sri mulyani
Rabu, 16 September 2026 11:39 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA – Pergantian Menteri Keuangan (Menkeu) dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara menjadi perhatian pelaku pasar. Pasalnya, posisi Menkeu memegang peranan penting dalam menentukan kebijakan fiskal, termasuk belanja negara, pengelolaan utang, serta berbagai strategi untuk menopang pertumbuhan ekonomi.
Perubahan kepemimpinan di Kementerian Keuangan juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar saham. Investor kini tidak hanya melihat sosok Suahasil Nazara sebagai Menkeu baru, tetapi juga mencermati arah kebijakan yang akan ditempuh. Fokusnya adalah apakah pergantian tersebut akan membawa perubahan pada kebijakan fiskal atau tetap melanjutkan arah kebijakan yang telah berjalan sebelumnya.
Pasar saham akan membaca sinyal dari kebijakan terkait likuiditas, belanja pemerintah, suku bunga, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pengelolaan utang, serta program prioritas pemerintah. Perubahan ekspektasi pada faktor-faktor tersebut dapat memberikan dampak berbeda terhadap masing-masing sektor saham.
Sejumlah analis dan pelaku pasar menilai terdapat sedikitnya lima sektor saham yang paling sensitif terhadap pergantian Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa ke Suahasil Nazara, berikut ulasannya.
BACA JUGA: Benarkah Kebijakan Suahasil Ikuti Jejak Sri Mulyani? Ungkap Jawabannya di Sini
Perbankan, khususnya bank-bank BUMN atau Himbara, menjadi sektor yang paling langsung merespons perubahan ekspektasi kebijakan fiskal.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan perbankan sangat sensitif terhadap ekspektasi pertumbuhan ekonomi, likuiditas, belanja pemerintah, serta kebijakan kredit.
"Pasar saham menyukai kepastian dan kesinambungan kebijakan fiskal, sehingga jika setelah pengumuman reshuffle saham bank-bank besar menguat, berarti investor sementara ini menilai pergantian tersebut tidak menimbulkan risiko sistemik baru dan bahkan membuka ekspektasi terhadap kebijakan fiskal yang lebih pro-pertumbuhan," jelas Nafan.
Respons tersebut tercermin dari penguatan sejumlah saham bank besar setelah pengumuman pergantian Menkeu. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) tercatat menguat 3,98%, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) naik 3,40%, sedangkan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) meningkat 3,20%.
Bagi investor, kebijakan fiskal yang lebih ekspansif berpotensi meningkatkan aktivitas ekonomi dan kebutuhan pembiayaan, sekaligus memperbaiki ekspektasi terhadap pertumbuhan kredit.
Baca juga : Rupiah Fluktuatif, Pasar Cerna Pergantian Menteri Keuangan
Sektor konstruksi dan infrastruktur memiliki ketergantungan yang relatif besar terhadap belanja pemerintah, termasuk pembangunan proyek strategis dan belanja modal.
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, mengatakan sektor konstruksi biasanya menjadi salah satu sektor pertama yang mengalami efisiensi apabila belanja negara dialihkan untuk subsidi maupun bantuan sosial.
Dengan demikian, arah APBN menjadi faktor penting bagi prospek emiten konstruksi. Ketika pemerintah meningkatkan belanja infrastruktur, sektor ini berpotensi memperoleh katalis positif. Sebaliknya, efisiensi anggaran dapat menekan prospek kontrak baru dan arus kas perusahaan.
Properti menjadi sektor lain yang sensitif terhadap kebijakan Menkeu karena pergerakannya dipengaruhi oleh suku bunga, yield obligasi, biaya pembiayaan, dan daya beli masyarakat.
David Kurniawan menilai sektor properti sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga apabila pemerintah terus meningkatkan penerbitan utang yang kemudian mendorong kenaikan yield obligasi.
Namun, arah kebijakan fiskal yang pro-pertumbuhan dapat memberikan sentimen berbeda. Jika pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat meningkat, permintaan terhadap properti berpotensi ikut terdorong.
Baca juga : Peluang di Balik Melambatnya Transaksi Kripto RI
Sektor konsumsi, baik consumer staples maupun consumer discretionary, juga dapat menerima dampak dari perubahan arah kebijakan fiskal.
Peningkatan belanja pemerintah, bantuan sosial (bansos), hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat meningkatkan aktivitas ekonomi dan permintaan terhadap berbagai produk konsumsi.
David Kurniawan mengatakan defisit APBN yang lebar biasanya berkaitan dengan peningkatan belanja untuk bansos dan program seperti MBG yang dapat memberikan keuntungan bagi emiten makanan dan minuman.
Sejumlah saham yang dapat diperhatikan investor dari rantai pasok konsumsi antara lain PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).
Sektor energi dan komoditas juga tidak terlepas dari arah kebijakan fiskal pemerintah, khususnya terkait hilirisasi, investasi, dan program prioritas nasional.
David Kurniawan menilai defisit APBN menunjukkan sinyal bahwa pemerintah agresif membelanjakan anggaran untuk sejumlah program prioritas, termasuk hilirisasi. Kondisi tersebut membuat saham emiten nikel, tembaga, dan emas masih menarik untuk diperhatikan.
Selain komoditas mineral, saham sektor energi seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) juga dapat merespons perubahan ekspektasi terhadap kebijakan energi dan komoditas pemerintah.
Meski pergantian Menkeu dapat memicu volatilitas jangka pendek, pelaku pasar menilai respons positif IHSG tidak serta-merta menunjukkan seluruh persoalan fiskal telah selesai.
Praktisi pasar modal Hendra Wardana juga menilai penguatan IHSG lebih mencerminkan relief rally, yakni respons positif karena pasar memperoleh kepastian mengenai figur yang mengisi posisi Menkeu.
Baca juga : Meneropong Prospek IHSG Usai Suahasil Nazara Geser Purbaya
Sementara itu, Rully Arya Wisnubroto dari Mirae Asset Sekuritas menyoroti mandat Presiden kepada Menkeu baru untuk mempercepat pencapaian target pertumbuhan ekonomi 8%.
Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy menilai rebound IHSG menunjukkan pasar cukup menerima Suahasil sebagai figur yang memberikan kontinuitas kebijakan.
Sensitivitas pasar terhadap posisi Menkeu juga digambarkan oleh penulis Hamid Basyaib. Menurutnya, posisi Menkeu sangat strategis karena perubahan kecil dalam kebijakan maupun sentimen yang muncul dari kementerian tersebut dapat langsung memengaruhi pasar.
Dengan demikian, perbankan, konstruksi dan infrastruktur, properti, konsumsi, serta energi dan komoditas menjadi lima sektor yang perlu diperhatikan investor setelah pergantian Menkeu.
Namun, arah pergerakan saham ke depan tetap akan sangat bergantung pada kebijakan konkret pemerintah, realisasi belanja negara, pengelolaan defisit dan utang, arah suku bunga, serta kemampuan pemerintah menjaga kredibilitas fiskal. Respons awal pasar terhadap pergantian Menkeu belum dapat menjadi indikator tunggal untuk menentukan tren IHSG dalam jangka panjang.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 15 Sep 2026