Feature
Ternyata Segini Kerugian Ekonomi Akibat Pemadaman Listrik
JAKARTA – Pemadaman listrik bergilir yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Jawa sejak awal Juni 2026 mulai menimbulkan kekhawatiran terkait dampaknya terhadap perekonomian nasional.
Gangguan pasokan listrik tersebut dinilai berpotensi menghambat kegiatan usaha, mulai dari sektor industri manufaktur hingga pelaku UMKM. Selain mengganggu proses produksi, kondisi ini juga dapat meningkatkan biaya operasional dan mengurangi daya saing Indonesia di pasar internasional.
Salah satu dampak yang paling cepat dirasakan adalah output loss, yaitu berkurangnya hasil produksi karena aktivitas ekonomi tidak dapat berjalan secara normal saat listrik padam.
BACA JUGA: Haruskah Matikan AC Saat Pergi ke Luar Rumah? Ini Jawabannya
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Erwin Aksa, memperkirakan pemadaman berulang dapat menurunkan produktivitas harian industri sebesar 10% hingga 30%, terutama pada sektor yang bergantung pada operasional tanpa henti.
“Dampaknya cukup signifikan, terutama karena Jawa merupakan pusat kegiatan industri, manufaktur, perdagangan, dan jasa nasional. Bagi dunia usaha, listrik merupakan faktor produksi yang sangat vital. Ketika terjadi pemadaman, terlebih tanpa pemberitahuan yang memadai, aktivitas produksi dapat terhenti, utilisasi kapasitas menurun, dan jadwal distribusi terganggu,” ungkap Erwin, dikutip Selasa, 23 Januari 2026.
Bahkan dalam salah satu studi kasus di wilayah tertentu, total kerugian ekonomi akibat pemadaman listrik tercatat mencapai Rp9,37 miliar selama periode pengamatan tertentu. Angka tersebut menunjukkan bahwa gangguan listrik dalam skala lokal saja sudah mampu menimbulkan dampak ekonomi yang signifikan.
Baca juga : BNGA Cetak CASA Rekor 73,9%, Laba Tumbuh di Tengah Tekanan Suku Bunga
Industri Manufaktur Menjadi Sektor Paling Terdampak
Sektor manufaktur disebut sebagai kelompok usaha yang paling rentan terhadap gangguan pasokan listrik, khususnya industri yang menggunakan sistem continuous process atau produksi berkelanjutan.
Beberapa sektor yang menghadapi risiko terbesar antara lain,
- Industri makanan dan minuman, karena sistem pendingin berhenti beroperasi sehingga bahan baku dan produk berisiko rusak.
- Industri tekstil, akibat mesin produksi berhenti mendadak dan merusak bahan baku maupun produk setengah jadi.
- Industri kimia dan petrokimia, yang membutuhkan proses produksi kontinu dan berisiko mengalami kerusakan peralatan saat listrik padam.
- Industri baja dan semen, karena setiap jam penghentian produksi dapat menimbulkan kerugian besar.
- Industri pulp dan kertas, yang tidak dapat menghentikan proses produksi secara mendadak tanpa konsekuensi operasional.
Bagi industri padat modal, pemadaman listrik tidak hanya menghentikan produksi sementara, tetapi juga berpotensi menyebabkan kerusakan mesin serta kehilangan bahan baku yang bernilai tinggi.
Industri Ekspor Terancam Kehilangan Kepercayaan Buyer Global
Dampak pemadaman listrik juga mulai dirasakan oleh sektor ekspor nasional. Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) melaporkan hampir seluruh anggota di sentra industri alas kaki terdampak pemadaman, termasuk kawasan,
- Jombang
- Sidoarjo
- Sukabumi
- Cikampek
- Karawang
- Balaraja
Sejumlah persoalan yang muncul akibat pemadaman listrik antara lain,
- Pabrik terpaksa mengandalkan genset dengan biaya bahan bakar yang tinggi.
- Durasi pemadaman bervariasi antara 2 hingga 6 jam.
- Beberapa perusahaan mempertimbangkan penyesuaian jam kerja, termasuk memperpanjang waktu istirahat pekerja hingga tiga jam.
- Lead time pengiriman produk ekspor berpotensi mundur.
- Risiko terganggunya komitmen terhadap buyer global meningkat.
Pelaku industri mengingatkan bahwa setelah Amerika Serikat menerapkan tarif impor seragam sebesar 10%, faktor keandalan operasional menjadi salah satu penentu daya saing utama. Gangguan listrik yang berkepanjangan berpotensi membuat pembeli internasional mengalihkan pesanan ke negara pesaing seperti Vietnam.
Baca juga : RANS IPO: Jangan FOMO, Pahami Beda Beli Bisnis dan Beli Brand
UMKM Menjadi Korban Paling Langsung
Menteri UMKM Maman Abdurrahman menyebut pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai kelompok yang paling cepat merasakan dampak pemadaman listrik.
Berbeda dengan perusahaan besar yang masih memiliki cadangan listrik melalui genset, sebagian besar UMKM tidak memiliki alternatif pasokan energi saat listrik padam. Beberapa dampak yang banyak terjadi di lapangan meliputi,
- Pedagang es mengalami kerugian karena produk mencair dan tidak dapat dijual.
- Pelaku usaha frozen food menghadapi risiko kerusakan stok makanan beku.
- Usaha kuliner rumahan kehilangan potensi pendapatan selama operasional berhenti.
- Aktivitas produksi dan penjualan terhenti total saat pasokan listrik terputus.
Pusat Data, Telekomunikasi dan Layanan Kritis Ikut Tertekan
Pemadaman listrik juga menimbulkan risiko besar bagi sektor yang membutuhkan pasokan energi tanpa henti. Beberapa layanan kritis yang berpotensi terdampak antara lain:
- Pusat data (data center)
- Jaringan telekomunikasi
- Rumah sakit
- Sistem rantai dingin (cold chain)
- Infrastruktur layanan digital
Gangguan pasokan listrik pada sektor-sektor tersebut berpotensi memicu gangguan layanan yang berdampak luas terhadap masyarakat maupun dunia usaha.
Baca juga : INCO dan MDKA Ambrol di Penutupan LQ45 Hari Ini
Biaya Operasional Naik, Daya Saing Menurun
Perusahaan yang masih dapat beroperasi selama pemadaman listrik harus menanggung tambahan biaya yang tidak sedikit, biaya tersebut meliputi,
- Penggunaan genset dan konsumsi bahan bakar tambahan.
- Biaya restart mesin produksi setelah listrik kembali normal.
- Kerusakan bahan baku dan barang dalam proses produksi.
- Penurunan efisiensi operasional.
Dalam jangka panjang, peningkatan biaya energi ini dapat mengurangi daya saing industri nasional dibandingkan negara-negara pesaing di kawasan Asia Tenggara.
Keandalan pasokan listrik selama ini menjadi salah satu indikator utama dalam penilaian iklim investasi atau ease of doing business.
Pemadaman listrik yang terjadi di Pulau Jawa sebagai pusat industri nasional dinilai dapat memberikan sinyal negatif kepada investor, khususnya pada sektor manufaktur dan industri berorientasi ekspor yang membutuhkan kepastian pasokan energi.
Kadin menilai gangguan pasokan listrik berpotensi menghambat ekspansi industri, menurunkan produktivitas, dan mengurangi daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi.
Secara keseluruhan, pemadaman listrik bergilir tidak hanya berdampak pada aktivitas ekonomi harian, tetapi juga berpotensi memengaruhi daya saing industri, kepercayaan investor, hingga posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Semakin lama gangguan berlangsung, semakin besar pula risiko kerugian yang harus ditanggung pelaku usaha dan perekonomian nasional.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 24 Jun 2026
