Perusahaan AI Disebut Hancurkan Jutaan Buku Usai Digunakan untuk Latih Model AI

Perusahaan AI Disebut Hancurkan Jutaan Buku Usai Digunakan untuk Latih Model AI (magnific.com/magnific)

JAKARTA — Baru-baru ini, mulai mencuat laporan soal perusahaan AI yang menggunakan buku untuk melatih model AI lalu menghancurkan buku-buku tersebut usai dipindai.

Dilansir dari Tom’s Hardware, laporan investigasi terbaru dari 404 Media menyebutkan bahwa sejumlah perusahaan AI dilaporkan membeli jutaan buku bekas lewat perantara untuk memperoleh data berkualitas tinggi untuk melatih model AI mereka sekaligus menghindari sorotan dan kritik dari publik.

Seperti yang telah kita ketahui, teknologi AI bekerja dengan cara membutuhkan data dalam jumlah sangat besar agar bisa terus berkembang. Akan tetapi, bukan sembarang data yang dibutuhkan, tapi data yang punya kualitas tinggi.

BACA JUGA: Rekomendasi Jurusan Kuliah Terbaik yang Relevan dengan AI

Namun, sejak munculnya AI, internet sekarang justru dibanjiri oleh konten berkualitas rendah yang diproduksi oleh AI sendiri yang kerap disebut sebagai AI slop. Konten inilah yang disebut mereka mencemari kumpulan data di internet sehingga kurang ideal digunakan sebagai bahan untuk melatih model AI.

Maka dari itu, perusahaan AI ternama mulai beralih ke sumber tulisan yang ditulis oleh manusia, terutama buku cetak yang diterbitkan sebelum tahun 2022. Buku tersebut dinilai memiliki konten yang asli dan belu tercemar tulisan buatan AI.

Kasus Perusahaan Teknologi Menggunakan Buku untuk Melatih AI

Kasus Perusahaan Teknologi Menggunakan Buku untuk Melatih AI

Perusahaan AI ternyata sebelumnya telah melakukan praktik serupa. Namun, sebelum kasus ini, perusahaan AI lebih menggunakan buku digital.

Dilansir dari Futurism, Meta bahkan pernah dituduh menggunakan buku bajakan untuk melatih AI. Sementara itu, perusahaan teknologi Anthropic diharuskan membayar ganti rugi sebesar US$ 1,5 miliar kepada para penulis karena melakukan hal yang serupa.

Kasus serupa juga terjadi pada Google. Baru-baru ini, sekelompok penerbit menggugat Google karena dituduh menggunakan jutaan buku berhak cipta secara ilegal untuk mengembangkan model AI Gemini.

BACA JUGA: Menurut Harvard, 10 Jurusan Kuliah Ini Ketinggalan Zaman

Buku Fisik Digunakan untuk Melatih AI

Buku Fisik Digunakan untuk Melatih AI

Seperti yang dilaporkan oleh Futurism, banyak perusahaan AI termasuk Anthropic membeli buku bekas dalam jumlah besar dengan harga murah. 

Menurut laporan Tom’s Hardware, Anthropic membeli buku-buku tersebut dari Better World Books, bahkan dilaporkan menghabiskan jutaan dolar untuk mengekstrak informasi dari banyak buku cetak demi mengembangkan model AI Claude, lalu menghancurkan buku-buku tersebut setelah di-scan.

Namun, dalam putusannya, pengadilan menyatakan bahwa penggunaan buku untuk melatih AI dapat dikategorikan sebagai fair use (penggunaan yang wajar) dalam hukum hak cipta. 

Akan tetapi, Anthropic tetap dijatuhi denda sebesar US$1,5 miliar karena menyimpan repositori berisi sekitar tujuh juta buku bajakan yang melanggar hak cipta para penulis dan penerbit.

BACA JUGA: Tenang, Ini 5 Bidang Pekerjaan yang Tidak Bisa Digantikan AI

Penjual Buku Mendapat Lonjakan Pembelian yang Tidak Biasa

Penjual Buku Mendapat Lonjakan Pembelian yang Tidak Biasa

Seperti yang dilaporkan oleh 404 Media, ada seorang penjual buku profesional yang mengalami lonjakan penjualan. Sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya sejak April 2026 ini.

Sebelumnya, penjual tersebut hanya bisa menjual 20 buku saja dalam seminggu. Akan tetapi, dalam beberapa bulan terakhir, penjualannya justru melonjak hingga ratusan buku setiap minggu atau bahkan lima kali lipat dari biasanya.

Ada juga laporan tentang kejanggalan dalam pola pembelian, yaitu pembeli hanya membeli buku yang memiliki International Standard Book Number (ISBN), yaitu suatu kode identifikasi unik yang berisi 13 digit yang digunakan secara global untuk mengenali sebuah buku.

Selain itu, pilihan buku yang dibeli berasal dari berbagai topik, genre, dan penulis yang sama sekali tidak berkaitan.

Hal yang lebih mencurigakan lagi adalah para pembeli tampaknya tidak terlalu peduli dengan harga. Mereka tetap membeli buku-buku tersebut meskipun dijual dengan harga yang jauh lebih mahal dari biasanya.

BACA JUGA: 4 Cara Mencegah AI Ambil Alih Pekerjaan Anda, Jangan Takut!

Buku Dipotong, Dipindai, Lalu Dihancurkan

Buku Dipotong, Dipindai, Lalu Dihancurkan

Dilansir dari Tom’s Hardware, dalam persidangan kasus Anthropic, Tom Harvey, yang sebelumnya terlibat dalam proyek Google Books sebelum memimpin proyek digitalisasi Project Panama di Anthropic, mengungkapkan bahwa perusahaan AI tersebut bekerja sama dengan sejumlah perusahaan pemindaian dokumen.

Salah satunya adalah Datamation Information Services, perusahaan yang menyediakan layanan pemindaian buku dalam jumlah besar, baik dengan metode non-destruktif maupun destruktif.

Pada metode non-destruktif, buku ini di-scan atau dipindai menggunakan alat seperti pemindai dari atas (overhead scanner), pemindai datar (flatbed scanner), atau sistem pencitraan berbentuk huruf V, sehingga buku tetap utuh.

BACA JUGA: Bos Instagram: Feed Estetik Mati Gara-Gara AI

Sebaliknya, untuk metode destruktif, petugas harus membongkar buku, melepaskan semua halamannya, lalu memasukkannya satu per satu ke dalam pemindai industri berkecepatan tinggi.

Secara logis, perusahaan AI lebih memilih metode destruktif karena prosesnya lebih cepat dan biayanya lebih murah.

Namun konsekuensinya, jutaan buku akhirnya dihancurkan setelah isinya berhasil didigitalkan.

Itu tadi penjelasan soal kasus perusahaan AI yang memindai buku untuk melatih model AI lalu dilaporkan menghancurkan buku tersebut usai isinya berhasil dilakukan digitalisasi. 

Di sisi lain, praktik ini juga memicu perdebatan etika. Banyak orang yang mempertanyakan sistem penyaringan buku langka yang dilakukan perusahaan AI, apalagi kalau buku itu sudah tidak dicetak lagi.

BACA JUGA: Waspada! Apple Berencana Latih AI Gunakan Data di Perangkat Anda

Selain itu, buku yang sudah dipindai bisa jadi suda tidak lagi menjadi arsip publik. AI juga berpotensi menjadi lebih pintar tapi informasi yang terdapat dalam jutaan buku yang akhirnya dihancurkan itu tak lagi bisa diakses dengan mudah oleh masyarakat.

Justina Nur Landhiani

Justina Nur Landhiani

Lihat semua artikel

Related Stories