Tak Hanya Plastik, Harga Bahan Bangunan di Soloraya Ikut Naik

Tak Hanya Plastik, Harga Bahan Bangunan di Soloraya Ikut Naik (Shutterstock/Sweeann)

SOLO — Gejolak geopolitik global kini mulai terasa hingga ke toko-toko bahan bangunan di sekitar daerah Soloraya. Setelah sebelumnya harga plastik mengalami kenaikan, kini berbagai material konstruksi ikut terdampak. Sejumlah bahan seperti pipa PVC, thinner, galvalum, hingga besi beton dilaporkan mengalami lonjakan harga.

Pemilik toko bahan bangunan di Solo, Junianto Fajar, menyebutkan bahwa kenaikan harga terjadi di hampir semua jenis material. Meski begitu, ia menilai ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan jauh lebih tajam dibandingkan lainnya.

“Bahan bangunan naik merata. Paling tinggi pipa PVC, thinner, dan galvalum. Yang lain naik tapi tidak begitu ekstrem,” ujarnya saat dihubungi TrenAsia, Jumat, 3 April 2026. Ia merinci, harga pipa PVC melonjak sekitar 30%, thinner bahkan menyentuh 40%. Sementara galvalum naik 15%. Material lainnya tercatat naik di bawah 10%.

Kondisi serupa dirasakan di Boyolali. Hadi, pegawai sebuah toko bangunan di kabupaten tersebut terpaksa mengubah kebiasaan kerjanya lantaran daftar harga berubah terlalu cepat. “Harga sudah mulai naik, apalagi setelah perang kemarin. Hampir semua naik, saya sampai harus cek daftar harga baru. Biasanya harga di luar kepala,” ujarnya. 

BACA JUGA: Harga Plastik Dikhawatirkan Naik, Bolehkah Plastik Dipakai Ulang?

Hadi mengaku harus menjelaskan pada konsumen agar memahami perubahan harga tersebut. “Untungnya sebagian besar paham, karena mereka tahu kondisi global sekarang kan lagi enggak baik-baik saja,” kata dia. 

Tekanan tak kalah besar dirasakan para kontraktor. Tejo Asmoro, kontraktor yang kerap mengerjakan proyek di wilayah Soloraya, mencatat besi beton sudah mengalami tiga kali kenaikan dalam waktu singkat. “Pun mundhak niki mas (sudah naik ini mas). Terutama harga besi beton sudah tiga kali naik,” ujarnya.

Tejo merinci, harga besi beton terakhir merangkak naik Rp200 hingga Rp300 per kilogram dari harga sebelumnya Rp9.700 per kilogram. Sementara semen dan material alam disebutnya belum bergerak, lantaran harga BBM subsidi masih stabil. 

Namun untuk material yang bergantung pada BBM industri, kenaikan sudah terjadi menyeluruh, termasuk bata ringan. Ia menambahkan, proyek dengan sistem cost and fee relatif lebih aman karena seluruh kenaikan harga ditanggung pemilik proyek. 

Meski demikian, bagi kontraktor borongan seperti dirinya, lonjakan harga material bisa langsung menggerus margin. Oleh karena itu, Tejo mulai berancang-ancang merevisi penawaran harga agar tidak boncos. “Kebetulan kerjaan saya borongan, ini lagi pengajuan harga ulang,” kata dia. 

Sinyal dari Jakarta

Kondisi di lapangan ini sejalan dengan peringatan yang sebelumnya disampaikan Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo. Dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis, 2 April 2026, Dody menyebut eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, berpotensi mendongkrak harga material konstruksi, terutama besi dan semen.

"Sementara ini belum, tapi saya yakin pasti nanti akan ada kenaikan,” kata dia. Dody bahkan membuka kemungkinan eskalasi kontrak proyek pemerintah bila kenaikan harga material dinilai sudah signifikan. “Kalau memang harga besi terutama, atau semen itu naik tinggi, mau tidak mau kami akan melakukan eskalasi kontrak,” ucapnya.

Eskalasi kontrak merupakan mekanisme penyesuaian nilai kontrak proyek pemerintah agar pelaksanaan konstruksi tetap berjalan meski harga material melonjak. Dody menegaskan kebijakan tersebut belum diterapkan saat ini dan akan diumumkan pada waktu yang tepat. “Belum, nanti kami akan sampaikan kepada publik,” tambahnya.

Baca Juga: Material Hijau Bisa jadi Mesin Baru Industri RI

Di tengah tekanan itu, Dody mendorong percepatan adopsi Aspal Buton (Asbuton) sebagai langkah strategis mengurangi ketergantungan pada aspal impor berbasis minyak bumi. Saat ini, sekitar 80% kebutuhan aspal nasional masih dipasok dari luar negeri, dengan total kebutuhan mencapai 1 juta ton per tahun.

“Dinamika geopolitik global, termasuk di Timur Tengah, telah memicu fluktuasi harga energi. Ini risiko bagi pembangunan nasional,” ujarnya. Pemerintah memasang target penggunaan Asbuton hingga 30% dari total kebutuhan aspal nasional. 

Kebijakan ini diklaim berpotensi menghemat devisa sebesar Rp4 triliun sekaligus mendorong penerimaan pajak hingga Rp2 triliun. Lebih jauh, pengembangan industri Asbuton diyakini mampu menciptakan nilai tambah ekonomi sekitar Rp23 triliun. “Ini peluang untuk berdiri di atas kaki sendiri," kata Dody.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Chrisna Chanis Cara pada 03 Apr 2026 

Editor: Redaksi

Related Stories