Feature
Tips Aman Hindari Gagal Bayar Saat Kredit Macet Meningkat
JAKARTA - Pertumbuhan kredit perbankan nasional mulai melambat seiring naiknya risiko dalam penyaluran pembiayaan. Kondisi ini membuat bank semakin berhati-hati dan memperketat seleksi kredit, menyusul meningkatnya potensi kredit bermasalah dalam beberapa bulan terakhir.
Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah rasio Loan at Risk (LaR) yang terus mengalami kenaikan sejak akhir 2025. Data menunjukkan bahwa LaR perbankan pada Februari 2026 mencapai 9,24%, meningkat dibandingkan 9,01% pada Januari 2026 dan 8,77% pada Desember 2025.
Loan at Risk merupakan indikator yang menggambarkan porsi kredit yang berpotensi mengalami penurunan kualitas, termasuk kredit dalam perhatian khusus hingga kredit bermasalah. Kenaikan rasio ini menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap kemampuan pembayaran debitur mulai meningkat.
Analis dari Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) menilai kenaikan risiko kredit tersebut dipicu oleh beberapa faktor ekonomi domestik yang masih menghadapi tekanan.
- Pertama, daya beli masyarakat yang melemah. Kondisi ini membuat sebagian rumah tangga dan pelaku usaha mengalami penurunan pendapatan sehingga kemampuan membayar cicilan menjadi lebih terbatas.
- Kedua, likuiditas debitur yang semakin tertekan. Banyak pelaku usaha, khususnya di sektor perdagangan kecil, menghadapi arus kas yang tidak stabil akibat penurunan permintaan.
- Ketiga, tingkat suku bunga yang masih relatif tinggi dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Beban bunga kredit yang lebih mahal membuat cicilan meningkat dan memperbesar risiko keterlambatan pembayaran.
Hal yang Perlu Dilakukan Sebelum Mengajukan Pinjaman
Di tengah meningkatnya risiko kredit, masyarakat dan pelaku usaha perlu lebih berhati-hati sebelum memutuskan mengambil pinjaman. Beberapa langkah penting dapat dilakukan agar terhindar dari potensi kredit macet.
1. Menghitung kemampuan membayar cicilan
Bukan sekadar kira-kira, tapi harus dihitung jelas:
- Gunakan patokan Debt Service Ratio (DSR):
- Ideal: ≤30% dari penghasilan
- Maksimal toleransi: 35%
- Contoh:
- Gaji Rp6 juta → cicilan aman: Rp1,8–2,1 juta
- Jangan lupa:
- Hitung semua cicilan (KPR, motor, paylater, kartu kredit)
- Sisakan ruang untuk kebutuhan hidup & tabungan
Tips : Kalau penghasilan tidak tetap (freelance/usaha), pakai rata-rata penghasilan terendah 6 bulan terakhir.
Baca juga : Update Harga Sembako di Jakarta Hari Ini,10 April 2026
- Harga Emas Antam Naik Tipis Jelang Akhir Pekan
- Indeks LQ45 Dibuka Naik Hampir 1 Persen, BREN Jadi Katalis
2. Menyusun perencanaan keuangan
Ini penting terutama buat pelaku usaha:
- Buat cash flow projection minimal 6–12 bulan ke depan:
- Pendapatan (optimis vs realistis)
- Biaya operasional
- Cicilan utang
- Siapkan skenario:
- Normal → bisnis stabil
- Pesimis → omzet turun 20–30%
- Hindari:
- Mengandalkan “harapannya nanti naik”
- Overestimate pendapatan
Tips: Pakai prinsip: kalau kondisi buruk masih bisa bayar cicilan → baru aman ambil kredit
Baca juga : Bank Indonesia Tahan BI Rate, Apa Dampaknya ke Rupiah dan Kredit?
3. Memiliki dana darurat
Ini sering diremehkan padahal krusial:
- Minimal:
- Karyawan: 3–6 bulan pengeluaran
- Wirausaha: 6–12 bulan (karena lebih fluktuatif)
- Simpan di instrumen likuid:
- Tabungan
- Deposito
- Reksa dana pasar uang
- Fungsi dana darurat:
- Menutup cicilan saat:
- Pendapatan turun
- Bisnis sepi
- PHK / force majeure
- Tanpa dana darurat = risiko gagal bayar langsung tinggi
4. Memilih jenis kredit sesuai kebutuhan
Bedakan dengan jelas:
- Kredit produktif (lebih disarankan)
- Modal usaha
- Investasi alat/mesin
- Pendidikan (upgrade skill)
- Ada potensi menghasilkan cash flow tambahan
- Kredit konsumtif (harus hati-hati)
- Gadget
- liburan
- gaya hidup
- Tidak menghasilkan uang → hanya menambah beban
Tips penting:
- Kalau ambil kredit konsumtif:
- Pastikan bukan untuk menutup gaya hidup yang tidak mampu
- Hindari “cicilan menumpuk kecil-kecil” (paylater, dll)
Baca juga : Rapor Pembiayaan Hijau BRI, Sentuh 60,5% dari Total Kredit
5. Memahami seluruh ketentuan pinjaman
Jangan cuma lihat “cicilan per bulan” — ini yang sering menjebak:
Hal yang wajib dicek:
- Suku bunga
- Flat vs efektif (efektif biasanya lebih mahal secara total)
- Biaya tambahan
- Admin
- Provisi
- Asuransi
- Tenor (jangka waktu)
- Makin panjang → cicilan kecil tapi total bunga besar
- Denda & penalti
- Telat bayar
- Pelunasan dipercepat
- Contoh jebakan umum, cicilan terlihat ringan, tapi:
- Tenor panjang
- Total bayar jadi jauh lebih besar dari pokok pinjaman
Perbankan Perlu Perkuat Manajemen Risiko
Selain kehati-hatian dari sisi debitur, sektor perbankan juga perlu memperkuat manajemen risiko untuk menjaga stabilitas sistem keuangan.
Langkah yang dapat dilakukan antara lain memperketat analisis kredit, memperluas pemantauan terhadap sektor usaha yang rentan, serta meningkatkan restrukturisasi bagi debitur yang mengalami kesulitan pembayaran.
Jika tren peningkatan Loan at Risk terus berlanjut, perbankan diperkirakan akan semakin selektif dalam menyalurkan kredit, khususnya pada sektor yang memiliki volatilitas tinggi.
Bagi masyarakat dan pelaku usaha, kondisi ini menjadi pengingat bahwa keputusan mengambil pinjaman harus didasarkan pada perencanaan keuangan yang matang agar tidak terjebak dalam risiko kredit macet.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 18 Apr 2026
