Pemahaman Bahasa Jadi Catatan Lomba Baca Puisi Anyar BBB ke-5

Penampilan Ni Putu Renaisan Andari Teja yang merupakan Juara I Wimbakara Ngwacen Puisi Bali Anyar BBB ke-5. (Balinesia.id/ist)

Denpasar, Balinesia.id – Pemahaman bahasa Bali menjadi catatan penting dewan juri Wimbakara (Lomba) Ngwacen Puisi Bali Anyar serangkaian Bulan Bahasa Bali ke-5 tahun 2023. Kondisi tersebut pada akhirnya penafsiran dan ekspresi yang keluar dari para peserta di panggung.

Dewan juri yang juga akademisi Universitas Udayana, Ketut Sudewa mengatakan secara umum penampilan 24 orang peserta dalam ajang tersebut sudah baik. Ia pun mengapresiasi para peserta dalam mengapresiasi sastra Bali anyar.

“Sayangnya beberapa anak-anak pembaca puisi tadi itu tidak memahami arti. Harusnya mereka mulai dari arti kata, baru menafsirkan lalu mengekspresikan. Ada juga yang salah baca kata-katanya. Itu menandakan bahasa Bali kurang dipahami. Tapi, dari keinginan mereka untuk ikut lomba sangat bagus dan patut diacungi jempol,” katanya usai menilai Wimbakara Ngwacen Puisi Bali Anyar di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, Selasa, 7 Februari 2023. 

Baca Juga:

Selain itu, Sudewa berharap bahwa ke depan pembinaan apresiasi sastra Bali modern harus terus digiatkan hingga ke tingkat daerah. Pemerintah dapat melibatkan para sastrawan Bali yang ada, sehingga apresiasi sastra Bali semakin hidup.

“Teman-teman sastrawan, harusnya dilibatkan di tingkat bawah. Jangan hanya membina yang sudah di atas. Teman-teman sastra Bali kan banyak sekali, mulai dari kabupaten lalu direkrut di tingkat provinsi,” katanya.

Dalam hal kekaryaan, Sudewa menilai sastra Bali anyar memiliki sisi kemenarikan. Sebab, banyak sastrawan di Bali menyisipkan unsur dialek daerahnya masing-masing dalam karya yang dihasilkan. Penggunaan bahasa daerah tersebut dapat mewarnai keberadaan sastra Bali anyar, meskipun dapat membuka jurang pemahaman bahasa tersebut.

“Beberapa dari peserta ada yang tidak tahu arti dari bahasa itu. Penyair-penyair daerah, dari kabupaten sering membuat puisi yang menyertakan dialek darahnya masing-masing, dan ini memang sangat menarik,” kata dia.

Baca Juga:

Berdasarkan penilaian dewan juri yang terdiri dari Ketut Sudewa (akademisi), Putu Supartika (sastrawan), dan I Made Sugianto (sastrawan) terhadap 24 peserta yang berpartisipasi, diputuskan tiga orang pemenang. Para menenang berasal dari tiga SMP di Denpasar, yakni  Juara I diraih oleh Ni Putu Renaisan Andari Teja yang merupakan siswi SMP N 1 Denpasar, Juara II diraih  I Made Suartama Yasa yang merupakan siswa SMPN 14 Denpasar, dan Juara III diraih I Gusti Ayu Andhini Iswari yang merupakan siswi SMPN 6 Denpasar.  jpd

Editor: E. Ariana

Related Stories