Feature
Ternyata Ini Alasan Investor Global Tertarik Bangun Data Center di Indonesia
JAKARTA – Industri pusat data (data center) di Indonesia sedang mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Kondisi ini didorong oleh meningkatnya penggunaan internet, semakin luasnya penerapan cloud computing, perkembangan kecerdasan buatan (AI), serta percepatan transformasi digital di berbagai sektor ekonomi.
Data dari Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) menunjukkan, kapasitas terpasang pusat data di Indonesia diperkirakan telah mencapai sekitar 520 megawatt (MW) pada pertengahan 2026. Angka tersebut diproyeksikan terus bertambah hingga mencapai sekitar 600 MW pada akhir 2026.
Sejumlah proyeksi bahkan memperkirakan kapasitas pusat data Indonesia dapat mencapai lebih dari 1 gigawatt (GW) dalam beberapa tahun mendatang. Pemerintah juga memperkirakan kebutuhan kapasitas pusat data nasional dalam dua tahun ke depan dapat mencapai sekitar 1,5 GW hingga 2 GW.
Besarnya kebutuhan tersebut menjadikan Indonesia salah satu pasar pusat data paling menarik di kawasan Asia Tenggara. Pertumbuhan ekonomi digital, penggunaan layanan berbasis cloud, serta kebutuhan komputasi AI menjadi tiga faktor utama yang mendorong investasi di sektor ini.
BACA JUGA: 5 Dampak Pembangunan Data Center untuk Warga di Sekitar, Kualitas Air Merosot!
Seberapa Besar Pasar Data Center Indonesia?
Pasar pusat data Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan penyimpanan dan pemrosesan data.
Menurut Mordor Intelligence, nilai pasar data center Indonesia diperkirakan mencapai sekitar US$1,61 miliar pada 2025 dan meningkat menjadi sekitar US$1,83 miliar pada 2026. Nilai tersebut diproyeksikan mencapai US$3,48 miliar pada 2031, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan atau CAGR sekitar 13,71%.
Sementara itu, proyeksi Statista menunjukkan angka yang lebih agresif. Nilai pasar data center Indonesia diperkirakan mencapai sekitar US$2,52 miliar pada 2025 dan berpotensi meningkat menjadi US$5,82 miliar pada 2030.
Perbedaan angka tersebut terjadi karena masing-masing lembaga menggunakan metodologi dan cakupan pasar yang berbeda. Namun, keduanya menunjukkan tren yang sama, yakni pasar pusat data Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar.
Ada sejumlah faktor yang membuat kebutuhan pusat data Indonesia meningkat dengan cepat,
1. Jumlah pengguna internet sangat besar
Indonesia merupakan salah satu pasar digital terbesar di Asia Tenggara. Jumlah koneksi internet bahkan telah melampaui jumlah penduduk karena satu orang dapat memiliki lebih dari satu perangkat atau koneksi. Besarnya aktivitas digital tersebut menciptakan kebutuhan terhadap infrastruktur untuk menyimpan, memproses, dan mendistribusikan data.
Semakin banyak masyarakat menggunakan e-commerce, media sosial, layanan perbankan digital, streaming, gim, hingga aplikasi berbasis AI, semakin besar pula kebutuhan kapasitas pusat data.
2. Adopsi cloud computing meningkat
Perusahaan kini semakin banyak memindahkan sistem teknologi informasi dari infrastruktur sendiri menuju layanan cloud. Layanan cloud computing membutuhkan infrastruktur pusat data dalam skala besar. Karena itu, pertumbuhan komputasi awan menjadi salah satu pendorong utama pembangunan fasilitas hyperscale data center di Indonesia.
Kehadiran perusahaan teknologi global seperti AWS, Google Cloud, dan Microsoft juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pasar penting untuk infrastruktur cloud di Asia Tenggara.
Baca juga : Saham Gocap Bisa Melorot jadi Rp1, Simak Risiko bagi Investor
3. AI membutuhkan kapasitas komputasi yang jauh lebih besar
Perkembangan kecerdasan buatan menjadi katalis baru bagi industri pusat data. Model AI membutuhkan kapasitas komputasi dan energi yang lebih besar dibandingkan layanan digital konvensional. Kebutuhan tersebut semakin meningkat seiring berkembangnya AI generatif dan layanan inferensi AI secara real-time.
Proyeksi kebutuhan kapasitas pusat data untuk AI juga menunjukkan peningkatan signifikan. Kapasitas yang sebelumnya sekitar 202 MW pada 2024 diperkirakan dapat meningkat menjadi sekitar 743 MW dalam beberapa tahun ke depan.
Artinya, pertumbuhan AI tidak hanya menciptakan kebutuhan terhadap perangkat lunak dan chip, tetapi juga terhadap listrik, jaringan, pendinginan, lahan, dan pusat data.
4. Ekonomi digital Indonesia terus berkembang
Transformasi digital terjadi hampir di seluruh sektor ekonomi. Perbankan membutuhkan pusat data untuk layanan digital dan transaksi elektronik. E-commerce membutuhkan infrastruktur untuk memproses transaksi dan menyimpan data konsumen. Pemerintah membutuhkan pusat data untuk layanan e-government, sedangkan perusahaan membutuhkan infrastruktur untuk analitik data dan keamanan siber.
Besarnya ekonomi digital Indonesia menjadi salah satu alasan investor global membidik pembangunan pusat data di dalam negeri.
5. Hyperscaler global mulai memperkuat Indonesia
Kehadiran perusahaan teknologi global menjadi indikator penting besarnya potensi pasar Indonesia.
AWS, Google Cloud, dan Microsoft telah membangun atau mengembangkan infrastruktur cloud region di Indonesia. Kehadiran pemain global tersebut menciptakan permintaan terhadap fasilitas pusat data dengan standar tinggi dan kapasitas besar.
Di sisi lain, kerja sama antara Indosat dan NVIDIA juga memperkuat ekosistem AI Indonesia. Indosat sebelumnya mengumumkan investasi sekitar US$250 juta untuk pengembangan infrastruktur AI.
Mengapa Investor Global Tertarik Bangun Data Center di Indonesia?
Indonesia memiliki sejumlah keunggulan sebagai lokasi pusat data di kawasan Asia Tenggara.
Pertama, Indonesia memiliki pasar digital yang sangat besar. Kedua, posisi geografis Indonesia strategis karena berada di jalur ekonomi Asia. Ketiga, biaya operasional tertentu masih relatif kompetitif dibandingkan sejumlah pusat data regional.
Indonesia juga memiliki kebutuhan domestik yang besar sehingga operator tidak hanya bergantung pada permintaan dari pasar luar negeri.
Kombinasi antara populasi besar, ekonomi digital, kebutuhan cloud, AI, serta investasi teknologi global membuat Indonesia berpotensi menjadi salah satu pusat data utama ASEAN.
Potensi tersebut telah menarik investasi dalam skala miliaran dolar. Salah satu investasi besar datang dari EDGNEX, perusahaan asal Dubai, yang berencana mengembangkan pusat data dengan nilai investasi sekitar US$2,3 miliar di Indonesia.
Baca juga : Terjerat Transfer Pricing, Bagaimana Nasib Saham Toba Pulp (INRU)?
Sementara itu, Princeton Digital Group (PDG) mengembangkan kampus hyperscale berkapasitas hingga 120 MW di kawasan Jakarta Raya dengan nilai investasi sekitar US$1 miliar.
Operator lokal DCI Indonesia juga terus memperluas kapasitasnya. Perusahaan tersebut menggalang pendanaan sekitar US$980 juta untuk mendukung ekspansi pusat data.
Di Batam, pengembangan DayOne Nongsa Digital Park juga mendapat dukungan pembiayaan sekitar Rp6,7 triliun untuk pengembangan kapasitas hingga 72 MW.
Besarnya nilai investasi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan pusat data bukan lagi sekadar bisnis infrastruktur teknologi, tetapi telah menjadi bagian dari investasi strategis dalam ekonomi digital Indonesia.
Selain Jakarta dan kawasan Jabodetabek, Batam menjadi salah satu lokasi yang semakin penting bagi industri pusat data Indonesia.
Letaknya yang dekat dengan Singapura menjadi salah satu keunggulan utama Batam. Singapura sendiri merupakan salah satu pusat data terbesar di Asia, tetapi menghadapi keterbatasan lahan dan energi.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi Batam untuk menjadi alternatif lokasi pusat data regional.
Pengembangan Nongsa Digital Park menjadi salah satu contoh bagaimana Batam diarahkan sebagai kawasan ekonomi digital yang terhubung dengan ekosistem teknologi Singapura.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 09 Sep 2026
