Home Budaya Pesan Perlawanan dal...

Pesan Perlawanan dalam Karya “Resistance” I Made Arya Palguna

Redaksi - Senin, 4 Januari 2021 pukul 20.27
Perupa Bali, I Made Arya Palguna berpose di samping karyanya yang berjudul "Resistance" Perupa Bali, I Made Arya Palguna berpose di samping karyanya yang berjudul "Resistance" (sumber: Balinesia)

DENPASAR – Perupa Bali, I Made Arya Palguna menjadi salah satu seniman yang ambil bagian dalam pameran seni rupa “Sipp Setiap Saat” di Santrian Gallery, Sanur. Salah satu karya yang ditampilkannya dalam pameran yang akan berlangsung hingga 25 Januari 2021 mendatang adalah karya tiga dimensi berjudul “Resistence”.

Saat ditemui di ruang pameran beberapa waktu lalu, perupa yang lama bermukim di Yogyakarta ini mengatakan, “Resistance” lahir dari angan perlawanannya terhadap kondisi dunia yang diubah paksa pandemi Covid-19. Selama pendemi Covid-19 menyebar hampir setahun ke belakang, ruang gerak manusia terbatas.

Gambaran fenomena sosial itu kemudian ditangkap dan divisualkan dengan menjadikan keramik sebagai media utama. Keramik-keramik itu kemudian disimpan dalam sebuah peti kayu tua dengan alas pasir pantai.

“Resistance merupakan simbol psikologi kita dalam menghadapi pandemi Covid-19. Dasarnya sengaja saya gunakan pasir pantai sebagai simbol bahwa hanya pasir yang bisa bertahan dari paparan gelombang laut yang dalam hal ini menyimbolkan pandemi,” kata Palguna.

Keramik tersebut ada yang berbentuk teko, mug, piring, dan keramik bundar yang mirip mata. Keramik-keramik itu masing-masing membawa pesan tentang kondisi akibat pandemi. Teko yang dirangkai dengan piring dan gelas digambar sedemikian rupa, yang jika dilihat dari atas akan menyerupai monyet. Dua gelas dilukis bak wajah pria dan wanita. Sementara itu, ada tujuh keramik berukuran bulat kecil dilukis seperti mata yang melotot.

“Teko, piring, dan dua gelas minumnya yang bergambar monyet mengandung pesan bahwa pandemi telah memaksa kita mengingat ke belakang. Kita distop, proses hidup kita seakan dihentikan,” katanya.

Sepasang mug yang dilukis wajah pasangan mengindikasikan jalur komunikasi yang hanya terbatas pada keluarga kecil, sedangkan keramik bulat bergambar mata menyimbolkan aktivitas manusia yang sangat terbatas. “Aktivitas kita selama di rumah hanya merem-melek saja, seperti bola mata yang saya gambar,” katanya.

Sementara itu, kotak kayu tua yang digunakan sebagai bingkai karya tersebut adalah simbol keterbatasan ruang yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19. “Frame ini menggambarkan kondisi kita saat ini yang terkungkung dalam batasan kecil, lebih spesifik dalam lingkup keluarga atau pasangan, sehingga mengganggu psikologi kita.Tidak seperti dulu lagi. Oleh karena itu, kita harus melawan kondisi ini,” imbuhnya.

Tags: