Feature
Alasan Gen Z Kerap Menderita Asam Lambung
JAKARTA – Masalah pencernaan kini tak lagi identik dengan usia lanjut. Semakin banyak anak muda yang berkonsultasi ke dokter spesialis pencernaan, bukan sekadar karena keluhan sakit perut ringan, tetapi akibat gangguan yang lebih serius.
Mengutip fk.umsida.ac.id, asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD) merupakan kondisi ketika cairan asam dari lambung naik ke kerongkongan (esofagus). Hal ini menimbulkan sensasi panas atau nyeri di dada yang dikenal sebagai heartburn.
Kondisi tersebut umumnya terjadi karena katup antara lambung dan kerongkongan melemah atau tidak menutup dengan baik. Menariknya, Generasi Z yang memiliki rentang usia 15 hingga 27 tahun menjadi salah satu kelompok yang paling rentan mengalami GERD.
Saat asam lambung naik ke kerongkongan, penderitanya dapat merasakan berbagai keluhan seperti perih di bagian ulu hati, sensasi panas di dada, rasa pahit di mulut, mual, hingga perut terasa kembung. Gangguan ini dalam dunia medis disebut GERD.
Asam lambung bagian penting dalam proses pencernaan yang sehat. Namun, jika produksi atau pengeluarannya terganggu, kondisi ini dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan berisiko menyebabkan masalah kesehatan dalam jangka panjang.
Dilansir dari memorialcare.org, GERD bisa terjadi pada siapa saja berapapun usianya, namun saat ini GERD berkembang pesat pada anak-anak muda. Menurut NIDDK National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, lebih dari 25% anak muda memiliki penyakit GERD.
Menurut Ketan Shah, MD, salah seorang yang mempelajari gastroenterology, internal medicine and paediatrics di Saddleback Medical Center, California, semakin banyak remaja yang kelebihan berat badan, sehingga meningkatkan kemungkinan terkena GERD.
“Bertambahnya gejala gejala yang sebelumnya terlihat pada orang dewasa di anak-anak muda,” kata dia. “Hal ini nyata apalagi pada negara di barat, kemungkinan karena tidak sehatnya pola makan dan kurangnya aktivitas fisik, yang mana meningkatkan tingkat obesitas,” tambahnya.
Kegemaran remaja terhadap makanan cepat saji (fast food) seperti kentang goreng, pizza, dan burger menjadi salah satu penyebab hal tersbut. Menurut Bhavesh B. Shah, seorang medical director di gastroenterology intervensi, makanan cepat saji yang memiliki kandungan lemak tinggi adalah jenis makanan yang diketahui dapat memicu GERD.
Junk food termasuk jenis makanan dengan kadar lemak yang sangat tinggi sehingga berpotensi menimbulkan gangguan pencernaan, termasuk GERD. Asupan lemak tinggi dapat menyebabkan otot sfingter di esofagus yang berperan sebagai pembatas antara esofagus dan lambung.
Ketika otot tersebut mengendur, asam lambung dapat naik ke esofagus dan menimbulkan rasa panas atau perih di dada yang, salah satu gejala maag akut. Selain itu, makanan tinggi lemak juga merangsang pelepasan hormon kolesistokinin yang membuat otot sfingter semakin mengendur dan memperlambat proses pencernaan di lambung. Kondisi ini pada akhirnya meningkatkan risiko naiknya asam lambung.
Selain junk food berlemak, makanan dengan kandungan garam tinggi juga dapat memicu munculnya GERD. Kalangan anak muda kerap mengonsumsi camilan seperti keripik kentang dan makanan gurih lainnya yang mengandung kadar garam berlebih. Penambahan garam dalam jumlah besar pada junk food bertujuan mengurangi kadar air sehingga pertumbuhan bakteri pun melambat.
Akibatnya, makanan tersebut memiliki masa simpan yang lebih panjang, terlebih dengan tambahan bahan pengawet. Namun, tingginya kandungan garam ini berisiko memicu peningkatan asam lambung hingga naik ke kerongkongan.
Generasi muda saat ini hidup di dunia yang serba cepat, penuh tekanan, dan serba makanan siap saji. Meskipun kesadaran akan kesehatan semakin meningkat, kebiasaan gaya hidup seperti pola makan yang tidak teratur, kurangnya serat, tingginya konsumsi makanan ultra-olahan, dan tingkat stres yang tinggi dapat berdampak buruk pada kesehatan usus.
Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji, minuman dengan kandungan kafein tinggi, dan sering begadang untuk bekerja atau menyelesaikan tugas tanpa disadari telah mengganggu keseimbangan alami sistem pencernaan pada anak muda.
Dalam jangka pendek, GERD menyebabkan rasa terbakar di dada dan nyeri perut bagian atas, serta dapat menyebabkan makanan tersangkut di tenggorokan atau rasa tidak nyaman saat menelan.
Jika asam lambung mencapai tenggorokan, pasien dapat mengalami laringitis, sakit tenggorokan atau rahang, dan sakit telinga. Hal ini juga dapat menyebabkan masalah pernapasan, termasuk pneumonia dan asma, yang berasal dari menghirup asam lambung ke paru-paru, menurut NIDDK.
“Jika GERD berlanjut selama bertahun-tahun tanpa pengobatan, kondisi ini menjadi berbahaya. Hal ini dapat menyebabkan peradangan, tukak lambung, atau penyempitan permanen pada kerongkongan,” kata Dr. Ketan Shah.
Kondisi ini juga dapat menyebabkan esofagus Barrett, yang merupakan cikal bakal kanker esofagus yang berpotensi mematikan.
Dilansir dari Siamak Tabib, M.D, jika GERD terdeteksi sejak dini, kamu bisa menyesuaikan gaya hidup untuk menghindari kerusakan lebih lanjut. Misalnya, berhenti merokok, meningkatkan olahraga, dan mengubah pola makan akan memberikan perbedaan yang besar.
Jika GERD tidak diobati, kamu mungkin memerlukan pengobatan atau operasi. Untungnya, operasi jarang diperlukan pada orang dewasa muda. Pengobatan untuk GERD meliputi obat-obatan yang dapat mengurangi jumlah asam lambung serta obat-obatan yang meningkatkan fungsi sfingter esofagus.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Distika Safara Setianda pada 12 Jan 2026
