Buda Kliwon Pegatwakan: Panelasing Brata Wara Dungulan

Tedung (ilustrasi) (Balinesia.id/jpd)

Oleh I K. Satria*

 

Pahang buda kliwon pêgatwakan, kalingania pêgating warah, panêlasing mangku dyana sêmadhining wara dungulan, pralinê ngaran, kramania sang wiku mwang sapara jadma kabeh gêlarakna yoga sêmadhi (Lontar Sundarigama)

***

SELAMA 42 hari dalam satu tahun wuku (pekan dalam kalender Pawukon, red) yaitu mulai Buda Sungsang sampai Buda Pahang adalah hari yang sangat penting bagi umat Hindu di Bali. Berbagai ritual semarak dilakukan selain pelaksanaan upacara pawiwahan, pembangunan, dan beberapa ritual secara berkala yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali. Hal ini karena selama kurun waktu itu Dauh Uncal Balung atau waktu melakukan dhyana dan yoga semadhi untuk keselarasan alam digulirkan. Brata atau pengekangan diri dilakukan dengan melakukan pemujaan dan menghentikan kegiatan yang bersifat tidak segera.

Kalau merujuk untaian Lontar Sundarigama sebagaimana dikutif pada awal catatan ini, maka Uncal Balung berlangsung selama satu bulan dan tujuh hari menurut perhituangan kalender Pawukon Bali. Oleh karena itu, Buda Pahang adalah pegating brata atau pemutus untuk melakukan brata dan kembali pada kewajiban hidup seperti biasa. Jika kita ingin melihat apa saja makna brata pada Wuku Dungulan sehingga disebut dengan Uncal Balung, maka kita bisa melihatnya dengan berbagai rangkaian yang ada. 

Rangkaian diawali dengan ngentenin angga (menyedarkan diri) untuk selalu eling atas karunia dan anugerah Tuhan atas kehidupan ini. Hal ini dilakukan pada Buda Sungsang, sehingga disebut dengan Sugian Pengenten. Hari ini memiliki esensi untuk menyadarkan diri, bersuci mempersiapkan diri untuk Hari Suci Galungan. Sehari setelahnya dilanjutkan dengan membersihkan alam atau makrokosmos atau disebut dengan Sugian Jawa, dan diteruskan dengan pembersihan alam kecil kita, yakni badan.

Baca Juga:

Badan adalah alam yang lengkap dengan berbagai atributnya. Kepala adalah gunungnya, aliran darah adalah airnya, rongga-rongga adalah ruang kosongnya, panas tubuh adalah mataharinya, tulang otot adalah unsur padatnya, aliran napas adalah anginnya, dan sebagainya. Oleh karena itu, alam kecil ini memiliki hubungan yang sangat erat terhadap alam ini. Jika kita mmeiliki masalah dengan alam sekitar, maka tidak bisa dipungkiri kita akan mengalami sakit yang sama karena disebabkan unsur alam yang kita rusak di lingkungan kita. 

Setelah melewati rentetan hari Sugian, rangkaian hari-hari penting dilanjutkan. Pda tahap ini manusia Bali memulai brata yang lebih keras dengan melakukan mematangkan diri secara sekala dan niskala. Proses ini adalah esensi dari hari suci Penyekeban yang jatuh pada hari Redite Dungulan. Keesokan harinya, yakni Soma Dungulan, manusia diajak until menghilangkan segala macam sifat yang menjajah dan mengaburkan kebenaran dalam diri. Keesaokan harinya, yakni pada Anggara Dungulan, manusia diajak untuk kembali menaklukan sifat sad ripu. Inilah sesungguhnya musuh besar manusia.

Jika kita bisa melewati dan menghalaunya, maka kemenangan dengan simbul penjor bisa kita panjatkan pada Anggara Dungulan atau Penampahan Galungan. Pada akhirnya kemenangan terwujud dan dirayakan pada Buda Kliwon Dungulan. Segala pikiran dibersihkan dan memohon anugerah leluhur dengan melakukan pemujaan ke berbagai tempat suci leluhur. 

Baca Juga:

Umanis Galungan adalah waktu untuk saling bertemu dan mendoakan satu sama lain. Pemaridan Guru adalah permohonan kepada leluhur untuk dianugerahkan kekuatan, sehingga pada Soma Kuningan kita menancapkan nilai kebenaran dan kapagehan (kekokohan) brata yang seutuhnya, yang disebut dengan Soma Pemacekan Agung.

Kemenangan selanjutnya dirayakan dengan bersyukur atas segala anugerah kehidupan yaitu pada Saniscara Kuningan yang kemudian disebut dengan Tumpek Kuningan. Pada saat ini Dewa Mahadewa dipuja dan dimohoni kebaikan. Simbol berbagai senjata dan bekal hidup sangat kentara pada hari ini, seperti ter, endongan, kolem, dan tamiang. Semua adalah bekal sekala maupun niskala yang kita persembahkan sebagai simbol permohonan kepada leluhur. Brata berlanjut dengan memuja leluhur pada Anggara Kasih Medangsia dan berakhir pada Buda Kliwon Pahang.

Sekilas beberapa brata itu adalah rutinitas yang sangat sering dilakukan oleh umat. Tetapi, jika kita renungkan sepenuhnya amatlah sarat makna, penuh dengan landasan filosofi sehingga keyakinan atas Uncal Balung selama satu bulan tujuh hari adalah kemantapan untuk tidak melakukan kegiatan selain memuja dengan baik. 

Baca Juga:

Kembali pada Buda Kliwon Pegatwakan. Pada saat ini seharusnya berbagai kegiatan yang sifatnya ritual tentang Galungan diselesaikan. Atribut Galungan pun diakhiri dan dicabut. Atribut itu seperti penjor maupun sarana ritual lainnya yang dibersihkan dengan cara membakar dan menanam abunya di tengah natar rumah. Menanam abu penjor ini adalah simbol penguatan dan pengembalian unsur panca mahabhuta (lima unsur alam, red) dan tanda bahwa brata Galungan disudahi.

Selanjutnya, manusia Bali diimbau untuk melakukan persembahyangan di merajan, mempersembahkan sesayut dirgayusa untuk memohon panjang umur setelah kemenangan. Demikianlah ritual dan pemaknaan Galungan atau kemenangan dharma melawan adharma selesai. Selanjutnya, meski disadari bahwa Galungan itu sesungguhnya bukan saja 210 hari sekali, tetapi jika kita maknai sesungguhnya berlangsung setiap hari. Karena setiap harilah kita mesti memperjuangkan kemenangan dharma di atas adharma. Jadi, setiap enam bulan itu adalah perayaannya. Mari kita mulai lembaran baru dengan pemahaman baru dan pemaknaan yang lebih baru pula.

___________

*Penulis adalah Dosen di Universitas Hindu Indonesia dan Pengampu Pasraman Pasir Ukir di Desa Pedawa, Buleleng.

Editor: E. Ariana

Related Stories