Home Budaya Pesan Fleksibelitas ...

Pesan Fleksibelitas dalam Karya Alternatif Surya Subratha

Redaksi - Senin, 28 Desember 2020 pukul 11.19
Pameran "Membentang Ruang" persembahan Surya Subratha Pameran "Membentang Ruang" persembahan Surya Subratha (sumber: Balinesia)

GIANYAR –  Pesan fleksibelitas dan kemampuan beradaptasi disuguhkan perupa Bali, I Made Surya Subratha, dalam pameran tunggalnya yang bertajuk “Membentang Ruang”. Pameran seni dengan media alternatif itu dilangsungkan di Kulidan Kichen Space, Gianyar, 18 Desember 2020 hingga 8 Januari 2021.

Kepada Balinesia.id, Surya Subratha menjelaskan jika karya-karya yang dipamerkan dalam kesempatan tersebut merupakan hasil kreatifnya sejak akhir 2019 hingga akhir 2020. Karya-karya tersebut bermediakan kain, sebuah produk budaya yang begitu lekat dengan praktik berkebudayaan masyarakat Bali.

“Saya memilih media alternatif sebagai media karya karena menurut saya kebudayaan Bali itu, orang Bali itu, melihat karya seni tidaklah baku. Bagi orang Bali, seni itu bukan saja lukisan dibingkai. Ketika lukisan dibuka dari bingkainya akan ada kemungkinan baru, sehingga karya seni itu akan sangat terkait dengan cara penyajian,” katanya.

Cara pandang Bali melihat karya seni itu tampak begitu terang dalam praktik keagamaan masyarakat Bali. Kebudayaan Bali banyak menggunakan kain dan media alternatif lainnya dalam memutar laku hidup dan kehidupan. “Saya juga memilih warna yang didominasi warna hitam, putih, merah, dan kuning. Warna-warna ini sangat lekat dengan kebudayaan Bali, yang jadi inspirasi karya-karya ini,” terangnya.

Melalui karya-karya yang dipamerkan, Surya Subratha juga berupaya merespons pandemi Covid-19 yang telah menyebar selama setahun lamanya. Sebagaimana diktahui bersama, Covid-19 telah memaksa semua orang untuk bersifat fleksibel menghadapi segala kemungkinan hidup. Kelenturan menjadi kunci bertahan, sementara sifat kaku akan menggilas para pelakunya.

“Pandemi ini menuntut kita semua untuk beradaptasi dengan segala kondisi. Demikian juga dalam berkesenian, harus ada kompromi. Jika tidak semikian, ia akan rapuh,” ucapnya.

Secara pribadi, ia mengaku pandemi Covid-19 telah memberinya banyak kesempatan untuk belajar. Kebiasan yang selama ini telah mendarah daging harud diubah menyesuaikan kondisi. “Kita diajak belajar, dari normal kemudian berubah. Karena lebih banyak di rumah, saya jadi jadi lebih banyak mengingat kenangan masa lalu, banyak memikirkan kenanangan masa lalu yang menjadi inspirasi karya-karya ini,” katanya.

Sementara itu, dari sisi aspek kekaryaan, Kurator Pameran, Vincent Candra, dalam keterangannya menyatakan bahwa karya-karya Surya Subratha dominan menyajikan elemen rupa berupa garis yag membidang, kemudian meruang. Garis-garris tersebut hadir secara lugas, tajam, ritmis, dan cenderung spontan membentuk figus-figur naif yang khas serta dominan memenuhi gambar.

“Baginya, tidak ada bidang yang benar-benar besar, terlalu lebar, atau terlalu panjang untuk digoresi. Dengan kata lain, ruang baik dalam pengertian umum maupun sebagai salah satu unsur krusial dalam seni rupa merupakan wahana pokok dalam menumpahkan endapan kreativitasnya,” terangnya.

Sebagai tema dalam pameran tersebut, “Membentang Ruang” juga dipandang terkait dengan proses berkarya, pilihan medium, serta konsep berpikir yang sedang dikembangkan dalam periode kekaryaan akhir-akhir ini.

“Membentang berarti menampakkan, menghamparkan, membuka lebar-lebar, sementara ruang berarti ragam ruang yang terbaca dalam kekaryaan Surya, sehingga ‘Membentang Ruang’ dapat dimaknai sebagai upayanya dalam menghamparkan gagasan-gagasan eksploraif di atas bentangan kain-kain yang menyuguhkan berbagai keterbacaan ruang serta makna, baik yang secara tegas hadir sebagai susunan karya maupun yag hadir secara tidak sadar melalui pengalaman artistik dan latar belakang budaya,” jelas Vincent.