Investor
Kamis, 05 Februari 2026 17:14 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA—Di tengah ancaman resesi serta ketidakpastian ekonomi global, generasi muda disarankan untuk memiliki literasi keuangan yang kuat dan mulai berinvestasi sejak dini. Pemahaman mengenai manajemen risiko serta strategi diversifikasi aset menjadi aspek penting agar investasi tidak berujung pada kerugian besar.
Guru Besar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Agus Setyawan, menilai anak muda saat ini memiliki keunggulan dalam hal kecepatan mengakses informasi serta kejelian dalam melihat peluang pasar.
Namun demikian, ia menekankan pentingnya satu prinsip dasar yang tidak boleh diabaikan, yaitu diversifikasi portofolio. Artinya, investor muda sebaiknya tidak menempatkan seluruh dana pada satu jenis instrumen investasi saja.
“Rumusnya sebenarnya cuma satu, don't put your eggs in one basket. Jangan taruh telur pada satu keranjang yang sama. Portofolionya harus disebar, tujuannya agar ketika terjadi risiko di satu instrumen, aset di tempat lain masih aman dan masih memberikan keuntungan,” ujarnya dalam keterangan pada TrenAsia.id, Senin 26 Januari 2026.
Anton menganjurkan anak muda memilah tujuan keuangan mereka dengan jelas. Untuk dana yang diperuntukkan sebagai simpanan jangka panjang, lebih baik memilih instrumen yang aman seperti Surat Berharga Negara (SBN) atau obligasi.
BACA JUGA: 7 Kebiasaan Kelas Menengah yang Cuma Pura-pura Kaya
Sedangkan bagi yang menginginkan pertumbuhan aset lebih agresif, bisa mengalokasikan sebagian kecil dari dana 'uang jajan' mereka ke instrumen berisiko tinggi seperti saham atau mata uang kripto, dengan syarat harus benar-benar siap menanggung risikonya.
Pakar ekonomi UMS ini memberikan apresiasi terhadap tren generasi muda yang mulai mempelajari trading dan investasi lewat aplikasi yang legal serta berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Dalam pandangannya, pengalaman mengalami kerugian di tahap awal merupakan bagian penting dari pembelajaran untuk membentuk mental investor yang kuat, selama tidak menggunakan dana untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
“Investasi itu harus siap dengan kerugian yang mungkin tumbuh. Kalau uang investasi rugi kok sambat (mengeluh), berarti belum siap. Anak muda sekarang pintar, mereka tahu porsi mana yang buat tabungan, mana yang buat main-main cari tambahan uang jajan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Anton menegaskan betapa pentingnya memiliki kemampuan melakukan analisis fundamental dan teknikal sebelum masuk ke dunia pasar modal. Dia juga mengingatkan pentingnya bersikap rasional dan selalu waspada terhadap aplikasi investasi ilegal yang menjanjikan keuntungan yang tidak realistis dalam waktu singkat.
“Sebaiknya pilih yang sudah terdaftar di OJK dan Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM). Situasi ekonomi makin uncertain (tidak pasti), jadi akan lebih baik kalau anak muda punya portofolio investasi yang lengkap selain pekerjaan utama mereka," tuturnya.
Diketahui, potensi resesi ekonomi di Indonesia pada 2026 dinilai meningkat akibat pertumbuhan ekonomi yang stagnan di kisaran 5% dan penurunan daya beli masyarakat. Survei menunjukkan risiko resesi global, termasuk di AS, meningkat menjadi 40% karena kebijakan tarif, dengan potensi kontraksi kuartalan di Indonesia.
Baca Juga: Lima Resesi Global Pascaperang yang Mengubah Ekonomi Dunia
Ekonomi RI diperkirakan stagnan dengan potensi pertumbuhan melambat, di mana beberapa sektor mengalami kontraksi seperti jasa pendidikan, pertambangan, dan konstruksi pada awal 2025.
Resesi terjadi ketika PDB mengalami kontraksi selama dua kuartal atau lebih berturut-turut, seringkali disertai dengan peningkatan pengangguran, penurunan daya beli, dan melambatnya aktivitas produksi.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Chrisna Chanis Cara pada 26 Jan 2026