listrik
Selasa, 23 Juni 2026 10:16 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA – Status Indonesia dalam klasifikasi pasar modal global MSCI menjadi sorotan menjelang rilis MSCI Market Classification Review pada 23 Juni 2026. Sejumlah kekhawatiran muncul terkait kemungkinan Indonesia mengalami penurunan peringkat dari Emerging Market (EM) menjadi Frontier Market (FM) akibat melemahnya penilaian pada aspek aksesibilitas pasar.
Namun, pengamat pasar modal Hans Kwee menilai peluang Indonesia turun kelas sangat kecil. Berdasarkan hasil MSCI Accessibility Review 2026, posisi Indonesia masih relatif kuat dibandingkan banyak negara berkembang lainnya.
“Melihat hal ini Indonesia tidak mungkin turun ke Frontier Market pada MSCI Market Classification Review 23 Juni. Harusnya interim freeze MSCI terhadap Indonesia juga dapat dibuka pada 23 Juni 2026 ini,” ujar Hans Kwee, dalam keterangan tertulisnya dikutip Senin, 22 Juni 2026.
Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: AMRT dan INCO Naik, MBMA Turun
MSCI menilai aksesibilitas pasar menggunakan 18 kriteria dengan tiga kategori penilaian, yaitu:
Menurut Hans Kwee, hasil penilaian Indonesia masih menunjukkan daya saing yang kuat. “MSCI memakai 18 kriteria dan posisi Indonesia terlihat masih sangat baik.” jelasnya
Indonesia memperoleh 10 kriteria bernilai “++”, 6 kriteria bernilai “+”, 2 kriteria bernilai “-”. Jika dibandingkan dengan negara berkembang lain, posisi Indonesia hanya berada di bawah Hong Kong dan Malaysia.
Perbandingan MSCI Accessibility Review Negara Emerging Market:
Indonesia masih berada di atas beberapa negara lain seperti:
Bahkan dibandingkan Vietnam yang berpotensi naik menjadi Emerging Market, posisi Indonesia dinilai jauh lebih baik. "Bila dibandingkan Vietnam yang berpotensi naik ke EM Indonesia jauh lebih unggul, dimana Vietnam hanya punya 6 kriteria bernilai ‘++’, 4 kriteria ‘+’ dan 8 kriteria ‘-’,” kata Hans.
Baca juga : IHSG 22 Juni 2026 Dibuka Naik 0,49 Persen, Ini Datanya
Berdasarkan Assessment Summary MSCI, Indonesia memperoleh nilai tertinggi “++” pada sepuluh indikator utama, yaitu:
Menariknya, pada aspek Foreign Ownership Limits dan Foreign Room, Indonesia bahkan memperoleh nilai lebih tinggi dibandingkan Hong Kong dan India. “Pada indikator Foreign Ownership Limits dan Foreign Room, Indonesia meraih nilai ‘++’ yang lebih baik dibandingkan Hong Kong (China) dan India yang hanya memperoleh ‘-’,” ujar Hans Kwee.
Dibandingkan hasil review tahun 2025, hampir seluruh indikator Indonesia bertahan. Namun, terdapat satu indikator yang mengalami penurunan, yakni Information Flow dari nilai “+” menjadi “-”. Meski demikian, Hans Kwee menilai masalah tersebut tidak bersifat permanen karena regulator telah menyiapkan langkah pembenahan.
“Terkait aspek Information Flow, sebenarnya sudah dijawab OJK dan SRO lewat agenda reformasi pasar modal. Saya melihat kriteria ini akan naik kembali pada review berikutnya.” jelas Hans
MSCI menggunakan tiga aspek utama dalam menentukan klasifikasi pasar, yakni:
Dari sisi ukuran dan likuiditas, Indonesia dinilai memenuhi syarat dengan baik. Hans Kwee menyebut Indonesia saat ini memiliki 11 saham yang memenuhi syarat kualifikasi ukuran dan likuiditas, jauh di atas ambang minimum MSCI yang hanya mensyaratkan satu saham.
“Indonesia saat ini memiliki 11 saham yang memenuhi syarat kualifikasi ukuran dan likuiditas. Ini melampaui ambang minimum satu saham yang dipersyaratkan, sehingga Indonesia kami perkirakan akan dipertahankan statusnya di Emerging Market.” ungkapnya
Karena itu, penurunan satu indikator aksesibilitas tidak cukup untuk mengubah status Indonesia menjadi Frontier Market. “Penurunan satu kriteria aksesibilitas dalam hal ini Information Flow tidak dapat memicu reklasifikasi posisi Indonesia dari EM ke Frontier Market (FM),” tegasnya.
Baca juga : Aturan Baru Outsourcing 2026: Hanya 6 Sektor Pekerjaan yang Boleh Dialihdayakan
Menurut Hans Kwee, terdapat dua kemungkinan hasil dari MSCI Market Classification Review 2026. Skenario terbaik adalah Indonesia tetap berada di kategori Emerging Market sekaligus mendapatkan pencabutan status interim freeze. “Peluang terbaik kita adalah Indonesia bertahan di EM diikuti pencabutan interim freeze.” ungkapnya.
Namun, terdapat kemungkinan lain yakni Indonesia tetap berada di kategori Emerging Market, tetapi status interim freeze belum dicabut. Meski demikian, Hans menilai kondisi tersebut tidak akan menekan pasar saham Indonesia lebih dalam.
“Perlu kita pahami saat ini interim freeze tidak membuat saham Indonesia tertekan turun lagi, karena saham-saham yang seharusnya keluar dari indeks MSCI sudah terjadi. Interim freeze hanya akan menunda potensi saham-saham Indonesia untuk masuk ke dalam indeks MSCI pada review Agustus.” tutupnya
Dengan posisi aksesibilitas pasar yang masih kompetitif, jumlah saham yang memenuhi standar MSCI yang jauh di atas syarat minimum, serta agenda reformasi pasar modal yang sedang berjalan, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mempertahankan statusnya sebagai bagian dari kelompok Emerging Market MSCI.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 22 Jun 2026