Feature
Rupiah Tertekan 0,23 Persen, Berapa Rupiah Hari Ini 19 September 2026?
JAKARTA — Nilai tukar rupiah tercatat melemah 0,23% menjadi Rp17.888 per dolar AS. Pelemahan tersebut terjadi seiring dengan penguatan indeks dolar AS (DXY) serta meningkatnya perhatian pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter yang akan ditempuh The Federal Reserve (The Fed).
Sementara itu, indeks dolar AS menguat tipis 0,02% ke level 100,45. Kenaikan DXY turut memberikan tekanan terhadap sejumlah mata uang di kawasan Asia, meskipun masing-masing mata uang menunjukkan pergerakan yang berbeda.
Yen Jepang melemah 0,1%, yuan China turun 0,03%, dolar Singapura terkoreksi 0,02%, dan baht Thailand melemah 0,01%.
Sementara itu, rupee India menguat 0,06%, won Korea Selatan naik 0,97%, dan ringgit Malaysia menguat 0,01%.
BACA JUGA: Usai Purbaya Lengser, Anggaran MBG Justru 'Meledak'! Ini Rinciannya
Pernyataan Hawkish The Fed Tekan Rupiah
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih berpotensi tertekan terhadap dolar AS. Salah satu pemicunya adalah pernyataan hawkish pejabat The Fed, Austan D. Goolsbee, yang kembali meningkatkan ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan pada level tinggi.
"Yang kembali meningkatkan ekspektasi suku bunga AS akan bertahan lebih tinggi," kata Lukman.
Ekspektasi suku bunga AS yang bertahan tinggi dapat menopang daya tarik aset berbasis dolar. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor dalam menentukan penempatan dana di pasar keuangan global.
Keputusan RDG BI Jadi Perhatian
Di sisi domestik, pasar menantikan keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan pada Rabu, 23 September 2026.
Lukman menilai keputusan BI yang diperkirakan mempertahankan suku bunga dapat membatasi dukungan terhadap rupiah, terutama ketika ekspektasi suku bunga AS masih tinggi.
Keputusan BI dan sinyal kebijakan yang disampaikan dalam RDG akan menjadi perhatian pelaku pasar untuk membaca arah kebijakan moneter Indonesia di tengah tekanan eksternal.
Geopolitik dan Kebutuhan Valas Ikut Membebani
Sebelumnya, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah turut dipengaruhi kekhawatiran terhadap ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Ketidakpastian tersebut menjaga harga minyak tetap tinggi, yakni di atas US$100 per barel. Menurut Erwin, kondisi ini meningkatkan risiko inflasi global dan tekanan terhadap prospek fiskal.
Selain faktor geopolitik, tekanan rupiah juga berasal dari kebutuhan valuta asing (valas) importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik.
BI menyatakan akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan baik dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap sesuai dengan fundamentalnya.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Chrisna Chanis Cara pada 22 Sep 2026
