sri mulyani
Selasa, 15 September 2026 10:48 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA — Nilai tukar rupiah bergerak naik turun pada awal perdagangan Selasa, 15 September 2026. Setelah dibuka dalam posisi melemah, rupiah berbalik menguat tipis seiring pelaku pasar mencermati pergantian Menteri Keuangan serta perkembangan konflik AS-Iran yang kembali memberikan tekanan terhadap pasar energi global.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tercatat menguat 2 poin atau 0,01% ke level Rp17.667 per dolar AS pada pukul 09.14 WIB.
Pergerakan rupiah tersebut terjadi di tengah variasi kinerja sejumlah mata uang utama di kawasan ASEAN. Peso Filipina tercatat menguat 0,06%, sedangkan ringgit Malaysia melemah 0,08%. Baht Thailand juga turun 0,07%, sementara dolar Singapura terkoreksi 0,10%.
Fluktuasi rupiah pada awal perdagangan juga berlangsung setelah perubahan penting di dalam negeri, yakni pergantian Menteri Keuangan.
Pemerintah menunjuk Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan baru pada Senin, 14 September 2026, menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai bendahara negara.
Pergantian tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena Menteri Keuangan memegang peran penting dalam menjaga kredibilitas kebijakan fiskal dan kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dalam pernyataan pertamanya sebagai Menteri Keuangan, Suahasil menegaskan komitmennya untuk menjaga kesehatan APBN. Menurutnya, kondisi fiskal yang sehat diperlukan agar pemerintah tetap mampu membiayai berbagai program prioritas.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu sinyal awal yang dicermati investor. Pasar tidak hanya melihat siapa yang menduduki kursi Menteri Keuangan, tetapi juga bagaimana pemerintah akan menjaga disiplin fiskal, mengelola defisit, serta memastikan pembiayaan program prioritas tetap berkelanjutan.
Respons pasar terhadap pergantian pejabat fiskal biasanya tidak berhenti pada pergerakan rupiah satu hari. Investor akan mencermati kebijakan konkret yang muncul setelah pergantian tersebut, terutama terkait APBN, penerimaan negara, belanja pemerintah, dan strategi pembiayaan.
Jika pasar menilai kesinambungan kebijakan fiskal tetap terjaga, sentimen terhadap aset Indonesia dapat tetap positif. Sebaliknya, ketidakpastian mengenai arah kebijakan fiskal dapat meningkatkan kehati-hatian investor.
Dari eksternal, konflik AS-Iran tetap menjadi faktor penting yang membatasi ruang penguatan rupiah.
Pertempuran yang kembali memanas di kawasan Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pengiriman minyak. Kapal tanker yang membawa minyak menghadapi risiko lebih tinggi seiring meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut.
Eskalasi juga dilaporkan meluas ke kawasan Arab Saudi setelah serangan kelompok bersenjata Houthi yang bersekutu dengan Iran. Kondisi tersebut terjadi ketika pertemuan diplomatik antarnegara Teluk tertunda.
Ketidakpastian geopolitik tersebut dapat memberikan dua tekanan sekaligus terhadap rupiah.
Pertama, gangguan terhadap pasokan minyak berpotensi mendorong harga energi lebih tinggi. Bagi Indonesia yang masih membutuhkan impor minyak, harga energi yang mahal dapat meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk membayar impor.
Kedua, meningkatnya risiko geopolitik dapat mendorong investor mencari aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS. Jika permintaan terhadap dolar meningkat, mata uang negara berkembang seperti rupiah berpotensi menghadapi tekanan.
Pergerakan rupiah di sekitar Rp17.600 per dolar AS menunjukkan bahwa masyarakat masih menghadapi nilai tukar yang relatif tinggi.
Bagi konsumen, rupiah yang melemah dapat meningkatkan biaya sejumlah barang impor maupun produk dalam negeri yang menggunakan bahan baku dari luar negeri.
Harga minyak menjadi perhatian tambahan. Jika konflik di Selat Hormuz terus mengganggu persepsi pasar terhadap pasokan minyak, kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya transportasi dan distribusi barang.
Sementara itu, dari sisi fiskal, komitmen menjaga kesehatan APBN penting bagi masyarakat karena kemampuan pemerintah membiayai program prioritas sangat bergantung pada ruang fiskal yang tersedia.
Investor perlu melihat perkembangan rupiah dari dua sisi. Di dalam negeri, pasar akan mencermati langkah awal Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan, terutama bagaimana pemerintah menjaga defisit, penerimaan negara, belanja, serta pembiayaan APBN.
Kredibilitas dan kesinambungan kebijakan fiskal akan menjadi penting untuk menjaga kepercayaan investor terhadap aset Indonesia.
Dari luar negeri, konflik AS-Iran dan perkembangan di Selat Hormuz tetap menjadi risiko terbesar. Harga minyak dan indeks dolar AS juga perlu diperhatikan karena keduanya dapat bergerak cepat mengikuti perkembangan geopolitik.
Dengan demikian, pergerakan rupiah hari ini tidak semata-mata mencerminkan respons pasar terhadap pergantian Menteri Keuangan. Investor sedang menimbang sinyal kebijakan fiskal baru dari dalam negeri dengan risiko geopolitik dan energi dari luar negeri.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Chrisna Chanis Cara pada 15 Sep 2026