunjukkan bahwa hampir setengah dari Gen Z melakukan pekerjaan paruh waktu atau penuh waktu selain pekerjaan utama mereka. 

Hal ini senada dengan survei yang dilakukan oleh platform untuk bekerja freelance, Fiverr tahun 2023 yang menunjukkan bahwa mayoritas atau sekitar 70% Gen Z menganggap pekerjaan lepas sebagai alternatif yang layak untuk pekerjaan biasa dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore. 

Mengambil pekerjaan sampingan harus diambil karena gaji yang diterima oleh Gen Z tak selalu cukup untuk menutupi tagihan mereka. Hal itulah yang membuat orang-orang muda yang sebagian besar baru memasuki dunia bekerja ini kerap kali melakukan pekerjaan freelance untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Survei lain mengenai Gen Z juga dilakukan oleh Cigna melalui Survei Kesejahteraan Global Cigna 360 tahun 2022. Dalam survei tersebut disebutkan sebanyak 98% anak berusia 18 hingga 24 tahun mengalami burnout atau kelelahan kerja. Generasi ini juga merupakan kelompok yang paling mungkin melaporkan bahwa mereka mengalami stres.

Platform freelance lain yaitu Upwork juga turut melakukan penelitian pada tahun 2022 yang menunjukkan hasil bahwa 43% dari seluruh Gen Z dan 46% profesional milenial bekerja menjadi pekerja lepas. 

Saat melihat alasan utama menjadi pekerja lepas di kelompok usia ini para responden menyebutkan “Untuk dapat mengejar pekerjaan yang saya sukai atau anggap berarti,” “Untuk mengambil kendali lebih besar atas pengembangan pribadi dan jalur karier saya,” dan “Untuk memiliki fleksibilitas dalam pekerjaan saya. jadwal (yaitu, hari atau jam berapa saya bekerja)” 

Para profesional muda ini tampaknya ingin mengontrol pekerjaan yang mereka lakukan, untuk siapa mereka melakukannya, dan kapan mereka melakukannya.

Gen Z juga mulai menormalisasi jalur karier dan peluang kerja di luar jam kerja tradisional 9 ke 5. Selain itu, Generasi Z juga telah dihadapkan pada jalur karier baru dan menarik yang dimungkinkan oleh teknologi dan pekerjaan lepas. 

Contoh utamanya adalah munculnya bidang karier seperti influencer media sosial atau pembuat konten. Beberapa generasi muda ini telah menemukan peluang baru di media sosial, seperti TikTok dan platform lain untuk mencoba meraih kesuksesan.

Survei Freelance Forward menemukan bahwa generasi muda membuat lebih banyak konten influencer. Secara keseluruhan, sekitar 23% dari seluruh pekerja lepas mengatakan bahwa pekerjaan mereka memerlukan pembuatan konten bergaya influencer, yang masing-masing meningkat menjadi 27% dan 29% pada pekerja lepas Gen Z dan milenial.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.com oleh Rumpi Rahayu pada 12 Dec 2023 

Editor: Redaksi

Related Stories