Feature
Menguak Kerajaan Bisnis Anthoni Salim: Dari Industri Makanan hingga Agribisnis
JAKARTA - Salim Group dikenal sebagai salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia dengan portofolio bisnis yang tersebar di berbagai sektor, mulai dari industri makanan dan minuman, perkebunan, ritel modern, properti, infrastruktur, pusat data (data center), hingga investasi di luar negeri.
Di bawah kepemimpinan Anthoni Salim, grup usaha ini berhasil bangkit dari dampak krisis ekonomi 1998 dan kembali menjelma sebagai salah satu kekuatan bisnis terbesar di Asia Tenggara.
Saat ini, bisnis Salim Group tidak lagi hanya mengandalkan merek-merek konsumen seperti Indomie dan Indomaret, tetapi juga memperluas bisnis ke sektor strategis bernilai tinggi seperti pusat data, jalan tol, dan pengembangan kota mandiri.
BACA JUGA: Kupas Tuntas IPO RANS: Risiko Pendapatan Turun hingga Ketergantungan Raffi
Sejarah Singkat Salim Group
Salim Group didirikan oleh Sudono Salim atau Liem Sioe Liong pada 4 Oktober 1972. Pada era Orde Baru, grup ini berkembang pesat hingga menjadi salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia dengan menguasai berbagai sektor strategis.
Namun, krisis moneter 1998 menjadi titik balik bagi perjalanan bisnis Salim Group. Akibat tekanan krisis, perusahaan harus melepas sejumlah aset unggulan, termasuk Bank Central Asia (BCA), Indocement, Indomobil, serta berbagai aset di sektor properti dan manufaktur sebagai bagian dari proses restrukturisasi.
Meski demikian, di bawah kepemimpinan Anthoni Salim, grup ini berhasil bangkit melalui strategi restrukturisasi yang komprehensif. Selain mempertahankan bisnis inti yang masih kompetitif, Salim Group juga melakukan ekspansi ke berbagai sektor baru yang memiliki prospek pertumbuhan tinggi.
Berkat langkah tersebut, Salim Group kini kembali dikenal sebagai salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia dengan portofolio bisnis yang sangat terdiversifikasi, mencakup sektor pangan, ritel, perkebunan, infrastruktur, telekomunikasi, kesehatan, hingga investasi digital.
Baca juga : Saham Big Banks Tertekan, Smart Money Mulai Masuk?
Struktur Bisnis Salim Group
Saat ini, Salim Group merupakan salah satu konglomerasi dengan diversifikasi bisnis paling luas di Indonesia. Portofolionya mencakup industri makanan dan minuman, agribisnis, ritel modern, properti, infrastruktur, data center, energi, hingga perbankan.
Industri Makanan dan Minuman (FMCG)
Bisnis makanan dan minuman merupakan tulang punggung Salim Group sekaligus kontributor pendapatan terbesar. Pilar utamanya adalah PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dengan anak usaha PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).
Melalui kedua perusahaan tersebut, Salim Group memproduksi berbagai merek yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, seperti Indomie, Pop Mie, Chitato, Qtela, Indomilk, Club, dan Promina. Grup ini juga memiliki sejumlah anak perusahaan penting, di antaranya PT Indolakto, PT Indofood Asahi Sukses Beverage, serta Bogasari Flour Mills.
Bogasari merupakan produsen tepung terigu terbesar di Indonesia dan menjadi pemasok utama kebutuhan tepung bagi industri makanan nasional.
Agribisnis dan Perkebunan
Selain pangan, Salim Group juga merupakan pemain besar di industri kelapa sawit melalui PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) dan anak usahanya PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP).
Kegiatan usahanya meliputi perkebunan kelapa sawit, karet, tebu, produksi minyak goreng, hingga gula. Produk-produknya dipasarkan melalui berbagai merek, seperti Bimoli, Delima, dan Happy. Prospek bisnis ini dinilai masih positif seiring implementasi program biodiesel pemerintah yang meningkatkan permintaan minyak sawit.
Ritel Modern
Di sektor ritel, Salim Group menjadi salah satu pemilik jaringan minimarket terbesar di Indonesia melalui PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) dan anak usahanya PT Indomarco Prismatama, pengelola Indomaret.
Saat ini jaringan Indomaret telah memiliki lebih dari 22.000 gerai di seluruh Indonesia. Selain itu, DNET juga memiliki investasi di FiberStar, PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) selaku produsen Sari Roti, serta PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) yang mengoperasikan restoran KFC di Indonesia. Kinerja ritel dinilai relatif stabil karena didukung konsumsi domestik yang besar.
Properti
Dalam beberapa tahun terakhir, Salim Group semakin agresif mengembangkan bisnis properti, terutama melalui proyek Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 bersama Agung Sedayu Group.
Pengembangan dilakukan melalui PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) dan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK). CBDK resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada Januari 2025 dan mengembangkan kawasan Nusantara International Convention Exhibition (NICE) yang diproyeksikan menjadi pusat konvensi berskala internasional.
Infrastruktur
Di sektor infrastruktur, Salim Group tetap aktif meskipun PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) telah delisting dari Bursa Efek Indonesia.
Salah satu proyek strategisnya adalah pembangunan Jalan Tol JORR-E dengan nilai investasi sekitar Rp21 triliun. Bisnis jalan tol dipandang sebagai sumber pendapatan berulang (recurring income) yang mampu memberikan arus kas stabil dalam jangka panjang.
Data Center dan Teknologi
Data center menjadi salah satu lini bisnis dengan pertumbuhan tercepat. Salim Group memiliki PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang mengoperasikan pusat data berstandar Tier IV dengan pelanggan hyperscale, layanan cloud, serta infrastruktur yang mendukung perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Ekspansi tidak hanya dilakukan di Indonesia, tetapi juga ke Filipina melalui jaringan bisnis First Pacific, sehingga memperkuat posisi grup di industri infrastruktur digital Asia Tenggara.
Energi dan Pertambangan
Salim Group juga memiliki eksposur terhadap sektor energi dan pertambangan melalui sejumlah investasi strategis. Beberapa perusahaan yang memiliki hubungan kepemilikan tidak langsung antara lain PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC).
Perbankan
Setelah melepas Bank Central Asia (BCA) saat restrukturisasi pascakrisis 1998, Salim Group kembali masuk ke sektor perbankan melalui PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA). Bank ini berperan mendukung kebutuhan pembiayaan internal grup sekaligus berbagai proyek bisnis, khususnya di sektor properti.
Baca juga : 16 Saham Bagi Dividen Juli 2026! Cek Jadwal dan Kinerjanya
Emiten Salim Group di Bursa Efek Indonesia
Hingga saat ini, sejumlah perusahaan yang terafiliasi dengan Salim Group telah tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), meliputi:
- INDF – PT Indofood Sukses Makmur Tbk (FMCG)
- ICBP – PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (Produk Konsumen)
- SIMP – PT Salim Ivomas Pratama Tbk (Kelapa Sawit)
- LSIP – PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (Perkebunan)
- DNET – PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (Investasi dan Ritel)
- ROTI – PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (Industri Roti)
- FAST – PT Fast Food Indonesia Tbk (Restoran)
- DCII – PT DCI Indonesia Tbk (Data Center)
- BINA – PT Bank Ina Perdana Tbk (Perbankan)
- PANI – PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (Properti)
- CBDK – PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (Properti)
Selain emiten-emiten tersebut, Salim Group juga memiliki investasi strategis pada PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melalui struktur kepemilikan yang tidak bersifat langsung.
Struktur Kendali Salim Group
Berbeda dengan sejumlah konglomerasi lain yang memiliki satu holding publik sebagai induk seluruh bisnisnya, Salim Group menggunakan struktur kepemilikan berlapis.
Pengendalian dilakukan melalui berbagai perusahaan investasi, termasuk First Pacific Company Limited, perusahaan investasi milik keluarga Anthoni Salim, serta sejumlah holding di Indonesia. Struktur ini memungkinkan grup mengendalikan berbagai perusahaan publik di Indonesia maupun Filipina.
Kekuatan utama Salim Group berasal dari diversifikasi bisnis. Pendapatannya tidak hanya bergantung pada satu sektor, tetapi berasal dari penjualan makanan dan minuman, jaringan ritel, minyak goreng, perkebunan, data center, properti, jalan tol, hingga investasi strategis.
Diversifikasi tersebut membuat grup relatif lebih tahan menghadapi perlambatan ekonomi dibanding perusahaan yang hanya bergantung pada satu industri.
Berdasarkan daftar miliarder dunia Forbes, kekayaan Anthoni Salim pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar US$13,6 miliar atau setara sekitar Rp220 triliun dengan asumsi kurs Rp16.200 per dolar AS.
Peningkatan kekayaan tersebut didorong oleh kenaikan valuasi DCII, penguatan saham PANI, pertumbuhan AMMN, serta kinerja bisnis Indofood yang tetap solid.
Prospek Salim Group 2025–2026
Prospek pertumbuhan grup diperkirakan masih positif. Sektor properti berpotensi tumbuh melalui pengembangan PIK 2, kawasan NICE Convention Center, dan kawasan bisnis baru yang diharapkan meningkatkan recurring income, meski tetap menghadapi risiko suku bunga tinggi dan perlambatan pasar properti.
Di sektor data center, meningkatnya kebutuhan AI, cloud computing, dan digitalisasi nasional diperkirakan menjadikan bisnis ini sebagai salah satu mesin pertumbuhan tercepat.
Sementara itu, bisnis FMCG masih ditopang konsumsi domestik yang kuat dan permintaan ekspor, meskipun menghadapi tantangan berupa fluktuasi harga gandum, nilai tukar rupiah, dan persaingan produk premium.
Pada sektor agribisnis, program biodiesel dan meningkatnya permintaan minyak sawit menjadi katalis positif. Namun, bisnis ini tetap dipengaruhi volatilitas harga komoditas global dan kebijakan ekspor pemerintah.
Sementara itu, bisnis infrastruktur diproyeksikan memperoleh manfaat dari pendapatan jalan tol jangka panjang serta pembangunan kawasan terpadu yang mendukung konektivitas PIK 2.
Di balik prospek yang positif, Salim Group tetap menghadapi sejumlah tantangan. Perubahan regulasi pemerintah, baik di sektor properti, perkebunan sawit, maupun data center, dapat memengaruhi kinerja bisnis.
Persaingan juga semakin ketat, mulai dari Indomaret yang bersaing dengan Alfamart, Indomie yang menghadapi berbagai merek baru, hingga bisnis data center yang kini diincar pemain global.
Selain itu, ekspansi besar-besaran di sektor properti, infrastruktur, dan data center membutuhkan investasi bernilai puluhan triliun rupiah, sehingga kemampuan menjaga struktur pendanaan dan arus kas akan menjadi salah satu faktor penting bagi pertumbuhan Salim Group ke depan.
Salim Group telah berevolusi dari konglomerasi yang identik dengan industri makanan menjadi kelompok usaha yang berfokus pada sektor-sektor bernilai tambah tinggi seperti data center, infrastruktur, digital, dan pengembangan kota mandiri.
Walaupun bisnis tradisional seperti Indofood, Indomaret, dan Bimoli tetap menjadi tulang punggung pendapatan, arah pertumbuhan grup kini semakin mengarah pada ekonomi digital dan aset jangka panjang yang menghasilkan pendapatan berulang.
Dengan portofolio yang mencakup FMCG, agribisnis, ritel, properti, data center, jalan tol, perbankan, hingga investasi internasional, Salim Group diperkirakan masih akan menjadi salah satu konglomerasi paling berpengaruh di Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 03 Jul 2026
