“Trashvelling by Artists” dan Pesan-pesan Merawat Bumi

Lukisan “Menjaga Keindahan dalam kebersamaan” karya Vonny Dewi Ni Luh yang dipamerkan dalam pameran “Trashvelling by Artists”.

Denpasar, Balinesia.id – Pameran seni rupa “Trashvelling by Artists” menghadirkan sejumlah karya yang kental dengan pesan lingkungan. Sejalan dengan tujuannya, pameran yang digelar di Malu Dong Space, Jalan Sahadewa No. 20 Denpasar hingga 15 Juni 2021 ini, banyak mengeksplorasi media-media dari sampah sebagai bahan baku seninya.

Perwakilan seniman, I Made Bakti Wisaya, Senin (17/5/2021) mengatakan bahwa karya-karya yang dihadirkan memang sangat beragam. Para seniman bebas mengekspresikan diri sesuai dengan karakter masing-masing.

Made Gunawan dengan bermediakan kardus hadir dengan narasi ikan-ikannya yang khas. Ia menerapkan elemen visual berupa objek manusia dan binatang yang seakan mengendarai objek utama berupa sosok gajahmina. “Pesan yang ingin diungkapkan adalah prihal kebersamaan di semesta raya guna menjaga tatanan kehidupan alam yang seimbang,” katanya Bakti Wiyasa.

I Nyoman Loka Suara dengan media tablet sisa obat, bungkus rokok, putung rokok, dan perban menghadirkan wujud artistik yang dapat dibaca melebar dalam berbagai amatan dimensi makna. Sementara, I Made Bakti Wiyasa menampilkan lukisan dengan teknik kolase dipadu cat akrilik di atas kertas dan diatas karton. “Saya memanfaatkan media campuran dalam teknik kolase dan cat air, termasuk memanfaatkan masker-masker yang pernah saya pakai sebagai tanda kekinian di era pandemi. Karya saya menghubungkan keberadaan eksistensi kegagahan masa lampau melalui narasi tinggalan budaya tua berupa togog dengan capaian dunia masa kini akibat pandemi,” jelasnya.

Uuk Paramahita menampilkan beberapa plastik pembungkus dengan karakter buble, kemudiandirespons dengan teknik drawing yang khas serta memanfatkan karakter warana dan tekstur alami pastik kresek. Karya yang dipamerkannya berupaya mengingatkan manusia yang tengah dikepung sampah pembungkus. Selanjutnya, Ni Nyoman Sani membangun narasi-narasi kecantikan dari bahan kain perca dengan memanfaatkan teksturnya sebagai tanda dan artistik baru pada karyanya. Karyanya ingin berpesan bahwa kecantikan bisa hadir di segala dimensi.

Ni Wayan Adnyana menghadirkan sosok seperti ibu atau bumi yang perutnya dipenuhi dengan ragam wacana ke-Indonesia-an dan peringatan-peringatan akan kapasitas lingkungan yang penuh. Bumi wajib diselamatkan dari fenomena limbah dan sampah agar sang ibu bumi kembali nyaman cantik berseri.

Vonny Dewi Ni Luh menampilkan sosok-sosok berpegangan tangan di lautan di atas perahu dengan logo malu “Dong Buang Sampah Sembarangan”. Karyanya Vonny yang berjudul “Mejaga Keindahan dalam Kebersamaan” digarap dengan media campuran di atas kanvas tahun 2021. Pesan yang dibangun berupaya mengingatkan pentingnya sikap mulia dalam kebersamaan dalam menjaga alam indah ini.

Sementara itu, karya seni tiga dimensi yang memanfaatkan benda-benda temuan digarap apik oleh I Made Somadita, A.A. Putu Oka Astika, Vonny Dewi Niluh. Mereka menghadirkan makna-makna baru dari olah kreatif mereka akan keberadaan keseharian yang hadir menjadi karya mendukung kesadaran wacana membangun lingkungan Bali yang sehat dan nyaman. 

Selanjutnya, I Made Somadita menghadirkan karya seni tiga dimensi dengan media kayu temuan dari laut, kayu bekas bangunan, dan paku-paku yang diberikan sentuhan warna serta lukisan mahluk-mahluk berkaki tujuh. Pesan yang ingin disampaikan tidak lain bahwa keindahan dapat dibentuk meski pun di antara sampah.

A.A. Putu Oka Astika menampilkan karya-karya yang sarat pemanfaatan media-media campuran berupa plastik, tikar, triplek, tempeh. Karyanya seakan menampilkan potongan lapisan bumi berupa sawah dengan tanaman padi dan lapisan tanah yang memperlihatkan penampang yang sarat akan konsisi dan makna.

Kolaborasi I Made Bakti Wiyasa dan I Putu Bagus Sastra juga menghadirkan karya seni instalasi berjudul “Laut, Gunung, Danau, Sungai adalah Kita”. Karya ini berbahan botol plastik daur ulang dengan teknik paper mache, kemudian diwarnai dengan cat akrilik, sehingga menghadirkan wujud ikan-ikan sebagai simbol kondisi lingkungan yang sehat akan menjaga  dan menjamin keberlangsungan kehidupan isi dari laut, gunung, danau, sungai dan keberlangsungan hidup sehat di alam.

“Bagus Sastra mengumpukan botol-botol plastik di atas kayu 2021 dari lingkungan disekitar di Denpasar dan di desanya di Pohmanis, Tabanan,” pungkas Bakti Wiyasa. jpd


Related Stories