Feature
Krisis Air Jadi Penentu Masa Depan Teknologi Digital
JAKARTA - Selama ini, krisis air dunia lebih sering dilihat sebagai masalah yang berkaitan dengan perubahan iklim, sektor pertanian, atau lonjakan populasi. Namun, di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, air kini mengambil peran yang jauh lebih krusial, yaitu menjadi batas ekologis yang menentukan arah dan kapasitas kemajuan teknologi.
Kemajuan AI memang merevolusi cara manusia bekerja, berinteraksi, dan membuat keputusan. Akan tetapi, di balik janji efisiensi dan otomatisasi, ada fakta fisik yang tak bisa dihindari. Proses komputasi membutuhkan energi, penggunaan energi menuntut sistem pendinginan, dan sistem pendinginan sangat bergantung pada ketersediaan air.
Dengan demikian, krisis air global tidak lagi bisa dipandang sekadar sebagai konsekuensi sampingan dari transformasi digital. Ia justru menjadi faktor penentu utama yang akan membatasi sejauh mana teknologi dapat berkembang secara berkelanjutan.
BACA JUGA: Bahaya Gula Berlebih Mengintai di Balik Tren Kedai Kopi
Dikutip paparan data FAO AQUASTAT 2025, Selasa, 10 Februari 2026, menunjukkan ketersediaan air tawar terbarukan per kapita dunia terus menyusut, sementara konsumsi air global meningkat tajam.
Fakta ini mengubah posisi air dari sekadar input produksi menjadi aset strategis yang menopang stabilitas ekonomi, politik, dan kini, transformasi digital.
Baca juga : PAS dan Meksiko Capai Deal Air Usai Ancaman Trump
Di kawasan dengan ketersediaan air terbatas seperti Afrika Utara, Asia Selatan, dan Timur Tengah, keputusan membangun pusat data bukan lagi keputusan teknis atau investasi semata.
Kondisi tersebut merupakan keputusan geopolitik dan ekologis, siapa yang berhak menggunakan air, untuk apa, dan dengan konsekuensi apa bagi masyarakat lokal.

Sektor yang menyerap Air
Secara historis, pertanian menjadi sektor penyerap air terbesar dunia. Namun kini, industri teknologi mulai masuk ke arena yang sama. Pusat data AI berskala besar membutuhkan pasokan air yang stabil untuk menjaga performa server dan sistem energi.
Dalam perspektif ini, AI bukan hanya konsumen baru air, tetapi kompetitor baru, bersaing dengan pangan, rumah tangga, dan ekosistem. Setiap keputusan untuk mengalokasikan air ke infrastruktur digital berarti menggeser prioritas penggunaan air di sektor lain.
Perdebatan tentang AI sering berfokus pada etika algoritma, privasi data, atau dampak sosial. Krisis air memaksa diskusi itu meluas ke dimensi yang lebih mendasar, etika ekologis teknologi.
Baca juga : PAS dan Meksiko Capai Deal Air Usai Ancaman Trump
Pertanyaannya bukan lagi seberapa canggih AI yang bisa dibangun, melainkan apakah AI tersebut layak dibangun di wilayah rawan air?, Siapa yang menanggung biaya ekologis dari kemajuan digital?, Dan apakah efisiensi digital sebanding dengan tekanan terhadap sumber daya alam?
Respons industri teknologi mulai dari target “water positive” hingga inovasi pendinginan menunjukkan kesadaran awal. Namun, krisis air mengisyaratkan bahwa solusi teknis saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah pergeseran paradigma: dari ekspansi tanpa batas menuju inovasi yang sadar batas.
Krisis air global mengingatkan bahwa masa depan digital dibangun di atas fondasi alam yang terbatas. AI boleh bersifat virtual, tetapi dampaknya sangat fisik. Dalam dunia yang semakin cerdas secara digital, keberlanjutan justru akan ditentukan oleh hal paling mendasar, bagaimana manusia mengelola air.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 11 Feb 2026
