Feature
Daftar Negara yang Terlibat Konflik Karena Air
JAKARTA - Seiring kenaikan suhu bumi yang kian terasa, krisis air bersih muncul sebagai konsekuensi yang sulit dihindari. Wacana bahwa “perang di masa depan akan dipicu oleh air” pun semakin sering mengemuka dalam percakapan geopolitik global.
Pernyataan tersebut kini tak lagi sekadar kiasan. Kelangkaan air bersih telah menjadi sumber nyata ketegangan antarnegara, memperlihatkan bagaimana air berubah menjadi isu strategis yang berpotensi memicu konflik.
Kondisi ini diperburuk oleh perubahan iklim yang memicu kekeringan berkepanjangan dan semakin ekstrem. Di saat yang sama, laju pertumbuhan penduduk, urbanisasi yang masif, serta pembangunan infrastruktur air skala besar—seperti bendungan—ikut menggeser keseimbangan distribusi air lintas wilayah dan negara.
BACA JUGA: Bahaya Gula Berlebih Mengintai di Balik Tren Kedai Kopi
Dalam konteks ini, air tidak lagi hanya dipandang sebagai sumber daya alam, tetapi telah bertransformasi menjadi instrumen strategis yang menentukan stabilitas politik, ekonomi, dan keamanan nasional.
Air merupakan kebutuhan paling mendasar bagi kehidupan manusia, produksi pangan, dan pembangkitan energi. Namun, ketersediaannya bersifat terbatas dan distribusinya tidak merata, terutama di wilayah yang bergantung pada sungai lintas negara.
Negara-negara yang berada di hulu sungai internasional memiliki keunggulan strategis karena mampu mengendalikan volume dan waktu aliran air ke negara-negara hilir.
Baca juga : Bank Mandiri Perluas Akses Gizi dan Air Bersih
Kondisi ini melahirkan konsep hidro-hegemoni, yaitu dominasi politik dan ekonomi yang diperoleh melalui kendali atas sumber air. Dalam situasi tertentu, penguasaan air bahkan berkembang menjadi weaponization of water, ketika air digunakan sebagai alat tekanan politik atau ancaman tidak langsung terhadap negara lain.
Pembangunan bendungan besar menjadi titik paling sensitif karena meskipun sering dibingkai sebagai proyek pembangunan dan ketahanan energi, negara hilir kerap memandangnya sebagai ancaman terhadap kelangsungan hidup ekonomi dan sosial mereka.
Dilansir TrenAsia dari berbagai sumber, Selasa, 10 Februari 2026, berikut sederet konflik didunia yang melibatkan perebutan sumber daya Air,
Konflik Air Afghanistan – Iran
Ketegangan antara Afghanistan dan Iran meningkat tajam akibat pengelolaan Sungai Helmand dan Harirud. Iran menuduh Afghanistan melanggar Perjanjian Air 1973 dengan mengoperasikan Bendungan Kamal Khan di Sungai Helmand dan Bendungan Pashdan di Sungai Harirud, yang dinilai secara signifikan mengurangi aliran air ke wilayah Iran.
Afghanistan menepis tuduhan tersebut dengan menyatakan bahwa penurunan debit air lebih disebabkan oleh kekeringan ekstrem akibat perubahan iklim.
Namun, perbedaan interpretasi ini telah memicu eskalasi nyata, termasuk insiden baku tembak di perbatasan pada 2023, yang memperlihatkan betapa cepat sengketa air dapat berubah menjadi konflik bersenjata terbuka.
Konflik Air India – Pakistan
Konflik air antara India dan Pakistan di Lembah Sungai Indus merupakan salah satu yang paling berbahaya di dunia. Pakistan sangat bergantung pada aliran Sungai Indus yang bersumber dari wilayah India, sebagaimana diatur dalam Perjanjian Air Indus 1960.
Selama puluhan tahun, perjanjian ini mampu bertahan bahkan ketika kedua negara terlibat dalam beberapa perang besar. Namun, pernyataan India bahwa perjanjian tersebut tidak lagi relevan karena perubahan iklim dan kebutuhan domestik memicu kekhawatiran serius di Pakistan.
Islamabad secara terbuka menyatakan bahwa pengurangan aliran air Indus akan dianggap sebagai tindakan perang, menjadikan konflik ini sangat sensitif mengingat kedua negara merupakan kekuatan nuklir.
Baca juga : Bank Mandiri Perluas Akses Gizi dan Air Bersih
Konflik Air Mesir – Ethiopia
Di Afrika, pembangunan Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD) di Sungai Nil Biru menjadi sumber ketegangan geopolitik yang berkepanjangan.
Ethiopia memandang bendungan raksasa ini sebagai simbol kedaulatan nasional dan fondasi pembangunan ekonomi melalui penyediaan energi listrik.
Sebaliknya, Mesir, yang hampir sepenuhnya bergantung pada Sungai Nil untuk air minum dan pertanian, menganggap GERD sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasional dan ketahanan pangannya.
Negosiasi antara kedua negara, bersama Sudan, berlangsung berlarut-larut tanpa kesepakatan yang mengikat. Dalam situasi ini, Sungai Nil tidak hanya menjadi sumber kehidupan, tetapi juga arena perebutan pengaruh politik dan strategis di kawasan Afrika Timur dan Timur Laut.
Konflik Air Amerika Serikat – Meksiko
Di Amerika Utara, kekeringan berkepanjangan di Sungai Colorado dan Rio Grande memicu sengketa antara Amerika Serikat dan Meksiko. Amerika Serikat menuduh Meksiko gagal memenuhi kewajiban pengiriman air sesuai perjanjian bilateral 1944, sementara di sisi lain AS menghadapi tekanan domestik akibat krisis air di wilayah barat daya.
Ancaman untuk menahan pasokan air ke Meksiko memperlihatkan bahwa bahkan negara dengan institusi kuat dan hubungan bilateral yang mapan tidak kebal terhadap ketegangan akibat kelangkaan air yang diperparah oleh perubahan iklim.
Kelangkaan air tidak hanya memicu konflik antarnegara, tetapi juga menciptakan dampak sosial yang luas di dalam negeri. Di Afghanistan, kekeringan parah dan kegagalan sistem irigasi mendorong jutaan orang bermigrasi ke Iran, yang kemudian memicu tekanan sosial dan kebijakan pemulangan paksa.
Di berbagai belahan dunia, kota-kota besar seperti Kabul, Jakarta, Mexico City, dan Tehran menghadapi ancaman krisis air akut akibat eksploitasi air tanah berlebihan dan menurunnya pasokan air permukaan.
Baca juga : Bank Mandiri Perluas Akses Gizi dan Air Bersih
Selain itu, proyek bendungan di Sungai Volga mempercepat penyusutan Laut Kaspia dan memengaruhi negara-negara sekitarnya, sementara pembangunan infrastruktur air di Xinjiang, China, berdampak pada ketersediaan air di Kazakhstan.
Dalam banyak kasus, krisis air menjadi pemicu awal ketegangan sosial yang kemudian berkembang menjadi instabilitas politik dan konflik terbuka.
Meskipun narasi “perang air” terdengar semakin mengkhawatirkan, sejarah menunjukkan bahwa sumber air lintas negara lebih sering mendorong kerja sama dibandingkan perang terbuka.
Namun, kerja sama ini hanya dapat terwujud jika tata kelola air internasional diperbarui dan disesuaikan dengan realitas baru akibat perubahan iklim.
Banyak perjanjian air dibuat puluhan tahun lalu ketika tekanan populasi dan iklim belum seberat saat ini. Oleh karena itu, pendekatan berbasis pemenuhan kebutuhan dasar bersama, transparansi data, serta mekanisme pemantauan aliran air yang disepakati bersama menjadi kunci untuk mencegah eskalasi konflik di masa depan.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 10 Feb 2026
