Feature
Saat Harga BBM Melonjak, Bisakah Sepeda Jadi Solusi?
SOLO — Potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang direncanakan mulai berlaku pada 1 April 2026 mendorong masyarakat untuk mulai mencari moda transportasi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Bahkan, saat ini per 10 Juni 2026 telah naik menjadi Rp16.250 per liter, padahal semula hanya Rp12.300 per liter.
Di tengah meningkatnya biaya energi, sepeda kembali menjadi pilihan menarik. Selain mendukung gaya hidup sehat, penggunaan sepeda juga dinilai mampu menjadi alternatif transportasi yang lebih ekonomis. Pengalaman Jerman menunjukkan bahwa kebijakan yang mendukung penggunaan sepeda tidak hanya meningkatkan mobilitas masyarakat, tetapi juga memberikan kontribusi ekonomi yang besar.
BACA JUGA: 5 Kebiasaan Bikin Sepeda Motor Boros Bensin, Stop Sekarang!
Nilai Ekonomi Sepeda
Penelitian terbaru mengungkap bahwa kebijakan bersepeda di Jerman menghasilkan nilai ekonomi mencapai:
-141,7–144,7 miliar Euro (2024)
-Setara lebih dari Rp2.400 triliun
Temuan ini dipresentasikan oleh Sukma Larastiti, peneliti dari Pusat Studi Mobilitas Lestari Transportologi, dalam seminar bertajuk “Prioritizing Cycling Policy in Indonesia: Could Cycling Provide Economic Benefits for Cities?” belum lama ini.
Menurut Sukma, dampak ekonomi tersebut tidak hanya berasal dari satu sektor, melainkan kombinasi efek langsung dan tidak langsung. “Capaian Jerman dapat menjadi panduan Indonesia dalam menyusun kebijakan yang lebih ramah pesepeda,” ujar Sukma.
Kontribusi utama sektor sepeda di Jerman:
-Kesehatan masyarakat: 68,3 miliar Euro
-Industri sepeda: 47 miliar Euro
-Pariwisata: 22–25 miliar Euro
-Potensi Indonesia: Bisa Tembus Rp29 Triliun
Dengan pendekatan proyeksi berbasis data Jerman, Indonesia diperkirakan berpotensi meraih:
-1,4–1,5 miliar Euro
-Setara sekitar Rp29 triliun
Namun, angka tersebut masih bersifat estimasi, bukan gambaran kondisi riil saat ini. “Mulai dari jumlah pengguna, kondisi infrastruktur, hingga aktivitas ekonomi terkait sepeda. Data-data tersebut sebagian besar tidak tersedia atau sulit diakses publik,” tutur Sukma.
Tantangan Utama: Infrastruktur hingga Persepsi
Meski potensinya besar, pengembangan sepeda di Indonesia masih menghadapi berbagai hambatan mendasar. Dari sisi keselamatan, pesepeda masih harus berbagi jalan dengan kendaraan bermotor tanpa perlindungan memadai.
“Para pesepeda menghadapi ancaman keselamatan tinggi akibat harus berbagi jalan dengan kendaraan bermotor berkecepatan tinggi, tanpa didukung infrastruktur memadai. Persoalan keamanan parkir sepeda juga menjadi hambatan tersendiri,” ujar Lala, sapaan akrab Sukma.
Dari sisi kebijakan, pembangunan jalur sepeda dinilai belum optimal. “Jalur-jalur ini hanya tersedia di titik-titik tertentu dan belum tentu menjawab kebutuhan serta menjamin keselamatan penggunanya.”
Investasi Jadi Pembeda Besar Indonesia vs Jerman
Perbedaan hasil antara Jerman dan Indonesia tidak lepas dari kesenjangan investasi.
Perbandingan investasi sepeda:
Jerman:
5,4 Euro per kapita/tahun
Target 30 Euro per kapita pada 2030
Indonesia:
Hanya 0,01–0,02 Euro per kapita/tahun
Dampaknya terlihat jelas pada infrastruktur:
Jerman: 58.421 km jalur sepeda
Indonesia: 567,2 km (di 21 kota)
Masalah Lain: Sepeda Masih Dipandang “Minoritas”
Secara politik dan ekonomi, sepeda belum menjadi prioritas. Menurut Lala, pesepeda kerap dianggap tidak memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan, berbeda dengan industri otomotif yang jelas menyumbang ke PDB dan pajak. “Ketiadaan dokumentasi mengenai nilai ekonomi bersepeda membuat pengembangan sektor ini cenderung diabaikan,” kata Lala.
Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia?
Pengalaman Jerman menunjukkan bahwa keberhasilan kebijakan sepeda tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga pendekatan menyeluruh:
-Kebijakan berbasis kebutuhan manusia.
-Dukungan politik yang kuat.
-Integrasi dengan transportasi publik.
-Sistem data yang solid.
Jerman sendiri menguatkan kebijakan ini melalui Nationaler Radverkehrsplan atau Rencana Nasional Bersepeda.
Momentum BBM Naik: Saatnya Ubah Cara Pandang
Rencana kenaikan harga BBM dapat menjadi momentum untuk mendorong perubahan perilaku mobilitas masyarakat. Namun, tanpa dukungan kebijakan yang komprehensif, sepeda sulit berkembang menjadi solusi utama.
Lala menegaskan, kunci utamanya adalah integrasi dalam sistem transportasi nasional. “Hal itu disertai dengan sistem pencatatan dan pemantauan perkembangan sepeda secara berkelanjutan. Dengan kata lain, sepeda perlu ditempatkan sebagai bagian integral dalam kebijakan transportasi publik Indonesia.”
Baca Juga: Belgia Bayar Pekerja yang Naik Sepeda ke Kantor
Di tengah tekanan biaya hidup akibat energi, sepeda tidak lagi sekadar alternatif murah, tetapi berpotensi menjadi strategi ekonomi jangka panjang. Pengalaman Jerman menunjukkan bahwa dengan kebijakan yang tepat, sepeda bisa menciptakan nilai ekonomi besar, dari kesehatan hingga industri.
Bagi Indonesia, tantangannya bukan pada potensi, melainkan pada keberanian untuk menjadikan sepeda sebagai bagian utama dari sistem transportasi masa depan.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Chrisna Chanis Cara pada 31 Mar 2026
