Investor
Senin, 11 Mei 2026 14:50 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA – Sebagian besar investor ritel di dunia tercatat mengalami kerugian atau performanya jauh di bawah indeks pasar. Berdasarkan studi longitudinal PiP World yang menganalisis 8 juta trader dan 295 juta transaksi selama 27 tahun, sekitar 74 hingga 89 persen investor ritel selalu merugi di setiap fase gejolak pasar besar.
Menariknya, angka tersebut hampir tidak berubah dalam kurun waktu hampir tiga dekade. Situasi di Indonesia pun relatif serupa. Meski IHSG menguat 6,3 persen pada kuartal pertama 2024, lebih dari 54 persen saham justru mengalami penurunan atau bergerak stagnan pada periode yang sama.
Buka aplikasi investasi mana saja, kontennya hampir seragam, 'mulai dari Rp10 ribu', 'uang bekerja untuk kamu', 'jangan cuma nabung, invest'. Influencer keuangan tumbuh subur, seminar saham penuh, jumlah investor di Indonesia mencapai lebih dari 15,5 juta per awal 2025 menurut KSEI, dengan investor ritel mendominasi 99,7%.
Pertanyaannya sederhana, kalau saham itu mudah dan menguntungkan, kenapa mayoritas yang masuk justru rugi?
PiP World mempublikasikan studi longitudinal terbesar dalam sejarah perdagangan ritel pada 2025, 8 juta trader, 295 juta transaksi, rentang waktu 27 tahun.
Kesimpulannya satu, tingkat kegagalan tidak berubah. Antara 74 hingga 89% investor ritel rugi di setiap periode volatilitas besar. Tidak peduli seberapa berkembangnya teknologi, seberapa mudahnya akses, atau seberapa banyaknya konten edukasi keuangan.
Di level pasar, Dalbar Inc. menemukan rata-rata investor ritel tertinggal dari indeks S&P 500 sebesar 6,1 persen per tahun selama 20 tahun. Di 2023, gap itu bahkan melebar.
Penyebabnya bukan kurang pintar, investor cenderung menjual saat pasar jatuh dan masuk lagi saat sudah naik, pola yang memastikan mereka selalu terlambat.
Baca juga : Jakarta Dikuasai Anak Muda, Tapi Sebagian 'Putus Asa'
Di Indonesia, kondisi ini berlapis, data BEI 2024 menunjukkan pada kuartal pertama, IHSG naik 6,3%. Tapi lebih dari 54% saham justru turun atau stagnan di periode yang sama.
IHSG naik tidak berarti portofolio kamu naik, kenaikan indeks sering terkonsentrasi di segelintir saham besar, sementara mayoritas saham bergerak ke arah berbeda.
Tidak ada contoh lebih jelas dari peristiwa Januari 2026. Tanggal 20 Januari 2026, IHSG mencetak all-time high menembus level 9.000. Euforia merata, Platform Stockbit Sekuritas Digital mencatat transaksi mingguan Rp40,4 triliun dengan frekuensi 12,6 juta kali pada pekan puncaknya.
Delapan hari kemudian, 28 Januari 2026, IHSG ambruk 7,35% ke level 8.320 dalam satu hari perdagangan. Trading halt diaktifkan, pemicunya satu pengumuman dari MSCI soal pembekuan sementara rebalancing indeks akibat kekhawatiran transparansi free float. Investor yang masuk di puncak euforia langsung tercekik.
Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden, menyatakan terbuka bahwa banyak investor ritel menanggung kerugian signifikan dari kejadian ini. Angka yang lebih mengkhawatirkan, setelah crash, aktivitas investor ritel di platform digital turun drastis dari puncaknya, tanda yang konsisten dengan pola global, masuk saat euforia, keluar setelah rugi.
Baca juga : Gaji 10 Juta Berasa Miskin? Bisa Cek 3 Pengeluaran Gaib Ini
Sebagian besar investor ritel Indonesia mengambil keputusan berdasarkan broker summary yang datanya sudah tertinggal hingga 16 jam. Smart money bergerak berdasarkan data real-time.
Ketika volatilitas meledak, ritel selalu jadi pihak paling lambat keluar dan paling cepat rugi. Ini bukan soal kecerdasan, ini soal asimetri informasi yang sistemik.
Kenaikan indeks sering didorong rotasi sektor, bukan pergerakan merata. Di awal 2024, sektor keuangan naik 9,8 persen, tapi sektor properti dan konsumer masih terkoreksi.
Investor yang memegang saham properti tidak merasakan efek apapun dari kenaikan IHSG. Ini yang Barber dan Odean (2000) sebut salah waktu, bukan salah saham.
Studi PiP World menyebutnya 'emotional self-sabotage': siklus empat fase yang selalu berulang, panic buying di puncak, panic selling di bawah, menyalahkan pasar, lalu kembali lagi saat kondisi membaik. Pola ini tidak berubah selama 27 tahun meski aplikasinya berganti, kontennya bertambah, dan investornya semakin muda.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 10 May 2026