Feature
Bahaya Gula Berlebih Mengintai di Balik Tren Kedai Kopi
JAKARTA — Menjamurnya kedai kopi serta budaya nongkrong di kalangan anak muda ternyata menyimpan dampak negatif. Di balik tren ini, muncul kekhawatiran soal meningkatnya risiko penyakit jantung dan kanker pada usia produktif, penyakit yang sebelumnya lebih sering dialami kelompok usia lanjut.
Dosen Ilmu Gizi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Salwa Alifa Bestari, menegaskan bahwa kopi bukanlah akar persoalan hal ini. Masalah utama justru terletak pada kebiasaan mengonsumsi gula berlebihan serta makanan ultra-proses yang kerap menemani aktivitas ngopi.
Menurut Salwa, penyakit jantung dan kanker yang dulu identik dengan lansia kini semakin banyak ditemukan pada remaja dan dewasa muda. Hal ini dipicu oleh perubahan pola makan, di mana generasi saat ini dikelilingi pilihan makanan dan minuman tinggi gula, lemak, serta berbagai bahan tambahan yang kurang menyehatkan.
BACA JUGA: Matcha VS Kopi: Mana yang Buat Tubuh Berenergi Tahan Lama?
“Sekarang tren kuliner tidak bisa dibendung. Coffee shop, dessert kekinian, minuman manis ada di mana-mana. Kalau kita breakdown dari sisi gizi, banyak yang tinggi gula tambahan, tinggi lemak, dan minim zat gizi penting seperti vitamin, mineral, dan protein,” ujarnya dalam keterangan pada TrenAsia.id, Senin 9 Februari 2026.
Berdasarkan data global Points of Interest dari OpenStreetMap, Indonesia menjadi negara dengan jumlah kedai kopi dan kafe terbanyak di dunia, mengalahkan Amerika Serikat dan China. Per November 2025, terdapat 461.991 lokasi usaha kopi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Sementara survei Jakpat menunjukkan 66% Gen Z di Indonesia rutin mengonsumsi kopi.
BACA JUGA: Fenomena Gen Z: Tinggalkan Alkohol, Lebih Pilih Minum Kopi
Picu Insulin Spike
Menurut Salwa, kebiasaan minum kopi susu, latte, boba, dan minuman kemasan yang tinggi gula dapat memicu peradangan kronis dalam tubuh. Kondisi ini bikin kadar insulin naik drastis (insulin spike). “Kalau ini terjadi terus-menerus, bisa berujung pada resistensi insulin, diabetes, sampai penyakit jantung,” ujar dia.
Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan batas konsumsi gula maksimal cuma 50 gram atau 4 sendok makan per hari. Itu sudah termasuk dari semua sumber seperti makanan, minuman, bahkan buah. Sayangnya, satu gelas minuman kekinian aja sering sudah mengandung 20–35 gram gula, belum ditambah asupan lain sepanjang hari.
"Masalahnya, gula di minuman itu sering tidak terasa. Kita merasa 'cuma minum', padahal kalorinya setara satu piring makanan lengkap," ujar Salwa. Dia juga menyoroti bahaya makanan ultra-proses yang jadi teman setia saat nongkrong seperti kue manis, makanan berpengawet, krimer, dan sirup.
Krimer, misalnya, adalah "kalori tersembunyi" karena mengandung lemak nabati dan gula yang tidak terasa manis atau berminyak, tapi tetap membebani metabolisme tubuh. “Kalau kopi ditambah gula berlebih dan krimer, itu seperti mendatangkan masalah sekaligus solusinya. Antioksidan dari kopi jadi tidak optimal manfaatnya,” tegas Salwa.
Padahal, kopi hitam tanpa gula punya banyak manfaat kesehatan. Kandungan antioksidan seperti polifenol bisa mencegah penyakit degeneratif, meningkatkan fungsi otak, dan menjaga stamina. Masalahnya muncul saat kopi dicampur gula, sirup, dan krimer secara berlebihan.

Dia juga mengingatkan soal kebiasaan merokok atau vaping saat nongkrong. Kombinasi gula tinggi dan rokok disebutnya sebagai "double kill" karena keduanya sama-sama meningkatkan stres oksidatif yang bisa memicu penyakit jantung dan kanker.
Dari sisi jangka panjang, Salwa menjelaskan tentang mikrobiota usus yang punya "memori". Kalau tubuh terbiasa makan dan minum manis, bakteri baik di usus akan terus "nagih" asupan serupa.
Makanya, keinginan makan gula susah dihentikan secara mendadak. “Perubahannya harus bertahap. Bisa mulai dari less sugar, atau kalau tidak kuat, kurangi frekuensinya. Mikrobiota usus itu bisa dilatih,” jelasnya.
BACA JUGA: 8 Manfaat Minum Kopi Hitam Setiap Pagi, Bisa Buat Diet!
Selain jantung dan kanker, konsumsi gula berlebih juga berbahaya untuk ginjal. Ginjal yang terus dipaksa menyaring kelebihan gula lama-lama bisa rusak sampai gagal ginjal. Ironisnya, banyak kasus baru ketahuan saat sudah parah dan nggak bisa disembuhkan lagi.
Salwa mendorong anak muda untuk lebih aware dan melakukan deteksi dini, seperti cek gula darah, kolesterol, atau medical check-up rutin. “Jangan menunggu sakit. Cek itu penting, meski masih muda,” pesannya.
Salwa menegaskan anak muda enggak perlu meninggalkan total tren coffee shop. Yang penting adalah bijak dalam memilih menu dan mengontrol asupan gula harian. Pilih kopi tanpa gula, pakai pemanis alami seperti stevia, atau batasi dessert manis bisa jadi langkah awal menuju gaya hidup lebih sehat. “Kita tetap bisa nongkrong, tetap bisa ngopi, asal sadar apa yang kita masukkan ke dalam tubuh.”
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Chrisna Chanis Cara pada 09 Feb 2026
