Mengapa Penyakit yang Identik Lansia Kini Banyak Menyerang Anak Muda?

Jumat, 29 Mei 2026 19:29 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Redaksi

Mengapa Penyakit yang Identik Lansia Kini Banyak Menyerang Anak Muda?
Mengapa Penyakit yang Identik Lansia Kini Banyak Menyerang Anak Muda? (freepik.com/jcomp)

JAKARTA – Selama bertahun-tahun, penyakit saraf seperti stroke, penurunan daya ingat, hingga gangguan saraf lainnya identik dengan usia lanjut. Namun, anggapan tersebut kini mulai bergeser.

Berbagai rumah sakit mencatat peningkatan kasus gangguan neurologis pada kelompok usia muda, termasuk mereka yang masih berada di rentang usia 20 hingga 30 tahun. Tren ini pun menjadi perhatian serius para ahli saraf dan pakar kesehatan masyarakat.

Menurut Dr Deep Das, seorang ahli saraf di CK Birla Hospitals, CMRI Kolkata, gaya hidup modern berperan besar dalam mempercepat penuaan otak. Jam kerja yang panjang, stres berkepanjangan, kurang tidur, pola makan tidak sehat, minim aktivitas fisik, serta penggunaan layar berlebihan secara perlahan menggerogoti kesehatan otak dan pembuluh darah.

Faktor-faktor tersebut kerap tidak disadari selama bertahun-tahun, hingga akhirnya sebuah kejadian medis serius membuat pasien usia muda harus dirawat di rumah sakit. Para dokter menekankan bahwa kesadaran sejak dini serta upaya pencegahan kini menjadi semakin penting.

“Kebiasaan-kebiasaan ini merusak kesehatan otak dan pembuluh darah secara perlahan. Dampaknya sering tidak disadari sampai akhirnya muncul kondisi yang serius,” kata Das, dilansir dari India Today.

Stres berkepanjangan dan kualitas tidur yang buruk menjadi dua faktor utama yang mempercepat penuaan otak. Tuntutan kerja tinggi, konektivitas digital yang nyaris tanpa jeda, dan kurangnya waktu istirahat menghambat kemampuan otak untuk memulihkan diri.

Seorang anak muda sedang stres. (freepik.com)

Selain itu, gaya hidup sedentari atau minim bergerak juga menghambat aliran darah ke otak. Pola makan yang tinggi gula, garam, dan lemak memicu peradangan yang dalam jangka panjang berdampak pada gangguan memori, konsentrasi, dan fungsi otak secara keseluruhan.

Dr Deep Das menegaskan bahwa pemeriksaan kesehatan sejak dini, pengelolaan stres, dan perubahan gaya hidup dapat secara signifikan menurunkan risiko kerusakan saraf jangka panjang.

Pemeriksaan rutin, pemantauan tekanan darah dan gula darah, aktivitas fisik, asupan gizi seimbang, serta tidur yang cukup menjadi langkah yang penting untuk menjaga kesehatan otak.

Selain itu, pemeriksaan saraf tepat waktu ketika muncul tanda peringatan seperti sakit kepala berkepanjangan, mati rasa, gangguan ingatan, atau kelemahan mendadak dapat mencegah kecacatan permanen.

Meningkatnya penyakit saraf yang identik dengan usia lanjut pada kalangan dewasa muda menjadi peringatan serius. Meski kehidupan modern menawarkan kemudahan dan kecepatan, risiko kesehatan yang menyertainya kini tidak bisa lagi diabaikan.

Para ahli sepakat bahwa menjaga kesehatan otak harus dimulai sejak dini, melalui peningkatan kesadaran, pencegahan, dan pilihan gaya hidup yang lebih sehat, jauh sebelum gejala berat muncul.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Distika Safara Setianda pada 25 Dec 2025