Feature
Pemerintah Berencana Ganti Tabung Gas, Harga CNG vs LPG Murah Mana?
JAKARTA - Pemerintah tengah menyiapkan penggantian sebagian penggunaan LPG 3 kg dengan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai langkah untuk mengurangi ketergantungan pada impor LPG sekaligus menekan beban subsidi energi. Seiring rencana tersebut, muncul pertanyaan di masyarakat mengenai apakah harga CNG nantinya benar-benar lebih hemat dibandingkan LPG 3 kg.
Secara biaya produksi, CNG dinilai lebih kompetitif karena berasal dari cadangan gas bumi dalam negeri yang melimpah. Meski begitu, harga yang akan dibayar masyarakat tetap bergantung pada kebijakan subsidi dan penetapan harga oleh pemerintah.
BACA JUGA: 7 Tren Olahraga yang Lagi Digandrungi oleh Warga Indonesia 2026
Berapa Harga CNG 3 Kg?
Pemerintah masih memfinalisasi skema distribusi CNG untuk rumah tangga. Berdasarkan berbagai paparan dan dokumen yang beredar, terdapat dua skenario harga yang sempat muncul.
Pada tahap awal, CNG 3 kg diproyeksikan dijual sekitar Rp10.000–Rp12.000 per tabung, atau sekitar 30–40% lebih murah dibanding LPG 3 kg.
Namun dalam perkembangan terbaru, pemerintah memastikan harga jual CNG tidak akan lebih mahal dari LPG 3 kg. Artinya, harga eceran tertinggi (HET) diperkirakan berada di kisaran Rp18.500–Rp19.000 per tabung, mengikuti harga LPG subsidi yang berlaku saat ini.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa Compressed Natural Gas (CNG) dalam tabung 3 kilogram (kg) berpotensi memiliki harga yang lebih murah dibandingkan LPG. Menurutnya, hasil kajian menunjukkan biaya CNG dapat lebih rendah karena memanfaatkan gas bumi dan industri yang tersedia di dalam negeri.
Baca juga : Konversi LPG ke CNG: Awas Mengulang Jebakan Minyak Tanah
"CNG itu sudah dilakukan kajian, harganya jauh lebih murah. Kurang lebih sekitar 30 persen lah lebih murah. Kenapa dia lebih murah? Karena yang pertama gasnya itu ada di kita dan industrinya ada di kita, dalam negeri,” jelas Bahlil di Istana Kepresidenan, dikutip Selasa, 1 Juli 2026.
Sementara itu, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyatakan harga jual CNG kepada masyarakat direncanakan tetap disetarakan dengan LPG 3 kg. Meski demikian, pemerintah memperkirakan kebijakan tersebut tetap dapat menekan beban subsidi hingga sekitar 30% karena biaya produksi CNG lebih rendah.
"Sama. Sama dengan harganya sama. Sekarang simulasinya masih disamakan. Dengan disamakan pun subsidi bisa turun sampai dengan 30%," ujar Laode di DPR, Jakarta, Senin, 29 Juni 2026.
Sementara itu, untuk sektor lain non rumah tangga, harga CNG sudah lebih dulu diterapkan, antara lain,
- CNG rumah tangga (proyeksi awal): Rp10.000–Rp12.000 per tabung.
- CNG rumah tangga (target pemerintah): Rp18.500–Rp19.000 per tabung atau disetarakan dengan harga LPG 3 kg bersubsidi.
- CNG untuk sektor transportasi: Rp4.500 per Liter Setara Premium (LSP).
- CNG setara LPG 12 kg: sekitar Rp190.000 per tabung.
- CNG untuk sektor industri: sekitar Rp7.500–Rp8.000 per meter kubik (m³).
- CNG untuk sektor komersial: sekitar Rp11.000–Rp15.000 per meter kubik (m³).
Simulasi Pengeluaran Rumah Tangga
Apabila harga CNG benar-benar bisa 30% hingga 40% lebih murah dibanding LPG 3 kg, maka penghematan yang diperoleh rumah tangga cukup signifikan. Dengan asumsi konsumsi empat tabung gas per bulan, simulasi biayanya sebagai berikut,
- Jika CNG 30% lebih murah dari LPG 3 kg:
- Biaya per bulan: Rp50.400 (dibanding LPG Rp72.000).
- Biaya per tahun: Rp604.800 (dibanding LPG Rp864.000).
- Potensi penghematan: Rp259.200 per tahun.
- Jika CNG 40% lebih murah dari LPG 3 kg:
- Biaya per bulan: Rp43.200.
- Biaya per tahun: Rp518.400.
- Potensi penghematan: Rp345.600 per tahun.
Simulasi tersebut menggunakan asumsi konsumsi empat tabung gas per bulan. Namun, potensi penghematan tersebut hanya dapat tercapai apabila harga jual CNG benar-benar berada pada kisaran Rp10.000–Rp12.000 per tabung, sesuai proyeksi awal pemerintah.
Jika harga CNG disetarakan dengan LPG 3 kg, maka penghematan di tingkat konsumen tidak akan sebesar simulasi tersebut, sementara efisiensi lebih banyak dirasakan dari sisi pengurangan subsidi pemerintah.
Baca juga : Mengulas Keamanan CNG, Calon Pengganti LPG di Rumahmu
Mengapa Biaya Produksi CNG Lebih Murah?
Bahlil Lahadalia menyatakan biaya produksi CNG sekitar 30–40% lebih rendah dibandingkan LPG. Berdasarkan data indikatif Kementerian ESDM, biaya produksi LPG diperkirakan mencapai lebih dari Rp7.000 per kilogram, sedangkan biaya produksi CNG setara LPG sekitar Rp3.800 per kilogram.
Dengan demikian, biaya pokok CNG hampir separuh dari LPG karena memanfaatkan gas bumi domestik, sementara sebagian besar kebutuhan LPG nasional masih dipenuhi melalui impor. Semakin besar pemanfaatan gas bumi dalam negeri, semakin kecil pula ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG.
Meski memiliki biaya produksi yang lebih rendah, investasi pada tabung CNG justru jauh lebih mahal dibandingkan tabung LPG. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan tantangan terbesar bukan terletak pada harga gas, melainkan pada tabung penyimpanannya.
Gas CNG disimpan pada tekanan sekitar 200–250 bar, jauh lebih tinggi dibandingkan LPG, sehingga tabung yang digunakan harus berbahan komposit atau serat karbon Type IV agar mampu menahan tekanan tinggi sekaligus memenuhi standar keselamatan.
Akibatnya, harga satu unit tabung kosong CNG diperkirakan bisa mencapai beberapa kali lipat dibandingkan tabung LPG 3 kg berbahan baja. Pemerintah bahkan masih mengimpor tabung tersebut dari China untuk keperluan uji coba.
Tingginya biaya investasi tabung ini menjadi salah satu faktor yang berpotensi mengurangi keunggulan ekonomi CNG dalam jangka panjang, meskipun harga gasnya sendiri lebih murah.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 01 Jul 2026
