Terkesan Sepele, Ini Arti Penting Photocard Bagi Fans K-Pop

Terkesan Sepele, Ini Arti Penting Photocard Bagi Fans K-Pop (TrenAsia/Distika)

JAKARTA – Pernahkah kamu melihat seseorang berjalan di kampus, kafe, atau tempat umum lainnya sambil membawa foto kecil idol K-pop yang digantung di ransel atau tas mereka?

Biasanya, foto tersebut berukuran kecil seperti kartu debit, disimpan dalam pelindung plastik bening, lalu dihias dengan stiker, gantungan kunci, atau pita. Tak jarang, benda kecil itu dirawat dengan sangat hati-hati seolah memiliki nilai yang begitu istimewa.

Melansir Daily Sundial, bagi mereka yang tidak familiar dengan dunia K-pop, benda tersebut mungkin tampak seperti aksesori biasa. Namun bagi para penggemar, foto kecil itu menyimpan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar gambar.

Baca Juga: Indonesia Menjadi Salah Satu Pasar Terbesar K-Pop

Photocard adalah kartu koleksi yang biasanya disertakan secara acak dalam album dan merchandise K-pop. Photocard pertama kali muncul di dunia K-pop pada tahun 2010, ketika Girls’ Generation menyertakan kartu anggota secara acak dalam album mereka “Oh!”. Awalnya hanya sebagai bonus kecil, photocard kemudian menjadi ciri khas dari merchandise K-pop.

Berbeda dengan album barat yang biasanya hanya menyertakan CD, photocard membawa unsur kejutan, penggemar tidak tahu anggota siapa yang akan mereka dapatkan sampai album dibuka.

Ketidakpastian ini mendorong penggemar untuk menukar, mengoleksi, dan membeli album berulang kali, sehingga photocards berubah dari sekadar foto di atas karton menjadi barang koleksi yang sangat dicari.

Tren ini mencerminkan praktik sebelumnya dalam fandom idol Jepang, di mana barang koleksi dan acara penggemar mendorong para pendukung untuk lebih terlibat dengan idol mereka, dikenal sebagai oshikatsu, “oshi” berarti favorit dan “katsu” berarti aktivitas.

BACA JUGA: 5 Rekomendasi Ide Bisnis Cocok untuk Fans Anime, Cuan Melimpah!

Oshikatsu adalah istilah umum untuk berbagai kegiatan penggemar dalam mendukung idol favorit mereka, baik melalui pembelian merchandise, menghadiri konser, maupun menampilkan barang terkait idol depan umum.

Dalam budaya K-pop, mengoleksi photocard menjadi salah satu bentuk yang paling mudah diakses dan terlihat, memungkinkan penggemar mengekspresikan rasa cinta dan dedikasi mereka melalui benda kecil yang bisa dibawa kemana-mana. Dedikasi ini biasanya terfokus pada bias mereka, yaitu idol favorit dalam grup K-pop tertentu.

Pada grup yang besar, peluang mendapatkan photocard anggota tertentu jauh lebih kecil, sehingga sulit bagi penggemar untuk memperoleh bias hanya melalui pembelian album. Akibatnya, bias menjadi pusat perhatian, dengan banyak penggemar menghabiskan waktu dan uang untuk mendapatkan kartu idol tertentu daripada mengoleksi semua anggota secara merata.

Ketika album tidak menghasilkan member yang diinginkan, penggemar biasanya melakukan pertukaran, membeli secara terpisah, atau ikut group order untuk melengkapi koleksi mereka.

Ashton Miller mahasiswa junior di CSUN, yang bias-nya adalah Felix Stray Kids, memiliki photocards dari berbagai grup, tetapi koleksi Felix miliknya benar-benar istimewa. “Ada bagian kecil di kamarku yang khusus hanya untuk Felix,” kata Miller.

Dia bahkan punya binder sendiri. Miller memperkirakan binder itu berisi sekitar 60 photocard Felix. Menurutnya, fokus pada satu anggota adalah pilihan pribadi sekaligus praktis.

“Jika saya mau mengeluarkan uang untuk hobi ini, saya akan menaruhnya untuk bias utama saya saja,” ujarnya.

Alih-alih mengandalkan keberuntungan dari album, Miller membeli photocard secara langsung melalui pesanan Instagram, layanan proxy Jepang, dan platform jual-beli ulang, sehingga ia bisa mendapatkan kartu tertentu yang diinginkan.

Seiring para kolektor menjadi lebih selektif dalam memilih photocards yang mereka incar, harga menjadi faktor penting dalam hobi ini. Tidak semua photocard memiliki nilai yang sama, dan beberapa faktor bisa membuat harganya naik.

Detail visual, seperti properti termasuk makanan, boneka, atau aksesoris sering membuat photocard tertentu lebih diminati. Edisi terbatas, keuntungan pre-order eksklusif, dan album dari era lama juga bisa meningkatkan permintaan.

Salah satu faktor yang paling sering diperbincangkan dalam penentuan harga photocard adalah yang disebut penggemar sebagai “member pricing.” Member pricing terjadi ketika photocard dari idol yang lebih populer dijual dengan harga lebih tinggi dibanding anggota lain dalam grup yang sama.

Miller mengalami hal ini secara langsung saat mengoleksi Felix. Ia menjelaskan bahwa harga bisa berbeda-beda tergantung platform, dengan platform jual-beli ulang seperti Mercari cenderung lebih mencerminkan popularitas. Akibatnya, kolektor seringkali harus menyeimbangkan dedikasi mereka terhadap bias dengan kondisi finansial mereka.

Photocard Stray Kids (obs.line-scdn.net)

Dampak member pricing tidak terbatas pada satu fandom atau platform. Kevelin Barcenas, mahasiswa di CSUN, menghadapi tantangan serupa saat mengoleksi photocard V BTS, salah satu idol paling populer di industri K-pop.

Barcenas menjelaskan mengoleksi bisa sulit ketika popularitas mendorong permintaan dan harga naik. Karena itu, ia sering mengandalkan group order, yang memungkinkan penggemar mendapatkan anggota tertentu sesuai ketersediaan saat membeli album dalam jumlah banyak.

Bertukar dan melihat photocard memberi kesempatan bagi penggemar untuk terhubung satu sama lain, terutama di ruang bersama seperti acara penggemar. Barcenas menjelaskan berinteraksi dengan kolektor lain mengubah cara dia menekuni hobi ini.

Penyelenggara acara mendorong peserta untuk membawa binder photocard mereka sendiri untuk dibagikan, yang membuatnya semakin tertarik.

“Melihat photocard secara langsung, kita bisa melihat bagaimana mereka berpakaian, gaya rambut mereka, dan semuanya,” ujarnya.

Melalui interaksi semacam ini, photocard bisa menjadi lebih dari sekadar barang koleksi, membantu penggemar saling mengenal dan terhubung. Bagi beberapa kolektor, membawa photocard di tempat umum juga menjadi cara untuk menunjukkan kecintaan mereka pada idol dan eksistensi mereka dalam fandom.

Mari-al Igama, mahasiswa di CSUN, mengatakan ia senang memajang photocard di tasnya menggunakan tempat berbahan rajutan atau boneka kecil. “Saya suka menampilkan hobi saya sendiri,” katanya.

Igama mengatakan bahwa visibilitas hobinya mengarah pada hubungan yang lebih dalam dengan penggemar lain. Bersama teman yang memiliki bias sama, sensasi mengoleksi menjadi lebih menyenangkan, baik saat menemukan photocard langka maupun yang selama ini dicari.

“Kami sama-sama merasa sangat senang,” kata Igama. “Tidak ada yang salah dengan menemukan kebahagiaan dari mengoleksi sesuatu.”

Dilansir dari Aladdin Print, meskipun banyak penggemar mengoleksi photocard karena kecintaan murni pada idola mereka, yang lain menyadari potensinya sebagai investasi. Photocard langka dan banyak dicari dapat dijual dengan harga yang signifikan di pasar sekunder.

Aspek investasi ini menambah motivasi bagi penggemar untuk mengoleksi dan menyimpan photocard mereka dengan hati-hati. Nilai kartu yang berfluktuasi ini dapat membuat kegiatan mengoleksi terasa seperti berpartisipasi dalam pasar yang dinamis, di mana tren dan permintaan dapat berubah dengan cepat

Bagi penggemar lama, photocard dapat memiliki nilai sentimental yang signifikan. Photocard sering berfungsi sebagai kenang-kenangan momen spesial, seperti konser, pertemuan penggemar, atau comeback.

Keterikatan emosional pada kartu-kartu ini bisa sangat mendalam, karena melambangkan kenangan berharga dan tonggak penting dalam perjalanan seorang penggemar bersama grup favorit mereka. Nostalgia inilah yang membuat photocard menjadi tak ternilai harganya, melampaui nilai moneternya.

Jadi, jika kamu melihat sebuah photocard tergantung di tas seseorang saat mereka di jalan, itu mungkin bukan sekadar hiasan, tapi cara kecil yang bermakna untuk menunjukkan cinta pada idol favorit mereka sekaligus berbagi minat pribadi dengan dunia.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Distika Safara Setianda pada 22 Feb 2026 

Editor: Redaksi

Related Stories