transportasi
Kamis, 30 April 2026 14:13 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA - Setelah insiden tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026, pernyataan seorang pejabat langsung menuai perdebatan di ruang publik.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi mengusulkan agar posisi gerbong khusus perempuan dipindahkan ke bagian tengah rangkaian KRL.
“Tadi kami sudah sempat menyampaikan ke PT KAI, kalau bisa yang perempuan jangan di depan dan belakang. Jadi kalau bisa di posisi di tengah, jadi posisi paling tengah, untuk gerbongnya ya. Supaya juga lebih safe dan aman,” kata Arifatul, kepada awak media usai menjenguk korban di RSUD Bekasi, Selasa, 28 April 2026.
Usulan itu muncul bukan tanpa alasan. Seluruh korban yang berhasil dievakuasi dari reruntuhan gerbong adalah perempuan, semuanya berasal dari gerbong khusus wanita yang kebetulan berada di posisi paling belakang rangkaian KRL saat ditabrak dari arah belakang oleh Argo Bromo Anggrek.
Baca juga : Konglomerat di Balik Bisnis Taksi Hijau Green SM
Pertanyaannya, apakah klaim "gerbong tengah lebih aman" itu valid secara ilmiah? Secara statistik dan fisika, posisi tengah rangkaian kereta memang lebih aman saat kecelakaan. Jawaban tersebut bukan sekadar intuisi, ada dasar akademisnya.
Dilansir dari laman Live Science, sebagian besar tabrakan kereta api terjadi di gerbong bagian depan atau belakang, sementara benturan yang mengenai gerbong tengah sangat jarang terjadi.
Dr. Greg Placencia, asisten profesor teknik industri dan sistem di University of Southern California, menjelaskan alasannya banyak kecelakaan datang dari depan, sehingga gerbong pertama dan kedua adalah gerbong yang terpukul paling keras.
Beberapa kecelakaan datang dari belakang, tapi ini tak umum. Sedangkan di bagian tengah, kerusakan tak akan terlalu parah. Stabilitas gerbong tengah juga lebih baik, sehingga mengurangi risiko cedera akibat benturan keras saat kereta berhenti mendadak atau tergelincir.
Gerbong tengah juga umumnya lebih dekat dengan petugas keamanan serta fasilitas darurat, sehingga pertolongan bisa lebih cepat diberikan saat insiden terjadi.
Ini yang banyak orang tidak tahu, penempatan gerbong perempuan di bagian depan dan belakang bukan dirancang berdasarkan risiko kecelakaan, melainkan lebih menitikberatkan pada pelayanan, khususnya untuk menghindari penumpang berdesak-desakan saat naik turun di stasiun.
Kebijakan ini sudah berjalan sejak awal 2010-an sebagai bagian dari sistem perlindungan perempuan dari pelecehan di ruang publik yang padat.
Singkatnya, gerbong wanita di ujung bukan karena aman, tapi karena praktis secara operasional.
Baca Juga : Belajar Krisis Komunikasi Kecelakaan Kereta, Green SM Malah Tutup Kolom Komentar
Rangkaian kecelakaan yang terjadi dari tahun ke tahun menunjukkan satu hal penting: ini bukan insiden acak, melainkan pola berulang dari sistem yang belum benar-benar aman secara menyeluruh (belum fail-safe).
Tragedi Bekasi memang memiliki karakter unik karena melibatkan kereta jarak jauh dan KRL dalam satu kejadian, tetapi akar masalahnya masih sama dengan kasus-kasus sebelumnya.
Alih-alih berdiri sendiri, kecelakaan ini justru menjadi bagian dari sejarah panjang insiden perkeretaapian di Indonesia yang memperlihatkan celah di sisi sistem, manusia, dan infrastruktur.
Meski penyebab terlihat berbeda, pola dasarnya sama:
Berdasarkan data KAI Daop 1 Jakarta (Jan–Jul 2025):
Artinya:
Sistem transportasi modern idealnya dirancang agar:
Namun yang terjadi:
Gerbong tengah memang lebih aman, sains membenarkan itu. Usulan Menteri PPPA secara teknis tidak keliru, tapi posisi gerbong hanya satu variabel kecil dalam ekosistem keselamatan kereta yang jauh lebih kompleks.
Selama sistem persinyalan masih rapuh, perlintasan sebidang masih tidak terjaga, dan budaya operasional belum berubah, tragedi seperti Bekasi hanya soal waktu untuk terulang lagi.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 29 Apr 2026