Feature
Ini Dampak Psikologis Usai Berulangnya Kasus Keracunan MBG, Jangan Diabaikan!
JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah sejumlah kasus dugaan keracunan makanan dilaporkan terjadi di berbagai daerah dalam beberapa hari terakhir.
Sedikitnya lima daerah melaporkan dugaan keracunan yang diduga berkaitan dengan pelaksanaan program MBG, yakni Sidoarjo, Nganjuk, Sleman, Solo, dan Agam. Salah satu kasus dengan jumlah terdampak terbesar terjadi di Sidoarjo, Jawa Timur, pada 1 September 2026. Berdasarkan catatan Badan Gizi Nasional (BGN), sebanyak 512 orang dari 19 lembaga pendidikan terdampak. Hingga Kamis, 3 September 2026, masih terdapat 27 pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit.
BACA JUGA: Ternyata Ini Alasan BUMN Indonesia Hobi Beranak-pinak
“Per pagi ini tercatat ada 512 pasien yang terlapor dilarikan ke RS. Pasien tidak hanya dari Ponpes Mambaul Hikam. Ada 19 lembaga yang sama-sama menerima dari SPPG Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo,” ujar wakil gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, dikutip 2 September 2026.
Kasus serupa terjadi di Nganjuk, Jawa Timur, pada 2 September 2026. Jumlah korban dilaporkan mencapai sekitar 100 orang. Kasus tersebut awalnya ditemukan pada siswa SMAN 3 Nganjuk, sebelum kemudian meluas dan turut dialami siswa sekolah dasar.
Sementara itu, di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dugaan keracunan pada 31 Agustus 2026 melibatkan 28 orang. Mereka terdiri atas 25 siswa sekolah dasar, dua siswa taman kanak-kanak, dan seorang guru. Sebagian besar korban mengalami gejala ringan, seperti pusing dan diare.
Kasus lainnya terjadi di Solo, Jawa Tengah, pada 21 Agustus 2026. Sebanyak 175 siswa SMAN 6 dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG. Gejala kesehatan pada para siswa disebut baru muncul beberapa hari setelah makanan dikonsumsi.
Selain itu, lebih dari 300 siswa dan guru di Agam, Sumatera Barat, juga dilaporkan mengalami dugaan keracunan dalam periode yang berdekatan.
Mengapa MBG Terus Memicu Masalah?
Salah satu persoalan yang disorot adalah disiplin dalam proses distribusi makanan. Berdasarkan temuan BGN terkait kasus Sidoarjo, terdapat dugaan kelalaian dalam penerapan standar operasional prosedur (SOP) distribusi. Makanan MBG seharusnya selesai didistribusikan dalam waktu maksimal empat jam sejak proses memasak.
Deputi BGN Ketut Sumedana mengatakan pelaksanaan di lapangan tidak selalu sesuai dengan ketentuan tersebut.
“Jadi seharusnya itu loading empat jam selesai dari masak langsung dibagikan, faktanya di lapangan lebih dari empat jam,” ujarnya.
Persoalan waktu menjadi penting karena makanan MBG tidak menggunakan bahan pengawet. Apabila makanan berada terlalu lama dalam kondisi yang tidak sesuai standar penyimpanan dan distribusi, risiko pertumbuhan mikroorganisme dapat meningkat.
Dengan jumlah penerima manfaat yang sangat besar, kepatuhan terhadap SOP bukan lagi persoalan administratif, tetapi menjadi bagian penting dari keselamatan penerima program.
Dampak Psikologis Keracunan Makanan pada Anak
Pengalaman sakit akibat keracunan makanan dapat meninggalkan dampak psikologis pada sebagian anak, terutama ketika kejadian berlangsung berat atau menimbulkan rasa takut yang kuat.
Salah satu studi yang relevan adalah penelitian mengenai dampak psikologis setelah wabah keracunan Escherichia coli O157:H7 di Sakai, Jepang. Penelitian tersebut menemukan adanya gejala psikososial dan stres pascatrauma pada anak-anak yang terdampak.
Studi lain yang meneliti anak dan remaja juga menunjukkan adanya hubungan antara episode gastroenteritis berulang dan masalah kesehatan mental, meski hubungan tersebut tidak berarti bahwa gastroenteritis secara langsung menyebabkan gangguan mental.
Dampak psikologis tersebut dapat muncul dalam bentuk rasa takut, kewaspadaan berlebihan, atau perilaku menghindari makanan maupun situasi yang diasosiasikan dengan pengalaman sakit.
Dalam konteks gangguan makan tertentu seperti Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID), literatur klinis juga mengenali pola penghindaran makanan yang didorong oleh ketakutan terhadap konsekuensi negatif seperti tersedak, muntah, atau kembali sakit.
Namun, seseorang yang takut makan setelah mengalami keracunan tidak serta-merta dapat disebut mengalami ARFID karena diagnosis tersebut membutuhkan kriteria klinis tertentu.
Temuan tersebut menjadi relevan dalam kasus dugaan keracunan MBG. Ketika seorang siswa mengalami sakit setelah mengonsumsi makanan yang diberikan di sekolah, pengalaman tersebut berpotensi membuat siswa menjadi lebih waspada atau takut menerima makanan yang dianggap memiliki kaitan dengan kejadian sebelumnya. Karena itu, dampak kasus keracunan tidak hanya perlu dilihat dari pemulihan fisik, tetapi juga dari kondisi psikologis siswa setelah kejadian.
Urgensi persoalan tersebut juga terlihat dari skala kejadian yang telah tercatat. Badan Gizi Nasional (BGN) melaporkan 4.711 orang terdampak kejadian luar biasa (KLB) yang berkaitan dengan program MBG hingga 22 September 2025. Angka tersebut merupakan data yang disampaikan Kepala BGN Dadan Hindayana dalam konferensi pers pada 22 September 2025.
Namun, angka 4.711 korban tidak dapat langsung diterjemahkan sebagai 4.711 anak yang mengalami trauma psikologis. Data tersebut menunjukkan skala gangguan kesehatan yang terjadi, sementara dampak psikologis perlu dinilai melalui pemeriksaan atau penelitian khusus.
Dengan demikian, persoalan keamanan pangan dalam MBG memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar memastikan siswa kembali sehat secara fisik. Rasa aman siswa terhadap makanan juga menjadi bagian penting yang perlu dipulihkan setelah terjadi dugaan keracunan.
Pendampingan psikologis dapat dipertimbangkan terutama bagi anak yang menunjukkan ketakutan berkepanjangan, menghindari makanan, mengalami gangguan tidur, atau mengalami perubahan perilaku setelah kejadian.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 03 Sep 2026
