In Memoriam: I Gusti Ngurah Alit Yudha

Prof. Wayan Windia (Balinesia.id)

Oleh Wayan Windia*

 

HARI Senin, 12 Desember 2022 saya sedang rapat di Stispol Wira Bhakti. Tiba-tiba telepon HP saya berderin. Telepon itu ternyata dari Ketua Yayasan Kebaktian Proklamasi (YKP), I Gusti Ngurah Gede Yudana (Gung Ngurah). Saya menerimanya dengan biasa-biasa saja, karena sebagai Ketua YKP, secara rutin saya menerima telepon dari Gung Ngurah. Tapi kali ini, Gung Ngurah menelepon saya dengan singkat saja, “Ndia, Gung Alit ba sing nu, sudah pergi meninggalkan kita” katanya.

Mungkin Gung Ngurah masih emosional. Mana ada seorang kakak kandung tidak sedih ditinggal adiknya, apalagi seorang adik yang telah diajak menderita sejak kecil, khususnya pada saat berkecamuknya perang kemerdekaan di Bali. 

Saya paham maksudnya Gung Ngurah bahwa adiknya, I Gusti Ngurah Alit Yudha (Gung Alit) sudah meninggal dunia. Memang begitulah tata krama orang Bali. Orang yang meninggal, tidak disebutkan meninggal, tetapi disebutkan dengan istilah yang lehih kontemplatif, misalnya suba luas nganginang ‘sudah pergi ke arah timur’, suba sing nu ‘sudah tiada’, dan lain-lain. Hal ini mengindikasikan bahwa, meski seseorang sudah meninggal, tetapi jiwanya tetap hidup. Apalagi setelah disucikan, roh atau jiwanya disemayamkan di sanggah kamulan (rong tiga). 

Saya tertegun, setelah mendengar berita duka itu dari Gung Ngurah. Saya juga menduga bahwa saya adalah orang pertama yang diinfo oleh Gung Ngurah. Hal ini mungkin mengindikasikan tentang kedekatan saya dengan Gung Alit khususnya, dan keluarga Puri Ngurah Rai di Desa Carangsari pada umumnya. Saya merasa terhormat dipanggil “om” oleh para cucu dari Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai. Mana ada orang seperti saya, yang orang sudra dipanggil “om” oleh keluarga besar puri dari seorang Pahlawan Nasional?

Baca Juga:

Tatkala tahun 1968, saya mulai kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Denpasar, dan aktif dalam organisasi Pemuda Panca Marga (PPM), ayah saya berpesan. Pesannya adalah agar saya marekan (menjadi pembantu) di Puri Carangsari. Saya tidak mengerti maksud ayah saya. Tapi segera saya katakan “ya”. Mungkin karena perintah orang tua adalah wasiat, maka saya tiba-tiba sangat dekat dengan keluarga Puri Ngurah Rai di Carangsari. Pada saat itu Gung Ngurah dan Gung Alit sedang kaya-kayanya. Beliau tinggal di Denpasar. Hampir setiap hari saya makan siang bersama-sama dengan keluarganya Gung Ngurah di Tanjung Bungkak, kemudian menghabiskan waktu untuk ngurus PPM bersama-sama dengan Gung Alit.

Saya mengenal Gung Alit sebagai orang yang pendiam. Bicaranya ceplas-ceplos, tetapi saya memahami Gung Alit memiliki prinsip yang kokoh. Meski kelihatan lemah lembut, tetapi kalau beliau sudah mengambil keputusan, tidak pernah bergeser. Almarhum ibunya, yakni Desak Putu Kari sering mengatakan kepada saya bahwa tipe kepribadian dari Gung Alit sangat mirip dengan almarhum Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai. “Karakternya sangat mirip,” kata Desak Putu Kari.

Mungkin karena karakternya itu, maka Gung Alit sangat dekat dengan ibunya. Dahulu, almarhum I Gusti Ngurah Rai, juga sangat sayang kepada istrinya. Gung Alit, sering menjadikan pesan dan kata-kata ibunya, untuk dijadikan pegangan dalam perjalanan hidupnya.       

Gung Alit juga sangat setia kepada kakaknya, Gung Ngurah. Kalau tidak ada Gung Ngurah, sering Gung Alit ngedumel terhadap tindak-tanduk kakaknya, tetapi kalau sudah di hadapannya, Gung Alit sangat setia kepada kakaknya. Tidak pernah sama sekali Gung Alit melawan pendapat kakaknya. Kalau sudah mengatakan “ya” maka Gung Alit siap bertarung dengan siapa saja dan di mana saja. Gung Alit sangat sering mensitir puisinya Chairil Anwar. “Hidup harus berarti, dan setelah itu mati,” katanya.  Maksudnya adalah bahwa, dalam hidup ini harus berbuat sesuatu yang bermakna bagi negeri, dan setelah itu biarlah berlalu.

Hal itulah yang dilaksanakan oleh Gung Alit ketika diputuskan untuk melakukan aktivitas Gerakan Kembali ke Desa (Gerkades). Beliau bertekad menghijaukan bukit dan pegunungan yang gundul. Beliau berpendapat bahwa pembangunan harus mulai dari desa, atau mulai dari hulu. “Dahulu, orang tua kita menggunakan hutan, bukit, dan pedesaan untuk bergerilya dan memenangkan perang kemerdekaan, maka sekarang kita harus membayar hutang tersebut dengan memperbaiki kawasan desa, bukit, dan hutan,” katanya. Semua biaya dilakukan dengan mandiri. Mungkin diambil dari CSR perusahaan rafting-nya. Demikianlah, Gerkades terus menggema hingga ke Banyuwangi, hingga akhirnya tenggelam tatkala putra kesayangannya Gung Daniel meninggal dunia. 

Di organisasi PPM, Gung Alit, dan juga kakaknya, Gung Ngurah sangat disegani, karena beliau adalah pendiri PPM di Bali, dan juga di Indonesia. Beliau tidak henti-hentinya berpesan kepada teman-teman, bahwa yang dahulu berjuang adalah ayah kita. Kita adalah anak-anaknya, tidak tahu apa-apa. Oleh karenanya PPM harus rendah hati. Tidak boleh sombong, tetapi beliau juga berpesan bahwa PPM harus menjaga kehormatan para veteran, pejuang, dan para pahlawan bangsa. Kalau ada yang main-main dengan para pendiri bangsa dan warisannya, maka PPM harus membelanya. Pada saat-saat berpidato di hadapan anggota PPM, Gung Alit sering emosional, dan meneteskan air mata. Mungkin eling pada almarhum ayahnya, Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai, tatkala memimpin perang kemerdekaan di Bali. Kata-katanya yang selalu saya ingat adalah, “Tancapkan terus panji-panji PPM”.

Gung Alit tidak saja dihormati oleh teman-teman seperjuangannya di PPM, tetapi juga oleh para veteran dan pejuang kemerdekaan. Para orang tua itu melihat figur I Gusti Ngurah Rai di wajah Gung Alit. Demikianlah setelah malang melintang di kancah politik, akhirnya sempat menjadi Ketua DPD Golkar Bali, Ketua Dewan Pertimbangan DPD Golkar Bali, anggota DPRD Provinsi Bali, dan anggota DPR-MPR RI di Jakarta. Nggih, selamat jalan Gung Alit, mogi amor ing Acintya. Merdeka...!

_____________

*Penulis adalah Ketua PD PPM Provinsi Bali periode 1990-1998 dan Ketua Stispol Wira Bakti Denpasar.

Editor: E. Ariana

Related Stories