5 Resesi Global Pascaperang yang Ubah Kondisi Ekonomi Dunia

Senin, 26 Januari 2026 13:31 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Redaksi

Resesi Global Usai Perang yang Picu Perubahan Ekonomi Dunia
Resesi Global Usai Perang yang Picu Perubahan Ekonomi Dunia (null)

JAKARTA - Sejak Perang Dunia II berakhir, perekonomian dunia memasuki periode pertumbuhan yang pesat dan sering disebut sebagai Golden Age of Capitalism.

Masa ini ditandai oleh percepatan industrialisasi, lonjakan produktivitas, serta meluasnya perdagangan antarnegara. Meski demikian, di balik laju pertumbuhan tersebut, sistem ekonomi global tetap rentan terhadap berbagai guncangan.

Dalam hampir delapan puluh tahun setelah perang, para ekonom sepakat bahwa dunia setidaknya telah mengalami lima kali resesi global besar, yaitu pada tahun 1975, 1982, 1991, 2009, dan 2020.

BACA JUGA: 5 Negara Ini Terancam jadi Target Trump Usai Venezuela

Kelima episode ini bukan hanya menandai kontraksi ekonomi lintas negara, tetapi juga mengubah arah kebijakan ekonomi dunia. Dirangkum TrenAsia dari berbagai sumber, Jumat, 23 Januari 2025, berikut ulasan lima resesi global yang pernah mengguncang dunia,

Resesi Global Usai Perang yang Picu Perubahan Ekonomi Dunia

Resesi Global Usai Perang yang Picu Perubahan Ekonomi Dunia

Stagflasi 1975

Resesi global pertama pasca-Perang Dunia II terjadi pada 1975, dipicu oleh embargo minyak OPEC pada tahun1973. Lonjakan tajam harga minyak menghantam negara-negara industri yang sangat bergantung pada energi fosil, terutama Amerika Serikat dan Eropa Barat.

Krisis ini melahirkan fenomena baru dalam ekonomi modern, stagflasi, yaitu kombinasi inflasi tinggi dan pengangguran yang meningkat secara bersamaan. 

Model ekonomi Keynesian (aliran pemikiran ekonomi yang menekankan bahwa pemerintah perlu aktif campur tangan dalam perekonomian untuk menjaga stabilitas, terutama saat krisis) yang dominan saat itu terbukti kesulitan menjelaskan situasi tersebut. 

Resesi 1975 sekaligus menandai berakhirnya era pertumbuhan stabil pascaperang dan memaksa banyak negara melakukan penyesuaian struktural.

Baca juga : Belajar Menikmati Hidup Lewat Film Perfect Days

Resesi 1982

Resesi berikutnya datang pada 1982, ketika Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Paul Volcker menaikkan suku bunga secara agresif untuk menekan inflasi yang membandel. 

Kebijakan yang dikenal sebagai Volcker Shock ini memang berhasil menurunkan inflasi, tetapi dengan biaya ekonomi yang sangat besar.

Pengangguran di AS melonjak hingga hampir 11 persen, sementara dampaknya jauh lebih parah dirasakan negara-negara berkembang. 

Kenaikan suku bunga global membuat beban utang negara-negara Amerika Latin membengkak, memicu krisis utang yang berkepanjangan dan memperlambat pembangunan selama satu dekade.

Resesi 1991

Awal 1990-an ditandai oleh perubahan besar dalam tatanan dunia. Runtuhnya Uni Soviet, Reunifikasi Jerman, Perang Teluk, dan ketidakpastian geopolitik global menciptakan guncangan ekonomi yang signifikan. Lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah kembali menjadi pemicu utama.

Di Amerika Serikat, krisis ini diperparah oleh masalah di sektor perbankan dan properti. Resesi 1991 relatif lebih singkat dibandingkan episode lain, tetapi menjadi sinyal bahwa faktor geopolitik dan transisi sistem global dapat menjadi sumber instabilitas ekonomi.

Resesi 2009

Resesi 2009, yang dikenal sebagai The Great Recession, merupakan krisis ekonomi terparah sejak Depresi Besar 1930-an. Krisis ini berawal dari pecahnya gelembung perumahan di Amerika Serikat akibat praktik kredit berisiko tinggi (subprime mortgage).

Kebangkrutan lembaga keuangan besar memicu kolapsnya sistem keuangan global. Perdagangan dunia anjlok, pengangguran melonjak, dan kepercayaan terhadap pasar keuangan runtuh. 

Krisis ini mendorong reformasi besar dalam regulasi keuangan global, termasuk penguatan pengawasan perbankan dan kebijakan stimulus fiskal skala masif.

Resesi 2020

Resesi global terbaru terjadi pada 2020, dipicu oleh pandemi COVID-19. Tidak seperti krisis sebelumnya, resesi ini bukan berasal dari ketidakseimbangan ekonomi atau keuangan, melainkan dari bencana kesehatan global yang memaksa pemerintah melakukan lockdown.

Aktivitas ekonomi berhenti mendadak, PDB global mengalami kontraksi terdalam sejak 1930-an, sementara tingkat pengangguran di Amerika Serikat melonjak hingga 14,8 persen. 

Meski pemulihan relatif cepat berkat stimulus fiskal dan moneter besar-besaran, pandemi meninggalkan luka struktural berupa gangguan rantai pasok dan lonjakan utang publik.

Baca juga : Raih Kontrak PLTS Tobelo, Saham KEEN Salah Harga?

Pola yang Terlihat dari Lima Resesi Global

Dari lima episode tersebut, terlihat beberapa pola penting. Pertama, pemicu resesi semakin beragam, mulai dari guncangan komoditas, kebijakan moneter, krisis keuangan, hingga pandemi. 

Kedua, Amerika Serikat memainkan peran sentral dalam penularan krisis global, baik sebagai sumber guncangan maupun sebagai jangkar stabilisasi.

Ketiga, periode “pascaperang” lebih tepat dipahami sebagai konteks awal pertumbuhan, bukan penyebab resesi. Resesi muncul ketika ekspansi ekonomi global menciptakan ketidakseimbangan baru, seperti inflasi, gelembung aset, atau ketergantungan berlebihan pada sektor tertentu.

Sejarah menunjukkan resesi global pasca-Perang Dunia II bukanlah anomali, melainkan bagian dari dinamika sistem ekonomi dunia. Meski tidak lagi dipicu oleh perang besar, krisis tetap muncul dari kerentanan struktural dalam ekonomi global yang saling terhubung.

Memahami pola resesi masa lalu menjadi kunci untuk membaca risiko ke depan, terutama di tengah ketegangan geopolitik, perubahan iklim, dan transformasi teknologi yang terus membentuk wajah ekonomi dunia.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 26 Jan 2026