kemarau
Senin, 25 Mei 2026 09:05 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA - Satu istilah kini mulai menghantui petani, pedagang pasar, hingga pemerintah, yaitu El Nino.
Fenomena alam ini dikenal mampu memengaruhi banyak aspek kehidupan di berbagai negara, mulai dari cuaca, produksi pangan, hingga kondisi ekonomi masyarakat.
Namun El Nino yang diperkirakan terjadi pada 2026 disebut bukan fenomena biasa. Sejumlah ilmuwan menilai kekuatannya berpotensi menjadi salah satu yang paling ekstrem dalam beberapa dekade terakhir, bahkan dijuluki “Godzilla”. Pertanyaannya, seberapa besar dampaknya terhadap harga kebutuhan pokok dan kondisi keuangan masyarakat?
BACA JUGA: Tips Cerdas Menanam Cabai di Lahan Terbatas Agar Makin Irit Belanja!
El Nino merupakan fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normal yang terjadi di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Pemanasan ini mengakibatkan bergesernya potensi pertumbuhan awan dari wilayah Indonesia ke wilayah Samudra Pasifik Tengah dan Timur.
Sederhananya, awan-awan yang biasanya "mangkal" di atas Indonesia dan menurunkan hujan, "kabur" ke tengah Pasifik. Hasilnya? Indonesia jadi kering kerontang, sementara Amerika Selatan justru banjir.
BMKG menegaskan, musim kemarau dan El Nino merupakan dua fenomena yang berbeda dan tidak saling bergantung secara langsung. Musim kemarau adalah siklus tahunan, sedangkan El Nino merupakan fenomena global yang terjadi akibat pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik.
Namun, kehadiran El Nino dapat memperkuat dampak musim kemarau, terutama dalam menurunkan curah hujan dan memperpanjang periode kering. Kalau musim kemarau biasa sudah bikin sumur kering, bayangkan musim kemarau yang diperparah El Nino sekaligus.
Baca juga : Menafsir Pesta Babi: Orang Adat sebagai Filter Kapitalisme Global
Ini bagian yang bikin merinding. Dilansir laman BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) menyebut El Nino 2026 akan punya intensitas super kuat yang dapat meningkatkan suhu 1,5–2 derajat Celcius berdasarkan berbagai model prediksi.
Berdasarkan proyeksi terbaru, peluang terjadinya El Nino dengan intensitas kuat pada 2026 mencapai sekitar 51%, terutama pada periode Juni hingga November.
Badan meteorologi Jepang memperkirakan peluang kemunculan El Nino mencapai 70 persen pada musim panas 2026 di belahan bumi utara. Sementara China mewanti-wanti fenomena ini bisa bertahan hingga akhir tahun, dan India mulai bersiap menghadapi musim hujan yang di bawah normal untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
BMKG memproyeksikan fase netral ENSO saat ini akan berkembang menjadi El Nino dengan intensitas moderat hingga kuat. Fenomena tersebut diperkirakan terjadi pada periode Mei hingga Juli 2026.
Selain El Nino, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif diprediksi mulai terbentuk pada Mei 2026, yang dapat memperparah kondisi dengan mengurangi suplai uap air ke atmosfer Indonesia.
Dua fenomena iklim sekaligus, El Nino + IOD positif adalah kombinasi paling destruktif untuk sektor pertanian Indonesia.
Indonesia bukan sekadar "terdampak", secara geografis, kita adalah salah satu negara yang paling terpukul tiap kali El Nino datang.
Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur (NTT) diperkirakan paling awal merasakan dampak kemarau kering. Kondisi ini menjadi perhatian serius, mengingat wilayah tersebut termasuk lumbung padi nasional. Kekeringan yang lebih lama berpotensi mengganggu produksi pertanian, terutama padi, palawija, dan hortikultura.
Pada tahun 2023, El Nino super kuat membawa kekeringan parah di wilayah selatan ekuator, terutama Pulau Jawa dengan bidang pertanian yang tertekan. Sebagai daerah sentra padi, berbagai wilayah di pantai utara (pantura) Pulau Jawa terdampak kekeringan parah yang berujung gagal panen.
Kombinasi El Nino dan IOD positif diprediksi akan berlangsung sepanjang musim kemarau, dari April hingga Oktober 2026. "Pembentukan awan dan hujan terkonsentrasi di atas Samudra Pasifik. Sebaliknya, wilayah Indonesia mengalami minim awan dan hujan," terang peneliti BRIN, Erma.
Data historis membuktikan betapa berbahayanya fenomena ini bagi ketahanan pangan nasional.
El Nino pada tahun 1997/1998 menyebabkan penurunan produksi padi sebesar 3,6 persen dibandingkan tahun 1997 dan hingga 6 persen dibandingkan tahun 1996. Krisis saat itu tidak hanya menekan produksi, tetapi juga memicu lonjakan harga pangan yang memperburuk krisis ekonomi nasional.
Yang lebih dekat dengan kita, El Nino tahun 2024 menyebabkan penurunan produksi beras sebesar 2,28 juta ton pada periode Januari hingga April, atau turun 17,52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Turun 17,52% dalam hitungan bulan. Bukan angka kecil untuk negara dengan 280 juta penduduk.
Baca juga : Under Invoicing, Muslihat Ekspor yang Bikin RI Tekor Ribuan Triliun
Ini yang paling relevan buat kehidupan sehari-hari kita,
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah memperketat pengawasan harga pangan dan memastikan ketersediaan pangan tetap terjaga di tengah potensi dampak El Nino dan gangguan pasokan global, khususnya komoditas strategis seperti kedelai.
BMKG mengimbau seluruh pihak untuk melakukan langkah antisipasi sejak dini. Pemerintah menyiapkan langkah untuk menjaga produksi pangan tetap berjalan, termasuk manajemen irigasi yang lebih ketat karena El Nino berpotensi menyebabkan kemarau lebih panjang dari biasanya dan dapat memengaruhi ketersediaan air untuk kebutuhan irigasi pertanian.
Langkah-langkah mitigasi yang perlu dilakukan antara lain pengelolaan sumber daya air yang lebih baik melalui pembuatan waduk, embung, dan sistem irigasi yang efisien, serta penggunaan varietas tanaman tahan kekeringan untuk mengurangi dampak terhadap hasil pertanian. Diversifikasi sumber mata pencaharian juga perlu didorong agar petani dan nelayan tidak sepenuhnya bergantung pada satu sumber pendapatan.
Di sinilah yang paling relevan buat kamu,
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 25 May 2026