Bank Indonesia
Rabu, 29 Juli 2026 09:41 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA - Meningkatnya ketegangan di Selat Bab el-Mandeb kembali memicu kekhawatiran global setelah kelompok Houthi memperketat blokade terhadap kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Arab Saudi.
Selat yang menjadi penghubung antara Laut Merah, Teluk Aden, dan Samudra Hindia itu merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Karena perannya yang vital dalam perdagangan internasional, gangguan di kawasan tersebut berisiko mengganggu rantai pasok global dan memberikan dampak ekonomi yang luas, termasuk terhadap Indonesia.
Data perusahaan analisis Kpler yang dikutip surat kabar The National menunjukkan lalu lintas kapal komersial di Selat Bab el-Mandeb telah turun sekitar 56% setelah Houthi mengumumkan pembatasan pelayaran. Jumlah kapal yang melintas merosot dari 34 kapal menjadi hanya 15 kapal dalam waktu kurang dari sepekan.
BACA JUGA: Rekam Jejak Destry Damayanti, Mampukah Menentukan Arah Baru BI?
Meski hingga kini jalur tersebut belum sepenuhnya ditutup, para ekonom menilai skenario penutupan total akan membawa konsekuensi besar terhadap perdagangan, energi, hingga daya beli masyarakat dunia termasuk Indonesia.
Selat Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Selat ini menjadi penghubung Laut Merah dengan Teluk Aden sebelum kapal memasuki Terusan Suez menuju Eropa maupun sebaliknya.
Diperkirakan sekitar 12% perdagangan global melewati jalur ini. Selain itu, sekitar 12% perdagangan minyak dunia melalui jalur laut serta 8% perdagangan LNG global juga melintasi kawasan tersebut.
Karena posisinya sangat strategis, gangguan kecil saja dapat menghambat distribusi barang ke berbagai negara. Jika jalur benar-benar ditutup, kapal-kapal harus memutar melewati Tanjung Harapan di Afrika Selatan yang membuat perjalanan jauh lebih panjang.
Baca Juga : Pohon Bisnis Oesman Sapta Odang, dari Properti Hingga Tambang
Salah satu dampak paling cepat dirasakan adalah kenaikan harga minyak dunia. Sejumlah analis memperkirakan apabila Selat Bab el-Mandeb benar-benar tidak dapat dilalui, harga minyak mentah berpotensi melonjak hingga US$120–US$130 per barel, jauh di atas asumsi yang digunakan pemerintah dalam penyusunan APBN.
Bagi Indonesia, kondisi tersebut menjadi tantangan besar mengingat ketergantungan terhadap impor energi masih tinggi.
Sepanjang 2024, nilai impor minyak dan gas bumi (migas) Indonesia mencapai sekitar US$36,28 miliar. Ketika harga minyak dunia naik, biaya impor energi otomatis ikut meningkat sehingga beban pemerintah maupun pelaku usaha menjadi lebih besar.
Kenaikan harga minyak juga berpotensi meningkatkan biaya produksi hampir seluruh sektor ekonomi karena BBM masih menjadi komponen utama transportasi dan distribusi barang.
Lonjakan harga minyak dunia biasanya akan langsung memengaruhi harga BBM nonsubsidi. Sementara itu, apabila pemerintah memilih mempertahankan harga BBM subsidi agar tidak naik, konsekuensinya adalah anggaran subsidi energi harus ditambah dalam jumlah besar.
Center of Economic and Law Studies (CELIOS) memperkirakan setiap kenaikan harga minyak US$1 per barel di atas asumsi APBN dapat menambah beban belanja negara sekitar Rp10,3 triliun.
Dalam skenario harga minyak melonjak jauh di atas asumsi pemerintah, tambahan kebutuhan anggaran bahkan diperkirakan dapat mencapai sekitar Rp515 triliun. Kondisi tersebut berpotensi mempersempit ruang fiskal pemerintah untuk membiayai sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, maupun pembangunan infrastruktur.
Baca juga : Melemah Lagi, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini 28 Juli 2026?
Selain energi, penutupan Selat Bab el-Mandeb juga akan berdampak terhadap industri logistik. Pengalaman gangguan pelayaran pada 2023–2024 menunjukkan kapal harus memutar melewati Tanjung Harapan sehingga waktu pelayaran bertambah hingga 10–15 hari.
Akibatnya, biaya pengiriman kontainer meningkat, konsumsi bahan bakar kapal bertambah, dan premi asuransi pelayaran ikut naik karena risiko perjalanan menjadi lebih tinggi. Beban tersebut pada akhirnya diteruskan kepada importir maupun eksportir, kemudian dibebankan lagi kepada konsumen melalui kenaikan harga barang.
Naiknya biaya logistik dan energi akan memicu imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor. Indonesia masih mengimpor berbagai komoditas strategis, mulai dari energi hingga bahan baku industri.
Ketika ongkos pengiriman meningkat dan harga energi naik, biaya produksi perusahaan juga bertambah sehingga harga jual produk ikut terkerek. Akibatnya, masyarakat berpotensi menghadapi kenaikan harga berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari makanan, produk industri, hingga material bangunan.
Selat Bab el-Mandeb juga menjadi jalur penting distribusi berbagai bahan baku pupuk. Gangguan pasokan dapat menyebabkan harga pupuk meningkat sehingga biaya produksi sektor pertanian ikut naik.
Jika berlangsung dalam waktu lama, kondisi tersebut berpotensi mengurangi produktivitas pertanian dan meningkatkan harga pangan domestik. Dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga konsumen karena harga berbagai komoditas pangan dapat ikut naik.
Tidak hanya impor, ekspor Indonesia juga berpotensi terdampak. Sebagian besar pengiriman barang menuju Eropa memanfaatkan jalur Laut Merah dan Terusan Suez.
Data perdagangan menunjukkan sekitar 13,4% ekspor Indonesia pada Januari 2026 ditujukan ke kawasan Eropa. Apabila kapal harus memutar melalui Afrika, waktu pengiriman menjadi lebih lama sehingga biaya ekspor meningkat dan daya saing produk Indonesia di pasar internasional dapat menurun.
Baca juga : Pohon Bisnis Keluarga Riady: Dari Bank, RS Sampai Properti
Kombinasi membengkaknya impor energi dan melambatnya ekspor berpotensi memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Permintaan terhadap dolar AS untuk membayar impor meningkat, sementara penerimaan devisa dari ekspor dapat melambat.
Pelemahan rupiah pada akhirnya akan membuat harga barang impor semakin mahal dan memperbesar tekanan inflasi di dalam negeri.
Meski hingga saat ini Selat Bab el-Mandeb belum ditutup sepenuhnya, penurunan aktivitas pelayaran menunjukkan eskalasi konflik mulai memengaruhi perdagangan internasional.
Bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi dan memiliki hubungan dagang yang kuat dengan Eropa maupun Timur Tengah, gangguan berkepanjangan di jalur tersebut dapat menjadi tantangan serius.
Jika skenario penutupan total benar-benar terjadi, dampaknya tidak hanya dirasakan pelaku usaha dan pemerintah, tetapi juga masyarakat luas melalui kenaikan harga energi, pangan, biaya logistik, serta meningkatnya tekanan terhadap inflasi dan daya beli.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 29 Jul 2026