Feature
Mengulas Profil 8 Kandidat Gubernur BI Pengganti Perry Warjiyo
JAKARTA – Mundurnya Perry Warjiyo dari posisi Gubernur Bank Indonesia (BI) pada 27 Juli 2026 menandai dimulainya proses pergantian kepemimpinan bank sentral yang menjadi sorotan utama dalam lanskap ekonomi nasional. Suksesi ini dinilai penting karena akan menentukan arah kebijakan moneter Indonesia di tengah berbagai tantangan ekonomi.
Presiden Prabowo Subianto telah menerima surat pengunduran diri Perry Warjiyo. Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti ditunjuk sebagai pejabat sementara hingga gubernur definitif ditetapkan melalui mekanisme yang diatur dalam Undang-Undang Bank Indonesia.
Namun hingga kini, pemerintah belum mengumumkan sosok yang akan diajukan kepada DPR sebagai calon Gubernur BI. Pergantian kepemimpinan tersebut menjadi perhatian besar pelaku pasar, mengingat berlangsung di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah, pergerakan arus modal asing yang masih dinamis, serta meningkatnya perhatian investor terhadap independensi bank sentral dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Reuters mencatat banyak analis menilai figur pengganti Perry akan menjadi penentu arah kepercayaan investor terhadap stabilitas kebijakan moneter Indonesia.
Meski belum ada daftar resmi dari pemerintah, sejumlah nama mulai disebut dalam diskusi publik, pemberitaan media, hingga kalangan pelaku pasar. Berikut profil singkat delapan nama yang kerap masuk bursa.
1. Destry Damayanti

Destry merupakan nama yang paling banyak disebut karena secara hukum memang menjalankan tugas Gubernur BI setelah Perry mundur.
Sebelum bergabung dengan BI pada 2019, ia dikenal sebagai ekonom Bank Mandiri, Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas, anggota Dewan Komisioner LPS, hingga pernah menjadi Ketua Satgas Ekonomi Kementerian Keuangan.
Ia juga memiliki pengalaman panjang sebagai peneliti ekonomi di Universitas Indonesia dan sektor swasta. Nilai tambah lain dia memahami operasi moneter BI, sudah berada dalam Dewan Gubernur, dan memberi kesinambungan kebijakan.
2. Purbaya Yudhi Sadewa
Purbaya dikenal sebagai ekonom yang lama berkecimpung di sektor keuangan dan pasar modal sebelum masuk pemerintahan. Sebagai Menteri Keuangan, ia banyak terlibat dalam koordinasi fiskal dan reformasi pembiayaan negara.
Namun Reuters juga melaporkan adanya perbedaan pandangan antara Purbaya dan Perry mengenai keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas rupiah sebelum Perry mengundurkan diri.
Apabila namanya benar-benar dipertimbangkan, pasar kemungkinan akan mencermati bagaimana koordinasi fiskal dan moneter dijalankan di bawah kepemimpinannya.
3. Chatib Basri

Mantan Menteri Keuangan ini merupakan salah satu ekonom Indonesia yang paling dikenal di tingkat internasional.
Ia pernah menjadi Kepala BKPM, Menteri Keuangan pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, serta aktif sebagai akademisi dan penasihat berbagai lembaga internasional.
Chatib selama ini dikenal konsisten menyuarakan pentingnya disiplin fiskal, independensi bank sentral, dan keterbukaan ekonomi.
Karena rekam jejak tersebut, namanya hampir selalu muncul setiap kali terjadi pembahasan mengenai posisi strategis di sektor ekonomi.
4. Burhanuddin Abdullah
Burhanuddin pernah menjabat Gubernur Bank Indonesia pada 2003–2008.
Ia memahami operasi bank sentral dari dalam dan memiliki pengalaman menghadapi masa pemulihan ekonomi pasca-krisis.
Sebagai mantan gubernur BI, ia menjadi salah satu sedikit tokoh yang memahami dinamika kebijakan moneter, stabilitas sistem keuangan, hingga komunikasi dengan pasar.
5. Thomas Djiwandono
Thomas saat ini menjabat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia.
Sebelumnya ia dikenal sebagai Wakil Menteri Keuangan dan memiliki pengalaman di bidang fiskal serta investasi.
Namanya menjadi perhatian karena berada di dalam struktur BI sekaligus memiliki pengalaman di pemerintahan.
Apabila dipilih, investor kemungkinan akan menilai apakah kepemimpinannya mampu menjaga independensi BI sekaligus memperkuat koordinasi dengan pemerintah.
6. Muliaman D. Hadad

Muliaman dikenal sebagai salah satu regulator keuangan paling senior di Indonesia.
Ia pernah menjabat Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Deputi Gubernur BI, serta Duta Besar Indonesia untuk Swiss.
Pengalamannya mencakup pengawasan sektor keuangan, stabilitas sistem perbankan, dan kebijakan moneter.
7. Halim Alamsyah
Halim pernah menjadi Deputi Gubernur BI dan memiliki pengalaman panjang di bidang pengawasan perbankan serta stabilitas sistem keuangan.
Ia juga aktif dalam berbagai forum internasional mengenai penguatan sistem keuangan setelah krisis global 2008.
8. Aida S. Budiman
Aida merupakan Deputi Gubernur BI yang telah lama berkecimpung dalam kebijakan moneter, sistem pembayaran, dan pengembangan pasar keuangan.
Sebagai salah satu anggota Dewan Gubernur, ia memiliki pemahaman mendalam mengenai kebijakan internal BI, termasuk transformasi digital sistem pembayaran dan penguatan pasar uang domestik.
Tantangan Gubernur BI Berikutnya
Siapa pun yang terpilih nantinya tidak hanya akan memimpin bank sentral, tetapi juga menghadapi tantangan ekonomi yang lebih kompleks dibanding beberapa tahun terakhir.
1. Menjaga Stabilitas Rupiah
Sepanjang 2026, rupiah menjadi salah satu mata uang dengan tekanan terbesar di Asia akibat penguatan dolar AS, arus keluar modal asing, dan ketidakpastian global. Reuters mencatat pelemahan rupiah telah menjadi perhatian utama investor menjelang pergantian Gubernur BI.
2. Menjaga Inflasi
Meski inflasi Indonesia relatif terkendali dibanding banyak negara berkembang, BI tetap harus menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan kebutuhan mendukung pertumbuhan ekonomi.
3. Menentukan Arah Suku Bunga
Bank sentral dunia masih menghadapi ketidakpastian mengenai arah suku bunga global. Keputusan BI terkait BI-Rate akan memengaruhi kredit, investasi, hingga nilai tukar rupiah.
4. Menjaga Independensi BI
Isu yang paling banyak disorot investor justru bukan suku bunga, melainkan independensi bank sentral.
Reuters melaporkan sejumlah analis menilai pengganti Perry harus mampu menjaga kredibilitas BI sebagai lembaga independen di tengah meningkatnya koordinasi kebijakan dengan pemerintah.
5. Mempercepat Transformasi Sistem Pembayaran
Selain kebijakan moneter, BI juga memimpin pengembangan sistem pembayaran nasional, digitalisasi transaksi, perluasan QRIS lintas negara, hingga proyek Rupiah Digital (Digital Rupiah).
Apa yang Dicari Pasar?
Dalam berbagai tanggapan analis setelah Perry Warjiyo mundur, terdapat satu benang merah.
Pasar tidak hanya mencari sosok dengan latar belakang ekonomi yang kuat, tetapi juga figur yang mampu memberikan tiga hal:
- menjaga independensi BI;
- memastikan kesinambungan kebijakan moneter;
- membangun komunikasi yang kredibel dengan investor domestik maupun global.
Karena itu, perhatian pasar tidak hanya tertuju pada siapa nama yang akhirnya dipilih Presiden dan DPR, tetapi juga pesan yang disampaikan melalui pilihan tersebut mengenai arah kebijakan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Chrisna Chanis Cara pada 29 Jul 2026
