Salim Group
Rabu, 08 Juli 2026 10:32 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA — Selama bertahun-tahun, nama Djarum dikenal luas sebagai salah satu produsen rokok kretek terbesar di Indonesia. Namun, di balik bisnis tembakau tersebut, Djarum Group telah bertransformasi menjadi salah satu konglomerasi terbesar di Asia Tenggara dengan lini usaha yang jauh lebih beragam.
Di bawah kepemimpinan keluarga Hartono, grup ini terus memperluas ekspansi bisnisnya ke berbagai sektor strategis. Selain industri rokok, Djarum Group kini memiliki portofolio usaha di bidang perbankan, telekomunikasi, infrastruktur digital, e-commerce, properti, elektronik, makanan dan minuman, agribisnis, hingga investasi di perusahaan teknologi.
Transformasi tersebut menjadikan Djarum sebagai salah satu contoh diversifikasi bisnis paling sukses di Indonesia. Saat ini, sebagian besar nilai ekonomi grup justru berasal dari sektor non-tembakau, terutama melalui kepemilikan mayoritas di PT Bank Central Asia Tbk (BCA).
Lantas, bagaimana sejarah Djarum Group, bagaimana struktur bisnisnya, apa saja perusahaan yang dimiliki, dan seperti apa prospeknya ke depan?
Sejarah Djarum dimulai pada 1951 ketika Oei Wie Gwan membeli sebuah pabrik rokok kecil bernama NV Murup di Kudus, Jawa Tengah. Pabrik yang saat itu hampir bangkrut kemudian berganti nama menjadi Djarum.
Nama "Djarum" sendiri berasal dari ejaan lama bahasa Indonesia untuk kata "jarum". Pada masa awal operasionalnya, perusahaan hanya memiliki sekitar belasan pekerja dengan kapasitas produksi yang masih sangat terbatas.
Perjalanan perusahaan berubah drastis setelah Oei Wie Gwan meninggal dunia pada 1963. Kepemimpinan diteruskan oleh dua putranya, Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono.
Saat mengambil alih perusahaan, keduanya masih berusia relatif muda. Namun, mereka berhasil membawa Djarum memasuki era modern melalui investasi pada mesin produksi, pengembangan riset produk, peningkatan kualitas manufaktur, hingga ekspansi pasar internasional.
Pada awal 1970-an, Djarum mulai mengekspor rokok ke berbagai negara. Langkah tersebut menjadi fondasi ekspansi internasional yang terus berkembang hingga sekarang.
Baca juga : Pohon Bisnis Agung Sedayu Group: Dari Harco hingga PIK 2
Meski bisnis rokok menjadi sumber modal utama, keluarga Hartono tidak berhenti di industri tembakau. Sejak pertengahan 1970-an, mereka mulai melakukan diversifikasi secara bertahap ke berbagai sektor ekonomi.
Strategi tersebut semakin agresif setelah krisis moneter Asia 1997–1998. Momentum paling menentukan terjadi ketika pemerintah melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) melepas saham pengendali Bank Central Asia (BCA) yang sebelumnya diambil alih saat krisis.
Melalui Farindo Investment dan PT Dwimuria Investama Andalan, keluarga Hartono berhasil menjadi pemegang saham pengendali BCA pada awal dekade 2000-an. Akuisisi tersebut menjadi titik balik terbesar dalam sejarah Djarum.
Jika sebelumnya bisnis utama berasal dari industri rokok, maka setelah memiliki BCA, sumber laba grup bergeser ke sektor jasa keuangan. Kini BCA menjadi aset paling bernilai dalam keseluruhan portofolio Djarum Group.
Sebagian besar investasi strategis keluarga Hartono dikendalikan melalui PT Dwimuria Investama Andalan. Holding ini menjadi kendaraan investasi utama yang memiliki kepemilikan signifikan pada berbagai perusahaan besar, baik yang telah tercatat di Bursa Efek Indonesia maupun perusahaan privat.
Melalui struktur inilah keluarga Hartono mengendalikan BCA, memiliki investasi pada Sarana Menara Nusantara, Global Digital Niaga (Blibli), berbagai perusahaan digital, hingga investasi properti dan teknologi.
Seiring berjalannya waktu, Djarum Group berkembang menjadi konglomerasi yang memiliki bisnis di berbagai sektor.
PT Djarum tetap menjadi fondasi historis grup. Perusahaan memproduksi berbagai merek rokok yang telah dikenal luas seperti Djarum Super, Djarum Black, LA Lights, Djarum 76, Djarum Coklat, Djarum Filter, hingga berbagai produk cerutu.
Produk-produknya dipasarkan tidak hanya di Indonesia tetapi juga diekspor ke berbagai negara di Asia, Amerika, Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Australia.
Meski industri rokok menghadapi tekanan akibat kenaikan cukai dan perubahan pola konsumsi masyarakat, bisnis ini masih menjadi penghasil arus kas yang sangat kuat bagi grup.
Aset paling bernilai milik Djarum adalah kepemilikan mayoritas di PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Melalui PT Dwimuria Investama Andalan dan Farindo Investment, keluarga Hartono menguasai sekitar 54,94 persen saham BCA. BCA merupakan bank swasta terbesar di Indonesia berdasarkan aset maupun kapitalisasi pasar.
Lini bisnis BCA meliputi:
Selain itu, BCA memiliki berbagai anak perusahaan seperti:
Setiap tahun, BCA menghasilkan laba puluhan triliun rupiah dan menjadi penyumbang dividen terbesar bagi keluarga Hartono. Pendapatan dari sektor ini bahkan telah melampaui kontribusi bisnis rokok.
Djarum juga memiliki investasi besar pada infrastruktur digital melalui:
Perusahaan ini mengoperasikan puluhan ribu menara telekomunikasi yang digunakan operator seluler di Indonesia. Model bisnis TOWR dikenal sangat stabil karena memperoleh pendapatan berulang dari penyewaan menara. Selain menara, perusahaan juga mengembangkan jaringan fiber optik serta infrastruktur digital lainnya.
IBST mengoperasikan ribuan menara telekomunikasi serta jaringan serat optik sepanjang puluhan ribu kilometer. Bisnis ini diproyeksikan terus berkembang seiring peningkatan konsumsi data internet, pembangunan jaringan 5G, dan digitalisasi nasional.
Djarum merupakan salah satu konglomerasi Indonesia yang paling agresif berinvestasi pada ekonomi digital. Portofolionya meliputi,
Bernaung di bawah PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), Blibli berkembang sebagai platform omnichannel yang menggabungkan marketplace dengan jaringan toko fisik. Model bisnisnya mencakup,
Platform pemesanan perjalanan ini menyediakan layanan,
Akuisisi tiket.com memperkuat posisi Blibli dalam ekosistem digital.
Forum komunitas terbesar di Indonesia yang pernah menjadi salah satu situs dengan trafik tertinggi di tanah air.
Platform streaming yang pernah memegang hak siar berbagai kompetisi olahraga internasional, film, dokumenter, dan konten hiburan premium.
Melalui GDP Venture dan Global Digital Prima, Djarum aktif berinvestasi pada startup teknologi. Investasi mereka mencakup berbagai sektor seperti,
Pendekatan ini memungkinkan grup memperoleh eksposur terhadap pertumbuhan perusahaan teknologi sejak tahap awal.
Polytron merupakan salah satu perusahaan elektronik terbesar di Indonesia. Produk-produknya meliputi,
Dalam beberapa tahun terakhir, Polytron mulai memasuki bisnis kendaraan listrik sebagai bagian dari strategi mengikuti tren transisi energi.
Portofolio properti Djarum termasuk salah satu yang paling prestisius di Indonesia. Asetnya antara lain,
Bisnis properti memberikan pendapatan jangka panjang melalui sewa kantor, pusat perbelanjaan, hotel, dan kawasan komersial.
Melalui Savoria Group, Djarum masuk ke sektor FMCG. Portofolionya mencakup berbagai merek seperti,
Masuknya Djarum ke bisnis makanan dan minuman menunjukkan strategi memperluas portofolio ke sektor kebutuhan sehari-hari.
Beberapa tahun terakhir grup mulai mengembangkan peternakan sapi perah modern di Brebes. Proyek ini memiliki target kapasitas puluhan ribu ekor sapi dengan sistem produksi terintegrasi mulai dari pakan hingga pengolahan susu.
Langkah tersebut dilakukan karena Indonesia masih mengimpor sebagian besar kebutuhan susu nasional sehingga peluang pertumbuhan dinilai masih sangat besar.
Selain melalui PB Djarum yang telah menjadi salah satu pusat pembinaan bulu tangkis paling sukses di Indonesia dan melahirkan banyak atlet kelas dunia, Djarum Group juga berekspansi ke industri olahraga internasional melalui kepemilikan mayoritas klub sepak bola Italia Como 1907 lewat entitas investasi SENT Entertainment Ltd milik keluarga Hartono.
Di bawah kepemilikan tersebut, Como 1907 berhasil bangkit dari divisi bawah dan promosi ke Serie A setelah lebih dari dua dekade absen. Kehadiran PB Djarum dan Como 1907 mencerminkan komitmen grup dalam mendukung pengembangan olahraga, baik melalui pembinaan atlet nasional maupun investasi di industri sepak bola profesional tingkat internasional.
Baca juga : Pohon Bisnis Sinar Mas: Semai Ratusan Perusahaan Sejak 1960-an
Karena Djarum Group merupakan perusahaan privat, laporan keuangan konsolidasinya tidak dipublikasikan. Namun, kekuatan finansial grup dapat dilihat dari kinerja perusahaan publik yang berada dalam ekosistemnya.
BCA menjadi penyumbang laba terbesar dengan aset lebih dari Rp1.600 triliun dan laba bersih tahunan yang mencapai puluhan triliun rupiah. Sementara itu, Sarana Menara Nusantara terus membukukan pertumbuhan pendapatan dan laba seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur telekomunikasi.
Di sisi lain, Global Digital Niaga masih berada dalam fase investasi sehingga profitabilitasnya belum setinggi bisnis perbankan, meski menunjukkan perbaikan operasional.
Kombinasi antara bisnis yang menghasilkan arus kas stabil (rokok dan perbankan) dengan bisnis berorientasi pertumbuhan (digital, teknologi, dan telekomunikasi) menciptakan struktur keuangan yang relatif seimbang.
Strategi Djarum selama dua dekade terakhir menunjukkan pola yang sangat konsisten.
Pendekatan ini membuat grup tidak terlalu bergantung pada satu sektor saja.
Meski memiliki fundamental yang sangat kuat, Djarum tetap menghadapi sejumlah tantangan. Industri rokok menghadapi kenaikan cukai hampir setiap tahun serta perubahan preferensi konsumen.
Di sektor e-commerce, Blibli harus bersaing dengan pemain besar seperti Shopee, Tokopedia, dan Lazada yang memiliki sumber daya sangat besar. Sementara itu, investasi di sektor peternakan dan kendaraan listrik membutuhkan modal tinggi dengan periode pengembalian investasi yang relatif panjang.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 08 Jul 2026