media sosial
Selasa, 27 Januari 2026 17:03 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA–Media sosial kini telah menjadi bagian dari keseharian banyak orang. Jika dulu fungsinya sekadar untuk menjaga komunikasi dengan teman dan keluarga, sekarang platform ini berkembang menjadi ruang yang membuat batas antara keaslian dan kepalsuan semakin kabur, seiring munculnya berbagai tren yang memicu kekhawatiran.
Salah satu tren tersebut adalah sadfishing. Menurut definisi para peneliti dalam Journal of American College Health tahun 2021, sadfishing merujuk pada perilaku pengguna media sosial yang cenderung melebih-lebihkan kondisi emosional mereka secara online demi meraih simpati.
Praktiknya bisa muncul dalam bentuk unggahan foto bernuansa muram, kutipan bernada sedih, atau postingan ambigu yang sengaja dibuat untuk menarik perhatian, empati, maupun validasi dari orang lain.
Sesekali membagikan perasaan rapuh atau emosional di media sosial adalah hal yang wajar dan tidak selalu buruk. Namun, jika dilakukan secara berlebihan, hal tersebut bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan mental yang lebih serius bahkan menjadi bentuk permintaan bantuan yang tersembunyi.
Dilansir dari Psychology Today, meski beberapa perjuangan ini memang nyata, tren terbaru yang disebut sadfishing merujuk pada tindakan melebih-lebihkan atau memalsukan masalah emosional seseorang untuk mendapatkan perhatian dan simpati.
Sebagai contoh, seseorang mungkin mengunggah, “Aku tidak percaya betapa sulitnya hidupku saat ini. Sepertinya tidak ada yang pernah berjalan lancar untukku,” disertai dengan swafoto sedih dan emoji menangis, tanpa memberikan detail spesifik.
Dilansir dari drmini.co, istilah sadfishing yang diperkenalkan oleh jurnalis Rebecca Reid merujuk pada tindakan mengunggah kisah tentang kesulitan pribadi di media sosial dengan tujuan mendapatkan perhatian atau simpati. Berdasarkan laporan berita terbaru, perilaku ini lebih sering ditemukan pada remaja dan anak muda.
Perlu dipahami bahwa istilah sadfishing bukanlah bentuk kecaman terhadap orang-orang yang secara terbuka membagikan perjuangan kesehatan mental mereka secara daring. Sebaliknya, keterbukaan mengenai masalah kesehatan mental justru dapat membantu mengurangi stigma dalam mencari pertolongan.
Hal ini juga menantang kebiasaan masyarakat yang cenderung diam terhadap perasaan tidak bahagia dan gangguan kesehatan mental. Meski demikian, terlalu sering mengunggah konten tentang perasaan depresi di media sosial bukanlah kebiasaan yang sehat.
Seperti yang dituliskan Reid, tidak ada yang salah dengan membagikan perasaan secara online jika itu memang dibutuhkan. Namun, kaum muda dan siapa pun yang sedang menghadapi masalah kesehatan mental sebaiknya tidak menjadikan Instagram atau platform media sosial lainnya sebagai satu-satunya sumber dukungan emosional.
Sebagian orang mengalami rasa kurang percaya diri, kesepian, atau kurangnya dukungan emosional dari lingkungan sekitar. Akibatnya, media sosial dimanfaatkan sebagai sarana untuk mencari perhatian dan validasi, dengan membagikan unggahan bernada emosional guna mendapatkan simpati dari teman maupun para pengikutnya.
Di tengah budaya media sosial yang menuntut tampilan hidup yang selalu bahagia dan sempurna, banyak individu merasa terbebani untuk menampilkan citra yang tidak sejalan dengan keadaan emosional mereka. Ketimpangan tersebut membuat sebagian orang meluapkan perasaan yang sebenarnya melalui praktik sadfishing sebagai upaya untuk mendapatkan dukungan emosional.
Ada juga individu yang dengan sengaja memanfaatkan sadfishing sebagai cara untuk menarik perhatian khalayak. Unggahan yang sarat emosi digunakan sebagai strategi untuk meningkatkan keterlibatan, meraih simpati, dan menambah jumlah pengikut di media sosial.
Di samping itu, bagi sebagian orang, mengungkapkan perasaan secara langsung terasa tidak mudah. Karena itu, media sosial dipandang sebagai ruang yang lebih aman dan praktis untuk menyalurkan emosi, sehingga sadfishing dijadikan pilihan untuk mengekspresikan perasaan yang selama ini dipendam.
Dilansir dari Parents, para peneliti menemukan bahwa, dalam sebagian besar kasus, respons terhadap unggahan sadfishing bersifat positif dan mendukung. Namun dalam beberapa kasus, terdapat respons negatif yang dapat menyebabkan peningkatan stres atau kecemasan.
Dr. Nissim-Matheis mengingatkan, ketika sebuah unggahan di media sosial gagal mendapatkan respons simpatik, unggahan tersebut juga dapat menjadi forum untuk ejekan dan cemoohan, terutama jika unggahan tersebut otentik.
Dan meskipun respons apa pun dapat memvalidasi perasaan anak muda yang merasa tidak dilihat dan tidak didengar, hal itu dapat membuat mereka rentan terhadap pelanggaran privasi dan perilaku predator. Dan interaksi tertentu di media sosial telah dikaitkan dengan perilaku menyakiti diri sendiri.
Perlu kamu tahu, ketergantungan pada validasi dari orang lain dapat melemahkan rasa percaya diri dan memperburuk tekanan emosional. Bukannya merasa lebih baik, pelaku justru berpotensi merasakan kehampaan ketika perhatian yang diharapkan tidak terpenuhi.
Bagi audiens, konten sadfishing yang berlebihan dapat memicu kelelahan emosional, rasa tidak nyaman, hingga mengurangi empati secara perlahan. Dalam jangka panjang, hal ini membuat suasana media sosial dipenuhi oleh nuansa dan energi negatif.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Distika Safara Setianda pada 26 Jan 2026