harga
Jumat, 24 April 2026 17:16 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA - Harga kantong plastik yang sebelumnya dibeli pedagang pasar sekitar Rp17.000 per pak kini naik menjadi Rp23.000. Sedotan plastik pun ikut meningkat, dari Rp8.000 menjadi Rp10.000.
Kenaikan paling signifikan terjadi pada plastik kemasan yang melonjak dari Rp36.000 ke Rp60.000. Bagi pelaku UMKM, lonjakan ini bukan sekadar perubahan harga, melainkan tekanan nyata terhadap biaya produksi dan margin keuntungan.
Lalu, apa penyebabnya? Mengapa harga plastik bisa naik begitu tajam, padahal Indonesia memiliki sumber daya sendiri? Kuncinya terletak pada satu faktor utama: nafta.
BACA JUGA: Harga Plastik Dikhawatirkan Naik, Bolehkah Plastik Dipakai Ulang?
Nafta merupakan cairan turunan minyak bumi yang menjadi bahan baku utama industri petrokimia. Melalui proses steam cracking, nafta dipecah menjadi etilena, propilena, dan senyawa lainnya yang kemudian diproses menjadi berbagai jenis plastik seperti polietilena (PE) dan polipropilena (PP), dua jenis plastik yang paling banyak dipakai dalam kehidupan sehari-hari.
Sekretaris Jenderal Inaplas (Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia), Fajar Budiono, menegaskan bahwa Indonesia hingga kini masih 100% mengimpor nafta, dengan sekitar 70% di antaranya berasal dari kawasan Timur Tengah.
Artinya, Indonesia tidak memiliki kapasitas produksi nafta sendiri. Meskipun negara ini merupakan penghasil minyak bumi, kapasitas kilang dan industri petrokimia hulu belum mampu mengolah minyak mentah domestik menjadi nafta dalam skala yang cukup.
Penutupan Selat Hormuz akibat konflik geopolitik memicu gangguan besar pada rantai pasok petrokimia global dan berdampak langsung ke Indonesia. Berikut penjelasannya:
Baca juga : Setelah Plastik, Harga Bahan Bangunan di Soloraya Ikut Naik
Secara struktur, industri plastik Indonesia sebenarnya cukup besar. Menurut data Kementerian Perindustrian, terdapat sekitar 892 industri kemasan plastik di Indonesia yang menghasilkan rigid packaging, flexible packaging, thermoforming, dan extrusion, dengan kapasitas terpasang sekitar 2,35 juta ton per tahun dan tingkat utilisasi 70%, sehingga rata-rata produksi mencapai 1,65 juta ton per tahun.
Lebih lanjut, kebutuhan nafta untuk industri petrokimia pada 2024 tercatat sekitar 2,7 juta ton per tahun. Namun pada 2025, seiring masuknya pabrik-pabrik baru, kebutuhan nafta Indonesia diperkirakan sudah mencapai 4,5 juta ton.
Lonjakan kebutuhan ini menggambarkan bahwa industri plastik Indonesia sedang bertumbuh. Tapi justru di sinilah letak paradoksnya. Semakin besar industri, semakin besar pula ketergantungan pada impor bahan baku.
Jawaban singkatnya: belum. Jauh dari cukup. Produsen dalam negeri saat ini baru mampu memenuhi sekitar 50–60% dari total kebutuhan bahan baku plastik nasional.
Kepala Pusat Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri Kementerian Perindustrian, Heru Kustanto, menyatakan kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta sangat diperlukan untuk mencapai kemandirian industri plastik. Hal ini mengingat kapasitas produksi dalam negeri masih belum cukup memenuhi kebutuhan domestik.
Data defisit jangka panjangnya pun mencengangkan. Mengutip data industri petrokimia nasional, Indonesia terus dibayangi defisit selama lima tahun terakhir. Berikut datanya:
Sementara itu data kondisi industri plastik nasional menunjukan kondisi sebagai berikut:
Lebih dari 70% kebutuhan bahan baku industri nasional mencakup sektor kimia, petrokimia, dan manufaktur berbasis material dipenuhi dari luar negeri.
Ketika pasokan global terganggu, industri domestik langsung menghadapi risiko keterlambatan bahan baku, penurunan kapasitas produksi, serta peningkatan biaya input.
Baca juga : Plastik ‘Ganti Harga’, Bakul Online dan Es Teh Jumbo di Solo Nelangsa
Gangguan pasokan nafta mendorong Inaplas menyatakan produsen plastik kini mulai mencampur material daur ulang dengan bahan baku murni untuk menjaga keberlangsungan produksi.
Porsi biaya bahan baku pada kemasan fleksibel bisa mencapai 50-70% dari total biaya produksi, sehingga kenaikan harga bahan baku minimal 80 persen dapat meningkatkan biaya kemasan sekitar 40%.
Inaplas juga mulai mencari sumber alternatif nafta dari Afrika, Asia Tengah, dan Amerika. Namun, jika pengiriman dari Timur Tengah hanya butuh 10–15 hari, maka dari sumber alternatif di luar kawasan tersebut memerlukan waktu minimal 50 hari yang otomatis mengubah seluruh struktur rantai pasok dan menambah beban biaya logistik.
Industri juga mempertimbangkan kondensat dan LPG sebagai substitusi nafta. Namun, penggunaan propana dari LPG masih terkendala regulasi bea masuk, sehingga pelaku industri mendorong pemerintah untuk menyesuaikan kebijakan agar alternatif ini bisa dimanfaatkan secara kompetitif.
Pemerintah tengah membahas usulan dari industri plastik yang meminta pembebasan bea masuk untuk bahan baku, sebagai salah satu upaya meredam kenaikan harga.
Direktur Industri Kimia Hulu Kementerian Perindustrian, Wiwik Pudjiastuti, menegaskan bahwa kebutuhan industri petrokimia nasional terus meningkat pesat. Namun kapasitas produksi dalam negeri belum mampu mengimbanginya, sehingga penguatan struktur industri hulu menjadi urgensi nasional.
Sejak lama, Indonesia belum memiliki kapasitas kilang minyak yang terintegrasi dengan industri petrokimia hulu untuk menghasilkan nafta secara mandiri.
Alhasil, setiap guncangan geopolitik global dari konflik Timur Tengah hingga fluktuasi kurs rupiah langsung menekan industri plastik domestik, dan ujungnya dirasakan oleh pedagang di pasar tradisional dan konsumen akhir.
Lonjakan harga plastik yang sedang terjadi merupakan cermin dari kerentanan struktural industri Indonesia: besar di hilir, rapuh di hulu. Selama Indonesia belum memiliki industri petrokimia hulu yang mandiri dan terintegrasi, setiap guncangan rantai pasok global akan selalu berdampak langsung ke kantong pedagang, pelaku UMKM, dan konsumen.
Solusi jangka pendeknya adalah diversifikasi sumber impor dan pelonggaran bea masuk bahan baku. Tapi solusi jangka panjangnya hanya satu: membangun industri petrokimia hulu dalam negeri yang sesungguhnya.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 23 Apr 2026