Usia 20-an Menentukan Masa Depan Finansial, Hindari 8 Kesalahan Ini

Usia 20-an Menentukan Masa Depan Finansial, Hindari 8 Kesalahan Ini (freepik)

JAKARTA - Banyak orang menyebut usia 20-an sebagai periode paling penting dalam membangun kondisi keuangan di masa depan. Alasannya bukan karena pada usia tersebut seseorang sudah memiliki penghasilan atau kekayaan besar, melainkan karena setiap keputusan finansial yang diambil sejak dini dapat memberikan dampak jangka panjang berkat efek bunga majemuk (compound interest).

Para pakar keuangan menilai waktu adalah modal terbesar yang dimiliki generasi muda. Dalam banyak ilustrasi, seseorang yang mulai berinvestasi sejak usia 22 tahun lalu berhenti menambah dana pada usia 30 tahun masih berpotensi memiliki aset lebih besar saat berusia 65 tahun dibandingkan orang yang baru mulai berinvestasi pada usia 35 tahun, meski terus menyetor dana hingga masa pensiun.

Hal tersebut terjadi karena uang yang diinvestasikan lebih awal memiliki waktu lebih panjang untuk bertumbuh dan menghasilkan keuntungan berulang.

BACA JUGA: 7 Rekomendasi Film Terbaru Tayang di Netflix Juli 2026, Ada 23.000 Lives!

Namun, kesalahan finansial di usia 20-an sering kali tidak muncul dalam bentuk keputusan besar yang menghancurkan kondisi ekonomi secara instan.

Sebaliknya, kesalahan tersebut muncul melalui kebiasaan kecil yang terlihat normal sehari-hari, tetapi perlahan menggerus peluang seseorang untuk membangun kekayaan.

Dilansir dari berbagai sumber, berikut delapan kesalahan finansial yang paling sering membuat anak muda sulit mencapai kebebasan finansial,

1. Terjebak Cicilan Kendaraan

Salah satu kesalahan finansial paling umum di usia 20-an adalah membeli mobil atau motor baru dengan sistem cicilan demi memenuhi kebutuhan gaya hidup, simbol status, atau menunjukkan peningkatan kondisi ekonomi.

Masalah utama dari keputusan ini adalah kendaraan merupakan aset depresiasi, yaitu barang yang nilainya terus menurun seiring waktu.

Sebuah mobil baru bahkan mengalami penurunan nilai signifikan sejak pertama kali keluar dari showroom. Ironisnya, pemilik kendaraan tidak hanya menanggung penurunan nilai tersebut, tetapi juga harus membayar bunga cicilan selama bertahun-tahun.

Para ahli keuangan menyarankan agar cicilan untuk aset yang mengalami depresiasi seperti kendaraan idealnya tidak berlangsung lebih dari dua tahun. Jika cicilan berlangsung selama lima tahun atau lebih, biaya total yang dibayar dapat jauh melebihi nilai ekonomis kendaraan tersebut.

Dampaknya, sebagian besar pendapatan bulanan akan terkunci untuk membayar kewajiban cicilan, sehingga kemampuan untuk menabung dan berinvestasi menjadi berkurang.

Uang yang seharusnya dapat berkembang melalui instrumen seperti reksa dana, saham, atau investasi produktif lainnya justru habis untuk membiayai aset yang terus kehilangan nilai.

Karena itu, anak muda disarankan memilih kendaraan sederhana sesuai kemampuan finansial dan memprioritaskan pembangunan aset investasi terlebih dahulu. Kendaraan yang lebih mahal dapat dipertimbangkan ketika kondisi keuangan telah lebih stabil, misalnya memasuki usia 30-an.

Baca juga : Lebih dari Kafe, Ini Cara Sekata Kopi Menjadi Ruang Komunitas

2. Gaji Naik, Pengeluaran Ikut Naik

Kesalahan berikutnya adalah lifestyle creep, yaitu kecenderungan seseorang meningkatkan standar hidup setiap kali pendapatannya meningkat.

Fenomena ini sering terjadi saat seseorang mendapatkan pekerjaan pertama, kenaikan gaji, bonus, atau promosi jabatan.

Alih-alih meningkatkan tabungan dan investasi, sebagian orang justru langsung menaikkan gaya hidup dengan membeli kendaraan baru, menyewa apartemen lebih mahal, sering bepergian, membeli barang bermerek, atau meningkatkan pengeluaran hiburan.

Salah satu fenomena yang banyak terjadi di kalangan generasi muda adalah doom spending, yaitu kebiasaan belanja impulsif sebagai respons terhadap stres, kecemasan, atau tekanan sosial.

Berbagai survei menunjukkan sekitar 70% anak muda berusia di bawah 30 tahun mengalami stres finansial, dan salah satu faktor yang berkontribusi adalah perilaku konsumtif yang dipengaruhi media sosial.

Media sosial menciptakan tekanan untuk mengikuti gaya hidup orang lain, mulai dari perjalanan mewah, makanan mahal, hingga barang-barang bermerk.

Memberikan penghargaan kepada diri sendiri atau self-reward memang bukan sesuatu yang salah. Namun, kebiasaan tersebut menjadi masalah ketika setiap rasa stres atau suasana hati yang buruk selalu diselesaikan dengan belanja online, nongkrong berlebihan, atau pengeluaran impulsif.

3. Tidak Memiliki Dana Darurat

Banyak orang muda beranggapan bahwa usia 20-an adalah waktu untuk menikmati hidup dan belum perlu terlalu memikirkan risiko finansial.

Padahal, kehidupan selalu memiliki ketidakpastian. Kendaraan dapat mengalami kerusakan, kebutuhan kesehatan bisa datang tiba-tiba, atau seseorang dapat kehilangan pekerjaan tanpa peringatan.

Tanpa dana darurat, satu kejadian tidak terduga dapat memaksa seseorang menggunakan utang, terutama utang berbunga tinggi seperti kartu kredit. Para perencana keuangan umumnya menyarankan dana darurat sebesar tiga hingga enam bulan biaya hidup utama.

Membangunnya tidak harus langsung dalam jumlah besar. Langkah paling efektif adalah menyisihkan sejumlah uang secara rutin dan memperlakukannya seperti kewajiban bulanan yang harus dibayar.

Baca juga : Fast Retailing Foundation Lepas Penerima Beasiswa Indonesia Studi di Jepang

4. Menunda Investasi

Banyak anak muda menunda investasi dengan alasan gaji masih kecil atau merasa masa pensiun masih terlalu jauh. Padahal, kesalahan terbesar bukan pada jumlah uang yang diinvestasikan, melainkan kehilangan waktu.

Konsep compound interest atau bunga majemuk memungkinkan keuntungan investasi menghasilkan keuntungan tambahan dari waktu ke waktu. Semakin awal seseorang mulai berinvestasi, semakin besar efek pertumbuhan yang dapat diperoleh.

Sebaliknya, mereka yang menunda investasi hingga usia 30 atau 40 tahun biasanya harus menyisihkan jumlah uang yang jauh lebih besar agar dapat mencapai tujuan keuangan yang sama.

Sebagai pedoman umum, sebagian pakar menyarankan orang berusia 20-an menyimpan sekitar 20% aset dalam bentuk kas, termasuk dana darurat, dan mengalokasikan sekitar 80% ke instrumen investasi seperti pasar modal sesuai profil risiko masing-masing.

Dalam investasi, waktu sering kali menjadi faktor yang lebih penting dibandingkan jumlah modal awal.

Baca juga : Paradoks Harga Pertamax: Naik Seketika, Turun Menunggu Lama

5. Terjebak Pinjaman Online dan Utang Konsumtif

Di Indonesia, masalah utang konsumtif melalui layanan pinjaman online atau pinjol menjadi salah satu tantangan besar bagi generasi muda.

Kemudahan akses melalui aplikasi digital membuat sebagian anak muda menggunakan pinjaman bukan untuk kebutuhan produktif, melainkan untuk memenuhi gaya hidup.

Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa sekitar 80% Generasi Z merasa lebih mudah mendapatkan uang melalui aplikasi pinjaman online ilegal dibandingkan melalui layanan pinjaman yang legal.

Sementara itu, total utang individu melalui industri fintech lending mencapai Rp61,52 triliun.

Generasi Z dan milenial menjadi kelompok dengan kontribusi terbesar dalam keterlambatan pembayaran pinjaman, dengan nilai mencapai sekitar Rp30,59 triliun.

Kondisi tersebut menunjukkan bagaimana utang yang awalnya terlihat kecil dapat berkembang menjadi masalah keuangan serius apabila tidak dikelola dengan baik.

Beberapa prinsip utama yang dapat diterapkan sejak usia 20-an diantaranya sebagai berikut

  1. Bangun disiplin finansial dengan mencatat pengeluaran, membuat anggaran, serta membayar tabungan dan investasi terlebih dahulu sebelum memenuhi keinginan.
  2. Kendalikan kenaikan gaya hidup dan jangan membiarkan peningkatan pendapatan langsung diikuti peningkatan pengeluaran.
  3. Manfaatkan waktu untuk berinvestasi sedini mungkin agar memperoleh keuntungan maksimal dari efek bunga majemuk.
  4. Hindari utang konsumtif, terutama pinjaman online ilegal dan cicilan untuk barang yang terus mengalami depresiasi.
  5. Lindungi kondisi keuangan dengan membangun dana darurat dan memiliki perlindungan asuransi yang sesuai kebutuhan.

Pada akhirnya, usia 20-an bukan tentang seberapa banyak uang yang berhasil dikumpulkan, tetapi tentang membangun kebiasaan yang menentukan kondisi finansial selama puluhan tahun berikutnya.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 27 Jun 2026 

Editor: Redaksi

Related Stories