Ada Banyak Jenis, Seperti Ini Gambaran Surga-Neraka dalam Kakawin Aji Palayon

Lukisan Bali yang menggambarkan neraka. (Istimewa)

Denpasar, Balinesia.id – Gambaran dunia pasca-kematian menjadi salah satu wacana yang banyak diungkap dalam ajaran agama-agama di dunia. Tradisi Hindu di Bali pun memiliki gambaran surga-nerakanya yang khas, salah satunya ditemui dalam Kakawin Aji Palayon.

Guru Besar Universitas Udayana, Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum., dalam Ulas Lontar 2 “Sastra Kapatian: Persiapan Kematian dan Perjalanan Jiwa dalam Sastra” yang dilaksanakan Unit Lontar Universitas Udayana secara daring, Jumat, 29 April 2022 mengungkapkan konsep dunia pasca-kematian ala karya sastra yang dikarang pujangga Bali, Ida Bagus Putu Bek, itu.

Menurut Suarka, dalam tradisi Hindu Bali kebangkitan seorang Atma setelah kematian dapat berjalan ke tiga tujuan. Pertama adalah menunggal bersama Paramatma, kedua adalah menuju surga, dan yang terakhir menuju neraka.

“Menyatunya Atma dan Paramatma ini adalah moksa. Ketika ini terjadi, Atma tidak lagi terikat, tidak lagi mengalami reinkarnasi, sebab telah menyatu dengan Sang Hyang Paramatma,” kata Suarka.

Capaian kedua dari Atma pasca-kematiannya adalah mencapai surga. Menurut teks ini, surga merupakan tempat para dewa dan Atma bersenang-senang dan bersenda gurau. Surga digambarkan sebagai dunia yang tenteram, tenang, asri, dengan suasana kolam berair jernih, bunga-bunga tumbuh mekar dan mewangi, serta kumbang berkeliaran mengisap madu bunga.

Menariknya, dalam paparan kakawin ini, ada lima macam surga yang diperuntukkan kepada Atma dengan latar belakang perbuatannya masing-masing ketika masih hidup. “Surga dilukiskan berupa balai paviliun yang amat indah, berupa candi atau meru dan tertata menurut formasinya. Pertama adalah Candi Perak berada di timur berbendera putih, tempat Atma para pertapa dan bertabiat baik, kedua adalah Candi Tembaga berada di selatan, berbendera merah, tempat Atma para pahlawan yang mulia,” kata Suarka.

Baca Juga:

Surga ketiga berbentuk Candi Emas yang berada di barat dan berbendera kuning. Surga ini merupakan tempat Atma para dermawan dan berbuat jasa kebajikan dalam upacara pitra yadnya. Keempat, adalah surga berbentuk Candi Besi berada di utara, berbendera hitam sebagai tempat Atma para raja mulia. “Surga di tengah berbentuk Candi Permata Kristal Matahari tempat Atma para pendeta yang teguh melakoni ajaran agama dan kitab suci Weda, selalu berpikir positif, serta tiada henti mengupayakan keselamatan dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Berbeda dengan surga, neraka dalam teks ini terbagi atas empat jenis. Neraka di sebelah timur berupa ladang luas, berada di belakang Candi Perak. Tempat ini merupakan tempat menghukum Atma para pembohong dan arogan.

Selanjutnya, alam neraka yang berada di selatan berupa sebuah kawah, berada di belakang Candi Tembaga. Neraka ini adalah tempat menghukum Atma dari para penjahat dan pembunuh orang tak berdosa.

Alam neraka di barat berbentuk jurang terjal dan curam. Letaknya berada di belakang Candi Emas, tempat menghukum Atma yang ketika hidupnya durhaka kepada orang tua. Hukuman bagi Atma seperti ini adalah digantung di pohon bambu.

“Alam neraka di utara berupa pohon keris, berada di belakang Candi Besi, tempat menghukum Atma para peracun dan suka ilmu hitam. Tidak seperti surga, tidak dijelaskan ada neraka di arah tengah,” kata dosen Sastra Jawa Kuno ini.

Menurut paparan teks ini, neraka adalah tempat penghukuman para Atma yang dihuni para Kingkara, yakni mahkluk bawahan dari Dewa Yama.

“Menurut teks ini, Atma kembali dan menuju atau paran, ke asal atau sangkan melalui sebuah perjalanan atau saparan, guna mencapai hakikat dan identitas tertinggi atau yang disebut uceng saparan atau sangkan paraning dumadi. Menunggalnya Atma dengan Paramatma ini dapat ditempuh melalui jalan pelenyapan yaitu jnana, bhakti, karma, dan yoga,” pungkas Suarka. jpd

Editor: E. Ariana

Related Stories