Kenali Apa Itu Dark Factories, Pabrik yang Bekerja Tanpa Manusia dan Cahaya

Kenali Apa Itu Dark Factories, Pabrik yang Bekerja Tanpa Manusia dan Cahaya (AI)

JAKARTA - Dalam beberapa tahun terakhir, konsep dark factories atau lights-out factories semakin mendapat perhatian di industri manufaktur global. Pabrik-pabrik ini beroperasi sepenuhnya secara otomatis tanpa keterlibatan manusia, dengan memanfaatkan teknologi robotika, kecerdasan buatan (AI), dan Internet of Things (IoT).

Karena tidak memerlukan tenaga kerja manusia, pabrik ini sering kali tidak membutuhkan penerangan, sehingga disebut sebagai dark factories.

Dark factories merupakan fasilitas produksi yang dirancang untuk beroperasi secara mandiri, di mana mesin dan robot dikendalikan melalui sistem AI dan IoT.

Konsep ini memungkinkan proses produksi berjalan tanpa henti selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, tanpa intervensi manusia. Selain mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja, pabrik ini juga menawarkan tingkat efisiensi dan akurasi yang lebih tinggi.

Kelebihan Dark Factories

Banyak perusahaan besar mulai berinvestasi dalam dark factories karena beberapa alasan utama. Pertama, efisiensi produksi meningkat karena mesin bekerja lebih cepat dan akurat, mengurangi kesalahan dalam proses manufaktur. 

Kedua, perusahaan dapat menghemat biaya tenaga kerja, termasuk gaji, tunjangan, dan keselamatan kerja. Ketiga, produksi dapat berjalan tanpa henti karena mesin tidak memerlukan istirahat atau cuti. 

Keempat, keselamatan kerja meningkat karena robot dapat menangani tugas-tugas berbahaya, mengurangi risiko kecelakaan. 

Kelima, skalabilitas menjadi lebih mudah karena sistem AI dapat beradaptasi dengan permintaan pasar tanpa perlu pelatihan ulang bagi pekerja.

Kekurangan Penerapan Dark Factories

Namun, penerapan dark factories juga menghadapi berbagai tantangan. Salah satu kendala utama adalah biaya awal yang sangat tinggi karena investasi dalam robotika, AI, dan infrastruktur IoT membutuhkan dana besar. 

Selain itu, dampak terhadap tenaga kerja menjadi perhatian serius, karena otomatisasi penuh dapat meningkatkan angka pengangguran. 

Tantangan teknis juga menjadi risiko, karena gangguan sistem dapat menghentikan produksi sepenuhnya. Selain itu, mesin yang digunakan dalam dark factories memerlukan pemrograman ulang setiap kali ada perubahan produksi, yang bisa memakan waktu dan biaya. 

Risiko keamanan siber juga menjadi ancaman, karena sistem AI dan IoT yang digunakan rentan terhadap serangan hacker yang dapat mengganggu operasional pabrik.

Meskipun dark factories menawarkan efisiensi dan penghematan biaya, masa depannya kemungkinan besar akan melibatkan model hibrida yang menggabungkan otomatisasi dengan tenaga kerja manusia. 

Beberapa industri yang diperkirakan akan mengadopsi konsep ini secara luas adalah sektor elektronik, otomotif, dan teknik presisi. 

Namun, ada tantangan etis yang harus diatasi, terutama terkait dampak sosial dari berkurangnya lapangan pekerjaan. 

Pemerintah dan perusahaan perlu bekerja sama untuk memastikan adanya program pelatihan ulang atau reskilling bagi pekerja yang terdampak serta menetapkan regulasi yang ketat untuk penggunaan AI guna mencegah dampak negatif terhadap masyarakat.

Perusahaan yang Telah Menerapkan

Beberapa perusahaan global telah menerapkan dark factories dalam operasional mereka. Fanuc di Jepang menggunakan sistem otomatis untuk memproduksi lengan robot tanpa campur tangan manusia. 

Siemens di Jerman mengoperasikan pabrik elektronik Amberg yang mencapai tingkat kualitas 99,99% berkat otomatisasi penuh. 

Tesla terus mengembangkan Gigafactories dengan tujuan menuju otomatisasi penuh. Di China, CNC Machining mengoperasikan pabrik lights-out untuk produksi teknik presisi. 

Adidas sempat mengembangkan Speedfactories berbasis AI di Jerman dan AS, tetapi proyek ini dikurangi karena kendala logistik.

Secara keseluruhan, dark factories merepresentasikan masa depan industri manufaktur yang penuh potensi, tetapi juga membawa tantangan yang harus dihadapi dengan strategi yang tepat. 

Keseimbangan antara efisiensi teknologi dan keberlanjutan sosial menjadi kunci agar revolusi industri ini memberikan manfaat bagi semua pihak. 

Jika tidak diantisipasi dengan baik, dampak negatif terhadap tenaga kerja dan ekonomi bisa lebih besar dibandingkan manfaat yang ditawarkan.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.com oleh Muhammad Imam Hatami pada 04 Mar 2025 

Editor: Redaksi

Related Stories